USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Seminar Program Magister IRB USD:
Mencari Jalan Komposisi Musik di Indonesia

diupdate: 12 tahun yang lalu


Program Magister Ilmu Religi dan Budaya (IRB) Universitas Sanata Dharma (USD) pada hari Jumat, 20 Maret 2015 menggelar seminar ASCOLTACI di ruang Driyarkara, Kampus II USD Mrican. Seminar ini terselenggara berkat kerjasama antara IRB USD dan Pasca Sarjana ISI dalam membangun wacana akademis yang kritis dari kalangan muda dalam membahas persoalan hidup sehari-hari yang telah membudaya. Oleh karena itu ASCOLTACI yang kelima ini membahas budaya musik terkhusus hubungan komponis dalam mengkomposisi musik. Sejauh mana dunia penciptaan komposisi musik di Indonesia telah berkembang, apakah telah mampu menghasilkan sistem musikalitas baru yang otentik, atau masih saja melanjutkan gaya lama yang diwarisi dari Barat? Dua narasumber yang diundang dalam acara ini yaitu Bapak Royke B. Koapaha (Komponis dan Dosen Pasca Sarjana ISI Yogyakarta) dan Bayu Citra Raharja (alumni jurusan Musik ISI Yogyakarta dan mahasiswa IRB USD).
Diungkapkan oleh Bapak Royke B. Koapaha sebagai pembicara pertama bahwa dari pengalaman penulis membuat komposisi dan pengamatan pada wilayah komposisi, kegiatan berkarya dapat dibagi menjadi tiga macam, yaitu lebih berorientasi pada hasil karya, lebih berorientasi pada individu, dan berorientasi pada individu sebagai bagian dari kehidupan yang lebih luas. Ciri umum dari macam yang pertama adalah komponis-komponis yang produktif dengan model karya yang relatif sama. Dari macam yang kedua adalah relative kurang produktif, tapi lebih terlihat perbedaan atau ciri khas dari masing-masing komponis. Dan dari macam yang ketiga, tidak hanya terlihat perbedaan atau ciri khas dari masing-masing komponis, bahkan tidak jarang terlihat perbedaan-perbedaan gagasan yang mencolok dan esensial antar karya-karya dari masing-masing komponis. Beliau mengamati bahwa macam orientasi dan ciri umum ini berkaitan dengan proses mereka berkarya.
Selama ini sepertinya kegiatan berkarya para komponis di Indonesia, lebih semata-mata bekerja di atas pengetahuan yang telah dimiliki saja. Hal ini tercermin dari diskusi-diskusi, synopsis karya, tulisan tentang karya atau komposisi yang cenderung mengikuti batasan aplikasi yang umum saja. Kalaupun ada kebaruan, maka kebaruan pada varian-variannya saja dan seringkali tanpa argumentasi yang kuat. “Proses penciptaan yang baru hanya melibatkan unsur esktramusikal (tema dan suasana pembawaan musik) tetapi soal gramatika musik dan modus sintetis menjadi sekedar fasilitator gagasan ekstramusikal dan bersifat otomatis tanpa dibahas secara mendalam.” demikian ungkapnya. Proses mencipta itu akumulasi dari proses berpikir, berimajinasi, dan menemukan alur dan rangkaian karya. Seorang composer musik sering kali mewakili identitas dari negaranya. Di abad 20, bagi musik di Indonesia, membuat musik atau komposisi terkesan apriori, ideologi musik dan kultur musik tidak begitu diperhitungkan, karena ada masalah pengetahuan dan masalah pada latar belakang.
Sebagai pembicara yang kedua, Bayu Citra Raharja membuat sintesa dengan judul Dilema Komposisi Musik: yang akademis atau yang otentik. Diungkapkan bahwa komposisi selalu dihubungkan dengan pengertian sebagai pekerjaan mengatur, menyusun, menata, merangkai, berbagai suara atau nada-nada yang mengacu pada lagi atau melodi dasar dalam lagu. Lalu apa   bekal dari mekanisme proses pembuatan karya ini? hal pertama yang bisa menjadi jembatan utama adalah pengetahuan dan yang kedua adalah pengalaman; pengetahuan atas sistem intra-musikal dan pengalaman mendengar, melihat, serta atas gagasan atau ide yang ingin dituangkan. Pengetahuan mencakup hal-hal yang bersangkutan dengan unsur internal musik dan di luar musik, dengan asumsi bahwa pembuat karya harus bisa paham dengan sistem music itu sendiri, seperti penguasaan nada, akord, dan bentuk musik, selain juga bahwa di luar itu music memiliki cakupan pada imajinasi tertentu yang ingin disampaikan, misalnya untuk komposisi yang bercerita. Satu titik utama dalam faktor kedua ini adalah titik dimana pengalaman mendukung creator untuk masuk pada ranah ingatan yang dapat memancing timbulnya sebuah inspirasi penciptaan karyanya.
Dalam konteks dunia komposisi hal yang terjadi adalah composer akan terjebak dalam bayangan extra-musikal karena composer sendiri kekurangan peralatan untuk membedah dan menjelaskan karyanya pada pemain dalam ruang negosiasi. Hal semacam ini pula terjadi dalam konsep penyaji dalam memainkan karya, kurangnya pemahaman mengenai teori-teori dalam ranah musical akan mengantarkan penyaji terjebak dalam romansa image tertentu. “Composer dalam menciptakan musik dipengaruhi oleh dua hal yaitu habitus dan lingkungan dari composer itu hidup (konteks). Komposisi yang autentik tampaknya tidak 100 persen bisa, tetapi pencapaian kebersetubuhan dengan karya dan jiwa composer tidak bisa lepas dari pemahaman teoritik.” demikian ungkapnya.
“Berkaitan tema, ada kegelisahan yang sangat signifikan bahwa composer atau komponis Indonesia tidak menemukan sifat musical sendiri. Bahasa musik dikuasai oleh wacana: ‘mosok kita gak bisa melahirkan sendiri?’. Mungkin geliatnya belum ada dalam ketersediaan pengetahuan akan sistem nada ataupun selera soal komposisi musik lokal.” demikian ungkap Zudi Sang, Koordinator seminar ASCOLTACI, alumni IRB angkatan 2010. (FXAP)

  kembali