Usia tidak menghalangi siapapun untuk terus berkarya. Semangat itulah yang ditunjukkan oleh Ki Jalu Suwangsa atau yang lebih dikenal civitas akademik Universitas Sanata Dharma (USD) dengan nama Drs. Gregorius Sukadi. Beliau adalah dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) yang kini telah purna tugas.
Meskipun telah purna tugas, semangatnya untuk berkarya tetap ada. Hampir setiap tahunnya, Ki Jalu Suwangsa selalu meluncurkan buku, baik yang berupa pantun, cerita, maupun dongeng. Karya-karyanya tersebut sangat kental dengan nilai-nilai kehidupan. Pada Jumat (20/3), Ki Jalu Suwangsa kembali meluncurkan buku yang berjudul Bangau pun Ingin Memuliakan Penciptanya -Sangkan Paraning Dumadi dan Mereka pun Ingin Memuliakan Penciptanya - Sejatine Urip Iku Apa?.
Acara peluncuran buku tersebut dilaksanakan di Ruang Seminar LPPM USD Kampus II USD Mrican pada pukul 09.00 s.d 12.00 WIB. Acara yang dikemas dalam bentuk seminar tersebut menghadirkan tiga pembicara, yaitu (1) Dr. P. Ari Subagyo, M.Hum., (2) Drs. J.B. Adimassana, M.A, dan (3) Drs. G. Sukadi alias Jalu Suwangsa. Sementara itu, Irsasri, S.Pd., M.Pd. bertindak sebagai moderator seminar.
Selaku pembicara pertama, Dr. P. Ari Subagyo, M.Hum., menghadirkan salah satu tembang Jawa yang berjudul Macan Ucul karya Ki Nartosabdo. Tembang tersebut mengisahkan tentang seekor harimau yang lepas dan membuat yang ada di sekelilingnya takut. Akan tetapi, harimau tersebut ternyata hanyalah sebuah harimau mainan. Dr. P. Ari Subagyo, M.Hum., menjelaskan meskipun lirik tembangnya berisi guyonan (lelucon) makna yang dikandung sangat dalam. “Refleksi dari tembang tersebut adalah manusia sering menjadi harimau bagi sesamanya. Tapi bisakah kita menjadi macan sing cumbu, utawa macan sing manut pawange, yaiku Gusti Allah”, tambahnya.
Seperti karya-karya sebelumnya, Ki Jalu Suwangsa masih setia menggunakan tokoh-tokoh berupa hewan di dalam karyanya. Beberapa karya yang sudah dituliskan di antaranya adalah Jangkrik Jelitheng, Katak pun Ingin Memuliakan Penciptanya, Katak pun Memilih Presiden, Belalang pun Ingin Memuliakan Penciptanya. Tokoh yang dihadirkan dalam tulisan ini adalah bangau dan katak. Secara umum, bangau adalah hewan unggas yang gemar memakan katak. Akan tetapi, di dalam karya Ki Jalu Suwangsa ini, bangau justru berguru pada katak tua lewat obrolannnya.
Senada dengan itu, Drs. J.B. Adimassana, M.A, selaku pembicara kedua juga menyampaikan bahwa dalam buku yang ditulisnya, Ki Jalu Suwangsa sering menggunakan tokoh hewan. Hal ini sebenarnya telah dilakukan oleh pujangga pada masa lalu, meskipun medianya berbeda yaitu dengan menggunakan tokoh-tokoh wayang. Artinya, baik tokoh hewan maupun wayang sama-sama digunakan sebagai media menyampaikan cerita. Selain itu, dalam sesi penyampaian materinya, Drs. J.B. Adimassana, M.A, juga menyampaikan ulasan resensi atas karya Ki Jalu Suwangsa tersebut.
Pembicara ketiga adalah Drs. G. Sukadi alias Ki Jalu Suwangsa sebagai penulis buku. Ada berbagai pertanyaan yang menggelitiknya di usianya yang tahun ini akan berusia 70 tahun. Salah satu yang menjadi pembahasan menarik dari berbagai pertanyaannya adalah tentang sangkan paraning dumadi atau asal dan tujuan jagat raya yang diulas dalam tulisannya. “Dalam tataran budi, tidak ada yang tahu tentang sangkan paraning dumadi. Ibarat orang ketika dilahirkan tidak tahu siapa ibunya yang sebenarnya. Mereka tahu siapa orang tuanya dari dokumen-dokumen keluarga. Begitu juga sang Pencipta, tidak diketahui dengan budi tetapi sungguh ada”, ujar Ki Jalu Suwangsa.
Ki Jalu Suwangsa juga menyampaikan bahwa buku yang ditulisnya tersebut jauh dari maksud mengajar atau menggurui. Tulisan tersebut tumbuh karena hasrat berbagai pengalaman rohani penulis. Bacaan berjudul Sangkan Paraning Dumadi juga dimotivasi oleh K.R.T Silvanus Soetarman dari Solo. Untuk memahami bacaan ini dengan jelas, kiranya perlu membaca tulisan-tulisan sebelumnya Katak, Belalang, dan Tikus pun Ingin Memuliakan Penciptanya. (DPTH)




