Dalam rangka Dies Natalis ke-59, Perpustakaan Universitas Sanata Dharma (PUSD) pada Kamis, 5 Maret 2015 mengadakan workshop bertemakan “Menyongsong Implementasi Resource Description and Access (RDA)” di Ruang Maulana dan Ruang Workstation Perpustakaan Kampus II USD Mrican. Workshop yang dihadiri oleh 18 peserta dari 12 Universitas yang ada di Pulau Jawa ini dimulai pukul 09.00-16.30 WIB dan dibagi dalam dua sesi.
Untuk sesi yang pertama, workshop berbentuk seminar yang diberikan oleh Bapak Taufik Asmiyanto, M.Si selaku Pengajar pada Pasca Sarjana Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia dan untuk sesi yang kedua, berbentuk pelatihan pengaplikasian katalogisasi Deskritif dengan RDA di SLiMS yang dipandu oleh Bapak M. Prabu Wibowo, M.S. selaku Pengajar Teknologi Informasi pada Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.
Sebagaimana kita tahu perkembangan pengaplikasian Ilmu Informatika dalam kehidupan sehari-hari, berdampak pada sistem katalogisasi Perpustakaan yang semakin canggih. Para pustakawan diperkenalkan untuk menyadari dan memahami perkembangan sistem katalogisasi yang ada agar mempermudah para pengguna perpustakaan mengakses referensi-referensi penggunaan di perpustakaan. Salah satu pengaplikasian sistem katalogisasi yang sedang berkembang saat ini adalah Resource Description and Access (RDA).
Bapak Taufik Asmiyanto, M.Si dalam sesi seminar mengungkapkan bahwa pengaplikasian RDA merupakan sistem katalogisasi yang sangat membantu para pengguna perpustakaan dalam mengakses referensi-referensi yang tersedia di perpustakaan. Bahkan pengaplikasian RDA ini lebih baik daripada browsing Google di internet. “Walaupun saya sangat menyadari bahwa penggunaan Google sangatlah membantu dalam mengakses informasi yang dibutuhkan. Tetapi Google menjadi sarana yang rancu atau tidak spesifik dalam pencarian informasi yang dimaksud, misalnya pencarian kata ‘mouse’ kemudian yang dimunculkan adalah ‘mouse’ dalam arti hewan yang artinya tikus atau ‘mouse' yang digunakan untuk kursor computing.” demikian ungkapnya. Hal ini disebabkan oleh begitu melimpahnya informasi yang disediakan oleh Google (overload of information). Apakah sistem katalog harus sama dengan sistem Google? Tugas pustakawan adalah mengambil bagian dalam memudahkan pencarian informasi bagi para pengguna di perpustakaan.
Pustakawan harus mengubah mindset dalam penggunaan sistem katalog. Penggunaan sistem katalogisasi AACR2 (Anglo American Cataloging Rules) tidak cocok lagi digunakan dan orientasinya hanya khusus di Indonesia. AACR2 adalah sistem penelusuran manual di mana kita harus mencari tahu call number atau index, dan kurang fleksibel sehingga tidak dapat mengakomodasi sumber baru dan tidak cocok untuk dunia digital. Tetapi sekarang pustakawan harus menginformasikan semuanya itu untuk pencarian referensi-referensi informasi yang tersedia melalui sistem yang lebih canggih yaitu RDA. RDA digunakan untuk dunia digital, tapi dapat digunakan untuk deskripsi semua jenis sumber (resources), digital maupun tradisional (non digital). RDA berfokus pada pengguna (user taks) berupa find, identity, select dan obtain. RDA berkerangka teoretis berupa konseptual FRBR (Functional Requirements for Bibliographic Records) dan FRAD (Functional Requirements for Authority Data). Apa yang kita temukan saat mengolah itu kita terima, itulah RDA. RDA bukan standard display, maksudnya tidak hanya menunjukan pada satu pedoman saja tetapi berlaku umum. Misalnya, RDA tidak hanya digunakan untuk perpustakaan saja tetapi juga pengarsipan. “Kalau selama ini kita hanya mengolah data AACR2 hanya memasukan items, sekarang dengan penggunaan RDA kita harus mengolah data dengan memuat work, expression, manifestation dan item dalam macam bibliografi, holdings dan authority.” Maksudnya adalah dengan memakai RDA, karya satu orang bisa dicari walaupun dengan judul yang berbeda, misalnya, karya laskar pelangi dicari kemudian yang muncul tidak hanya karya laskar pelangi dalam buku tetapi juga terdapat informasi tentang pengarang (authority) atau film atau lagu (expression) dan cetakan dari berbagai macam bahasa (manifestation).
Setelah sesi seminar, kemudian para peserta mengikuti pelatihan pengaplikasian katalogisasi descriptif dengan RDA di SLiMS. Pengaplikasian itu menjadi tindak lanjut dalam pembicaraan bahan seminar yang telah diikuti oleh para peserta. Para peserta menerapkan secara pribadi di tiap komputer masing-masing dalam tuntunan arahan Bapak M. Prabu Wibowo, M.S. di ruang workstation. Para peserta diajarkan bagaimana pengisian metadana deskriptif di SLiMS, pengisian ruas data:judul(title) dan pengisian ruas data:pengarang (author), dan sebagainya. Pedoman aturan umum dalam RDA adalah tidak ada lagi penggunaan kata asing dan singkatan-singkatan, semua kata harus dituliskan lengkap apabila memungkinkan dan sumber informasi utama bukan lagi hanya item in hand melainkan juga dari sumber informasi eksternal lain.
Sebagaimana diungkapkan oleh Bapak Drs. Paulus Suparmo, SIP, M.Hum. selaku Kepala Perpustakaan USD bahwa workshop ini menjadi kesempatan untuk mensosialisasikan penggunaan sistem RDA ke semakin banyak orang agar proses pendidikan yang dijalani juga ditunjang dengan penggunaan prasarana dan sarana yang memadai terkhusus dalam Perpustakaan. Dari situ kita diajak untuk berdiskresi dalam memilih dan mempertimbangkan sistem yang mendukung proses kita. Semoga niat baik yang kita pelajari bersama menjadi kesempatan baik untuk mengadakan perubahan. (FXAP)




