Menyambut peringatan 60 tahun Universitas Sanata Dharma (USD), Campus Ministry USD pada hari Kamis (12/3) menggelar sarasehan yang berjudul Convessar Arrupe di Student Hall, Kampus I USD Mrican. Sarasehan Convessar Arrupe ini akan digelar dua bulan sekali selama satu tahun di mana di dalam sarasehan ini, Campus Ministry mencoba untuk menghadirkan para alumni USD. Sarasehan ini akan menjadi kesempatan para alumni untuk bersaksi bagaimana bergumul dan terlibat dalam masyarakat.
Dalam acara yang digelar pada Kamis (12/3) ini, Campus Ministry mengundang seorang alumni lulusan program studi sastra inggris angkatan 1998, yaitu Ishari Sahida atau akrab dipanggil mas Arie Wulu bersama dengan Romo Alb. Buddy Haryadi, SJ sebagai Kepala Pusat Studi Ignatian USD. Acara ini terbuka bagi kehadiran seluruh keluarga USD, para peserta dapat menanggapi dan berdiskusi atas sharing dari dua pembicara tersebut. Sebagai forum diskusi, sarasehan ini dikemas dengan bentuk yang informal dengan harapan para peserta tidak menjadi tegang atau takut untuk berdiskusi dan mengungkapkan pendapatnya.
Mas Ishari Sahida (Arie Wulu) sebagai pembicara pertama, menceritakan pergumulan dirinya dalam dunia seni. Beliau memadukan bunyi suara-suara gamelan ke dalam arransemen musik dengan memakai ‘sound butik’ dan menciptakan banyak lagu. Mas Arie Wulu juga sempat aktif menjadi DJ dalam dunia club malam, mengaplikasikan hasil ciptaan lagunya dengan musik elektrik. Beliau mempelajari aliran musik gamelan seperti pelog, slendro, dan sebagainya. Dan dari keaktifannya dalam dunia gamelan, beliau sering diundang penjurian festival gamelan. Secara khusus, beliau bercerita mengenai peran sertanya mengangkat kembali festival kesenian Yogyakarta yang sempat meredup karena manajemen dan administrasi yang kurang baik. Dengan kepedulian ingin mengangkat budaya seni Yogyakarta, beliau bekerjasama dengan berbagai seniman dan pemerhati seni, berusaha mengembalikan citra festival kesenian Yogyakarta agar bisa diaplikasikan dan dinikmati oleh seluruh masyarakat Yogyakarta. Dari banyak keterlibatannya dalam dunia seni, ternyata semuanya dirintis dari keaktifan beliau saat kuliah di USD.
“Saya begitu kagum melihat kampus USD saat itu hingga saat ini, karena bentuk bangunan yang romantis dan menarik dalam seni di mana Kampus 1 USD terkenal dengan sebutan Kampus Seribu Djendela. Dengan aktif berkegiatan sebagai mahasiswa fakultas Sastra dan kekaguman tersebut, saya membuat event musik dan teater yang tidak saya sangka antusiasme teman-teman begitu besar. Walaupun dengan berbagai keterbatasan, kegiatan itu dapat berjalan begitu meriah. Kemeriahan itu tidak lepas dari interaksi banyak orang yang dikenal di dalam kampus.” demikian ungkapnya. Beliau juga mengungkapkan alasan masuk program studi Sastra Inggris USD karena beliau malu ketika SMA disuruh membuat syair dalam bahasa Inggris tetapi grammar syairnya semuanya salah. Dari rasa malu yang diterimanya, dia bertekad untuk belajar bahasa Inggris.
Romo Alb. Buddy Haryadi, SJ sebagai penanggap utama dalam sarasehan tersebut mengungkapkan bahwa setiap orang mempunyai kreativitas karena mempunyai imajinasi, mempunyai pengetahuan, dan mempunyai hati. Maksudnya, dalam pendidikan Serikat Jesus khususnya dalam pengaplikasian pedagogi Ignatian di USD, wawasan diperluas dari wawasan di kepala turun ke hati dan turun ke tangan untuk bergerak. “USD tidak hanya mendidik teman-teman muda untuk menjadi mahasiwa ‘kupu-kupu’ (kuliah-pulang), tapi juga ada wawasan yang lain yang digali dan didapatkan oleh mahasiswa USD lewat kreativitas seni, olahraga, atau kegiatan apapun yang positif. Nilai itulah yang diperjuangkan, kalau hanya menjadi mahasiswa ‘kupu-kupu’, rugi.”, demikian ungkapnya. Saat menutup pembicaraan, beliau merefleksikannya dalam tayangan film yang disajikan bagi para peserta yang hadir.
Dari sarasehan tersebut dapat kita maknai bahwa kreativitas bukan muncul karena tiba-tiba tetapi karena kepedulian kepada sesama. Kreativitas itu menjadi berharga karena kreativitas itu dibagikan kepada dan untuk sesama. Kreativitas bukan sekedar rahmat yang jatuh dari Tuhan yang telah menganugerahkan, tetapi juga upaya dalam diri kita karena memiliki self-awareness. Hal ini ditunjukkan dengan bentuk kesaksian Mas Arie Wulu dengan mempopulerkan kembali festival kesenian Yogyakarta, kesenian Jathilan, kesenian Kethoprak Thobong, dan lain sebagainya. Beliau menunjukan bahwa seniman tidak hanya memikirkan hasil saja tetapi proses untuk selalu produktif. Hal tersebut ditekankan oleh Gigih Adiguna yang menjadi moderator dan pengembangan solidaritas Campus Ministry USD bahwa orang mendapatkan pengalaman yang penuh lewat pengalaman pendidikan. Bisa jadi kita sebagai keluarga USD selalu bersembunyi pada tagline cerdas dan humanis tanpa tahu apa arti dan maknanya dan bagaimana mengaplikasikannya. Melalui sarasehan ini kita kembali diingatkan untuk kembali menghidupi motto yang menjadi tagline dalam proses pendidikan kita yaitu menjadi unggul dalam kecerdasan dan unggul dalam nilai-nilai humanis. (FXAP)




