USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Seminar Program Magister Ilmu Religi dan Budaya USD:
SUPER HERO DI TENGAH PASAR

diupdate: 12 tahun yang lalu


Program Magister Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma (IRB USD) pada hari Jumat, 27 Februari 2015 mengadakan ASCOLTACI  ke-4 dengan tema “Super Hero di tengah Pasar” di Kampus 2 USD Mrican. ASCOLTACI adalah rangkaian seminar bulanan hasil penelitian yang diselenggarakan di IRB USD. Hadir dalam acara ini adalah Dosen dan Mahasiswa USD serta mahasiswa IRB USD, mahasiswa Pasca Sarjana UGM, dan mahasiswa UIN. Kegiatan ini berbentuk forum diskusi yang dibuka dengan pemutaran film Superhero. Materi disampaikan oleh tiga pembicara yaitu: N. Gogor Seta Dewa, Deny Ardianto, dan Rudi Anitio.
N. Gogor Seta Dewa sebagai pembicara pertama dengan topik Film Super Hero sebagai Ideologi dan Utopia. Superhero adalah manusia dengan kekuatan yang melebihi kemampuan yang berbeda dari manusia biasa, yang dia gunakan untuk memperjuangkan kebenaran, keadilan, dan melindungi orang tak bersalah. Superhero melebihi pahlawan fiksi yang lain dalam merepresentasikan nilai-nilai masyarakat yang memproduksinya. Ideologi yang dibangun melalui film superhero ialah mengatasi rasa takut yang ada dalam diri setiap manusia. Setiap manusia diharapkan mampu mengetahui dirinya sendiri bahwa ada kekuatan yang bisa mengalahkan musuh apabila mampu melawan rasa takut itu sendiri. Utopia adalah pandangan politik yang membayangkan, dan bahkan merealisasikan, suatu sistem yang berbeda yang ada pada saat ini. Sehingga narasi super hero berfungsi sebagai Utopia karena membayangkan sesuatu di luar realitas untuk memperbaiki keadaan.
Deny Ardianto sebagai pembicara kedua memulai materinya dengan memutarkan film Risang Tetuka. Film Risang Tetuka menceritakan tentang kelahiran Gatotkaca. Melalui film tari ini menunjukkan bahwa setiap manusia selalu melewati masa jatuh, bangun, dan berkembang. Dalam sebuah kerinduan, ketika beliau sedang studi di Jerman muncul keinginan untuk kembali sebagai seorang penari yang telah dimulainya sejak duduk di sekolah dasar. Namun kerinduan saat itu bukan sekedar penari di atas panggung melainkan ingin tampil dalam sebuah audio visual (film). Bermula dari kerinduan akan menjadi seorang penari, dari situlah beliau memulai karier sebagai sutradara hingga sekarang.
Rudi Anitio sebagai pembicara ketiga menyatakan bahwa film super hero pada saat ini menjadi salah satu yang digemari oleh masyarakat. Di dalam diri manusia itu selalu ada sifat superheronya. Dicontohkan tentang sebuah kerinduan pada sesuatu. Film superhero dengan penggemar yang cukup banyak di Indonesia mampu mengalahkan film nasional. Meskipun demikian film nasional masa kini sudah mulai bersaing dengan film-film super hero. Rudi Anitio sebagai seorang penggiat bisnis perfilman, banyak menyampaikan kritikan dan masukan untuk perbaikan film berikutnya. Seperti pada film superhero pada umumnya harus mampu mengetahui keinginan masyarakat supaya film yang diproduksi tidak hanya sebagai media hiburan tetapi dapat pula digunakan sebagai media penyampain makna kehidupan manusia.
Pada sesi diskusi, seorang peserta meminta tanggapan tentang perfilman yang didominasi oleh tari. Apakah tari dapat digunakan sebagai salah satu  media kegiatan bersejarah di Indonesia?  Peserta lain juga menanyakan bagaimana sudut pandang tentang pernyataan bahwa di dalam setiap diri manusia memiliki superhero. Superhero yang dimilki setiap manusia ialah keinginan untuk hidup merdeka terhadap berbagai problem kehidupan. Kemudian dijelaskan bahwa di Indonesia sangat banyak jenis tari yang dapat digunakan sebagai media berkomunikasi. Sehingga dalam dunia perfilman pun peranan tari sangat membantu penyampain makna, tujuan, dan bahkan sebagai media untuk menarik perhatian masyarakat penonton film tersebut. Kritik ekstern pada sebuah film sangat penting. Hal ini bertujuan untuk mengubah bagian-bagian tertentu. Di balik pentingnya sebuah kritik ekstern di sebuah film, juga memperhatikan stegmen penonton. Jika kritik yang disampaikan dirasa kurang baik atau berlebihan maka dapat mempengaruhi pandangan penonton terhadap film khususnya film Superhero. Demikian disampaikan oleh Rudi Anitio. (MG)

  kembali