Tahun 2015 menjadi tahun yang istimewa bagi Universitas Sanata Dharma (USD). Pada tahun tersebut, USD genap mencapai usia 60 tahun. Selama 60 tahun berkiprah, USD menghidupi filosofi pendidikan yang mengungkapkan alasan dasar berdirinya, yaitu ”sebuah kampus untuk dan bersama masyarakat”. Filosofi itulah yang juga ditunjukkan oleh pendiri USD, Prof. Dr. Driyarkara, S.J., yang ditunjukkan melalui keterlibatannya pada masalah-masalah bangsa.
Ketersambungan antara kampus dan masyarakat menentukan relevansi dan signifikansi USD. Agar semangat yang mendasar tersebut terus hidup, ada upaya yang dilakukan di lingkungan kampus USD untuk menyelenggarakan kegiatan yang mampu mendorong semakin nyatanya wujud tritunggal aksiologis kehadiran USD di tengah masyarakatnya. Wujud dari semangat ini adalah dilahirkannya sebuah Lingkar Studi. Sebanyak 60 dosen muda yang berasal dari lebih 20 program studi di bawah fakultas-fakultas (Ekonomi, Farmasi, Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Psikologi, Sains dan Teknologi, Sastra, dan Teologi) menjadi bagian di dalamnya.
Di tahun 2015 ini, para dosen muda yang tergabung dalam Lingkar Studi tersebut akan memperoleh pengayaan wawasan dari para narasumber, menjalankan riset berdasarkan minat masing-masing, dan mempublikasikan temuan-temuan ilmiahnya. Tahap pertama dari rangkaian kegiatan Lingkar Studi tersebut adalah diadakannya Hari Studi.
Hari Studi diselenggarakan oleh Lingkar Studi USD bekerja sama dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) USD pada Kamis, (5/3) di Ruang Koendjono, Gedung Pusat, Lantai IV, Kampus II USD. Tema yang diusung dalam acara tersebut adalah “Tanggung Jawab Intelektual di Tengah Masyarakat”.
Dalam sambutannya, Rektor USD, Drs. J. Eka Priyatma, M.Sc., Ph.D., menyampaikan berbagai hal. Salah satu hal yang masih patut menjadi perhatian walaupun sering diperbincangkan adalah masalah globalisasi. “Tantangan manusia pada saat ini berakar pada globalisasi. Globalisasi membawa ketergantungan yang semakin meluas, melewati batas-batas wilayah negara, batas geologis, batas budaya, yang semakin hari semakin diperkuat oleh kemajuan teknologi. Dunia baru membawa harapan baru tetapi juga persoalan baru” ujar beliau.
Beliau juga menambahkan bahwa persoalan yang dihadapi perguruan tinggi dalam globalisasi pengetahuan pada saat ini adalah masalah kedangkalan. “Jika perguruan tinggi sebagai komunitas akademisnya mengalami kedangkalan pengetahuan, di tengah persoalan masyarakat yang semakin besar, tinggal menunggu waktu” tambahnya. Oleh karena itu, para peserta diskusi yang terdiri dari sebagian besar dosen muda diharapkan dapat merefleksikan diri dengan hal-hal yang sifatnya lebih mendasar dan dapat berkontribusi untuk masyarakat luas.
Acara yang dikemas dalam forum studi ini mengahdirkan tiga narasumber yang
dipandu oleh Romo Albertus Bagus Laksana, S.J., Ph.D., selaku moderator. Narasumber yang pertama adalah Dr. Anton Haryono, M.Hum., dosen Pendidikan Sejarah USD yang juga menjabat sebagai Ketua LPPM USD dengan menghadirkan topik “Cendekiawan dan Politik”. Ada tiga hal penting yang disampaikannya. Yang pertama adalah dasar-dasar filosofis keterlibatan cendekiawan dalam berbagai permasalahan masyarakatnya. Selain itu, disampaikan juga pembahasan yang cukup menarik yang mengungkap alasan mengapa seorang cendekiawan sering diperebutkan. Salah satunya adalah kemampuan berfikir kritis dan kegetolan untuk menemukan kebenaran. Yang juga dibahas dalam topik ini adalah kiprah yang disebutnya sebagai seorang cendekiawan kampus dapat secara cerdas dan humanis menempatkan diri sebagai artikulator aspirasi masyarakat.
Narasumber yang kedua adalah Francisia Saveria Ery Seda, Ph.D. Beliau adalah Dosen pada Departemen Sosiologi Universitas Indonesia (UI) dan Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara Jakarta. Topik yang dihadirkannya adalah “Gagasan dan Perubahan Sosial”. Kajian tersebut mengajak kita untuk merefleksikan bahwa seorang cendekiawan tidak hidup bagi dirinya sendiri, tetapi juga selalu terarah bagi semakin maslahatnya hidup bersama. Cendekiawan kampus mempunyai tugas dan tanggung jawab utama untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan memberikan kontribusi pada masyarakat
Narasumber yang ketiga adalah Stanislaus Kostka Sularto atau yang akrab disapa dengan Pak Larto. Beliau adalah wartawan senior Harian Kompas yang sudah sangat berpengalaman dalam menekuni dunia jurnalistik. Sesuai dengan bidang yang digelutinya, beliau menghadirkan topik “Keindonesiaan dan Intelektual yang Menulis”. Menurutnya, seorang cendekiawan tidak sepantasnya bersikap dan berada dalam kerangkeng menara gading, yang tidak peduli dengan persoalan masyarakatnya. Dalam hal ini, pembentukan keindonesiaan dapat dibangun melalui tulisan-tulisan para intelektual yang menjabarkan ide-idenya. Intelektual dan kadar seorang ilmuwan dan cendekiawan lebih banyak terbentuk oleh tulisan.
Antusias para peserta diskusi dan berbagai pertanyaan peserta diskusi dalam sesi tanya jawab membuat acara semakin menarik. Ada berbagai tujuan yang hendak dicapai berkat berlangsungnya acara ini. Yang utama adalah, para dosen muda USD tergerak untuk meneruskan spirit dan falsafah Sanata Dharma, yaitu “sebuah kampus untuk dan bersama masyarakat”. Semoga menginspirasi. (DPTH)




