Seorang dosen atau peneliti menulis buku sudah tentu disebut biasa. Namun seorang pegawai melakukan penelitian dan menulis buku, ini baru luar biasa. Fr. Rahayuningsih, pegawai Perpustakaan Universitas Sanata Dharma (USD),melakukan penelitian dan menuangkan hasil penelitiannya dengan menulis buku. Buku hasil karyanya tersebut diluncurkan dan dibedah di Hall D Kampus Terpadu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) pada 25 Maret 2015 dengan dihadiri sekitar 70 peserta.
Bukan tanpa alasan buku tersebut dibedah di kampus tersebut. Kepala Perpustakaan UMY, Lasa, HS., adalah sebagai bapak atau guru pembimbing Fr. Rahayuningsih. “Sebagai bagian tumbuhnya informasi dan pengetahuan, sebuah buku dapat dibedah dan dibicarakan di mana saja. Semakin sering dibicarakan atau dibedah maka secara tidak langsung akan memperkaya penulisnya, buku, dan ilmu itu sendiri.” demikian Lasa HS berujar dalam pengantarnya. Dalam acara ini beliau bersama Endang Fatmawati, Kepala Perpustakaan FEB Universitas Diponegoro menjadi narasumber pembedah buku yang berjudul lengkap “Mengukur Kepuasan Pemustaka Menggunakan Metode LibQUAL+TM..”
“Buku ini adalah buku ketiga yang mencantumkan nama saya. Buku ini berangkat dari penelitian saya pada tahun 2013 lalu semasa studi. Sebuah harapan besar menjadi penulis tunggal dibarengi hasrat yang kuat telah membawa lahirnya buku ini. Sebuah ungkapan ‘Janganlah bagai ayam mati di lumbung padi’ telah menjadi virus yang hinggap dan terbenam pada diri saya. Pada saatnya, perpustakaan merupakan lumbung pengetahuan dan ilmu. Selain itu tentu banyak orang telah memotivasi dan menginspirasi, seperti orang-orang tercinta di dekat saya dan teman seprofesi baik di USD atau di jejaring,” kata Ningsih, panggilan akrab penulis dan disambut haru oleh forum saat acara. Diketahui, Fr. Rahayuningsih telah lama berkiprah dalam Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (FPPTI DIY) dan Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) DIY dan menjadi salah satu pengurusnya beberapa waktu lalu. Diakuinya, melalui berjejaring di forum pustakawan dan seringnya berliterasi membuat ilmu dan kepustakawanannya terus berkembang. Buku ini diharapkannya dapat menjadi tambahan literatur kepustakawanan.
Di banyak bidang utamanya pelayanan ujung-ujungnya yang dibahas adalah soal kepuasan customer dan setiap pemangku jabatan atau pimpinannya tentu akan terus berpikir bagaimana menuju pelayanan yang memuaskan customer. Walaupun kepuasan bersifat relatif dan diterima berbeda satu dengan lainnya, namun demikian secara kuantitatif dan kualitatif kepuasan dapatlah diukur. Selama ini, telah banyak metode pengukuran kepuasan customer di banyak bidang. Bicara perpustakaan, istilah customer sering diartikan sebagai pengguna perpustakaan atau banyak digunakan saat ini disebut pemustaka. Berbeda dengan metode pengukuran kepuasan sebelumnya seperti ISO 11620 dan ServQual, metode LibQUAL+TM telah menggunakan 9 tingkat kepuasan dari terendah hingga tertinggi. Alhasil, gab kepuasan yang didapat lebih signifikan karena olahan statistiknya akan menampilkan hingga di titik mana kekurangan kepuasan itu terjadi. Dalam metode ini akan didapat kepuasan minimum dan ideal. Inilah hal yang dapat disasar manajemen perpustakaan guna memulai langkah lanjutan perbaikan pelayanan dan kualitasnya.
Dalam tenggang waktu mendekati tiga jam acara bedah buku ini digelar. Kedua
pembicara mengupas tuntas plus minus buku berlatar hijau ini. Mereka adalah para pelaku kepustakawanan yang sangat konsen, kompeten, dan senior. Antusiasme peserta terlihat sangat positif menyusul bedah buku ini diadakan dan khususnya untuk memahami tentang LibQUAL+TM . Dari waktu yang disediakan ternyata tak cukup menampung aspirasi peserta untuk memperjelas kegunaan metode yang dibicarakan dalam buku. Selain datang dari DIY, tampak peserta-peserta dari luar kota seperti Solo, Kudus, Semarang, dll. Seusai acara banyak peserta memberikan apresiasi kepada penulis buku. Proficiat kepada Ibu Fr. Rahayuningsih. Terus menulis dan jaga semangat. Bagimu, tak ada ayam mati di lumbung padi! (dz)




