USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

MASA MUDA, MASA REFLEKTIF

diupdate: 18 tahun yang lalu

Masa muda yang selalu dianggap masa yang penuh dengan gejolak, emosi, dan reaksi spontan mungkin tidak seratus persen benar. Paling tidak itulah yang dialami para kaum muda yang tergabung dalam komunitas Magis 08 dalam kesaksiannya yang disampaikan dalam acara seminar Ignasian dengan tajuk ”Magis 08: Sebuah Model Pendampingan Orang Muda” Sabtu (2/8) di ruang Koendjono, Kampus II USD Mrican. Jika daya refleksinya diasah dan digeluti, kaum muda sebenarnya dapat merespon sapaan Tuhan melalui kehidupan sehari-hari. Seminar Ignasian kali ini mengangkat tema yang lebih sederhana dan tidak sekompleks seperti seminar- seminar sebelumnya. Kali ini kesempatan diberikan kepada kaum muda untuk membahas dan menghayati makna spiritualitas Ignasian dalam kehidupan sehari-hari. Kerjasama USD dan Pusat Studi Ignasian dengan komunitas Magis08 menjadi salah satu buktinya. Komunitas Magis08 terdiri dari kumpulan kaum muda Katolik yang berkomitmen untuk menemukan dan merespon sapaan Allah dalam kehidupan sehari-hari secara lebih nyata dan mendalam. ”Hidup rohani dan jasmani itu saling berkaitan.” ujar Rm. Yohanes Nugroho, S.J. yang menjadi salah satu pembicara seminar. Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa keterkaitan tersebut dapat diinterpretasikan dengan cara berusaha menerima diri kita apa adanya. ”Terimalah dan cobalah dengan memulai untuk memilah tujuan pokok dalam hidup kalian.” tegasnya. Dengan begitu, kita dilatih menjadi peka rasa dan juga batin. Kepekaan rasa dan batin juga dirasakan keempat pembicara kaum muda yang menjadi anggota komunitas Magis08, yaitu Eny Winarti, Thomas Robiana Sembiring, Yohana Retno Tiara Dewi, dan Risang Baskara. Secara bergantian, cerita perjalanan rohani yang telah mengasah kepekaan rasa dan batin mereka pun dibagikan kepada seluruh peserta yang hadir. Melalui eksamen atau proses hening, menurut mereka, tempaan, cobaan, dan setiap peristiwa yang muncul mengajarkan bahwa Tuhan selama ini hadir membawa berkatnya lewat orang-orang yang ada disekitar kita. Itulah yang disebut dengan proses pembelajaran hidup dengan cara memaknai setiap detail langkah kita. Hal tersebut didukung oleh pernyataan Sr. Irene, moderator utama seminar. ”More for the world dan more for ourselves.” Dengan melakukan sesuatu yang lebih untuk dunia dan diri sendiri, kita diajak untuk menemukan dan mendengar sapaan Tuhan dalam setiap hal yang terjadi dalam hidup kita. Kemudian, ia juga menambahkan bahwa dengan menyadari pentingnya proses mengkontemplasikan hidup dapat dijadikan model pendampingan kaum muda yang nyata dan mendalam. (Bunga)

  kembali