USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Pusdema LPPM USD Menarasikan Masa lalu Secara Baru

diupdate: 12 tahun yang lalu


Pusat Studi Demokrasi dan Masyarakat - Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (Pusdema - LPPM) Universitas Sanata Dharma (USD) pada hari Rabu, 18 Februari 2015 menggelar Kuliah Umum di Ruang Seminar LPPM USD. Kuliah Umum yang dimulai pukul 09.00 – 11.00 WIB ini diberi judul “Membongkar Masa Lalu, Melahirkan Sejarah”.
Pada kuliah umum ini dihadirkan seorang pembicara dari National University of Singapore (NUS), Dr. Andrew Conroe dengan seorang moderator yang mengatur jalannya acara yaitu Hendra Kurniawan, M.Pd, dosen program studi Pendidikan Sejarah USD. Kuliah umum ini mencoba untuk mengulas dampak kejadian kelam bangsa Indonesia yakni G30S tahun 1965 bagi para anggota keluarga korban tapol ataupun mereka yang dituduh sebagai komplotan anggota G30S tahun 1965. Apa yang mereka rasakan dan alami? Lalu bagaimana nasib mereka pasca kejadian G30S tahun 1965?
Sebagaimana diungkapkan oleh Dr. Andrew Conroe sebagai pembicara dalam kuliah umum bahwa pasca G30S tahun 1965, ratusan ribu orang yang dituduh komunis atau berpaham kiri dibunuh. Puluhan ribu orang lagi ditahan. Kisah dan gambaran anak PKI menjadi kategori istimewa dalam penciptaan wacana tentang komunis di Indonesia. “Perhatian Pemerintah dan masyarakat kepada anak PKI bisa menonjol, semakin banyak orang yang dicurigai dan interogasi, dan stigma anak PKI yang sulit hilang tertanam dalam diri orang”, demikian ungkapnya. Tidak hanya anggota PKI atau mereka yang dituduh ikut PKI tetapi anggota keluarga dan anak-anaknya juga punya dampak. Hal ini belum banyak dilihat orang untuk dipahami. Melalui hasil penelitian yang dibuat oleh Dr. Andrew Cornoe, beliau mendapatkan berbagai perihal informasi tersebut.
Melalui tinjauan studi pustaka, beliau menemukan tiga sumber bacaan yang menampilkan kisah masa lalu yang berbicara soal nasib anggota keluarga mereka yang PKI atau dituduh sebagai PKI, yaitu dari tulisan Soe Hok Gie yang mengatakan bahwa Soe Hok Gie berbicara soal persoalan tawanan politik. Dia menjadi tokoh revolusioner orde baru. “Mungkinkah kita perlu kembali pada masa komunis di mana ideologi Orde Baru itu terancam. Dia memperdulikan nasib keluarganya. Dia tidak menyangka bahwa keluarganya dan anggota keluarga yang lain juga bernasib buruk”, demikian tandasnya. Seorang tokoh bernama Gerson Poyk berbicara soal perempuan dan anak-anak yang mempunyai hubungan dengan PKI, bahwa Negara harus melindungi mereka supaya dendam dan traumatik atas pengalaman masa lalu dapat hilang. Lebih menarik lagi dalam buku “Memungut Puing yang Berkeping-keping” karya M. Sri Martani Rustiadi, bahwa kenapa anggota keluarga juga disalahkan? jawabannya adalah di dalam perumpamaan majas pars prototo di mana bila tangan menyentuh gelas, pasti yang disalahkan adalah seluruh tubuh diri yang memiliki tangan yang menyentuh gelas tersebut. Demikian pula dengan satu orang dalam kelompok yang berbuat kesalahan atau terlibat di dalam kegiatan, tentu akan berdampak pada semua anggotanya juga.
Melalui tinjauan hasil wawancara yang berhasil Dr. Andrew Cornoe himpun di dalam penelitian, diperoleh dari dua koresponden yang berbeda usia, tua dan muda. Untuk usia yang tua mengatakan bahwa saya mendidik anak saya supaya tidak menjadi sampah untuk masyarakat. “Jangan sampai dia menderita karena masa lalu yang saya jalani.” demikian hasil wawancaranya. Diceritakan bahwa orang tua tersebut punya tanggung jawab dalam mendidik anak supaya mandiri. Untuk usia yang muda mengatakan bahwa neneknya adalah Gerwani yang menjadi “tapol”, dia diingatkan oleh neneknya bahwa hati-hati dalam berbicara dan bercerita karena kita tidak tahu lawan dan kawan. Dari perbedaan dua sudut pandang penelitian tersebut, Dr. Andrew Cornoe memberikan kesimpulan sekaligus pertanyaan bagi para peserta kuliah umum, bahwa “lalu bagaimana masa depannya masa lalu?”
Kesimpulan yang berbentuk pertanyaan tersebut menuai tanggapan dan perhatian para peserta yang sangat hangat. Berbagai tanggapan bahkan sharing dari para anggota keluarga yang mengaku bekas tawanan PKI atau Gerwani disampaikan dalam kuliah umum tersebut. Kiranya diskusi yang bisa disimpulkan bahwa kita perlu mengubah persepsi masyarakat, membutuhkan proses secara pelan-pelan. Yang menarik adalah para orang tua yang menjadi “tapol” justru tidak merasa minder tetapi justru bisa move on sedangkan para anggota keluarganya merasa minder. Membangun narasi baru dari masa lalu menjadi suatu langkah besar yang penting untuk kemudian kita mau memaafkan atas kejadian yang lalu. Bagaimana kita bisa memaparkan berbagai persoalan dengan lapang dada dan kita mencari solusi. Kita perlu keluar dari persoalan dan bergaul sebagai sarana sosialisasi untuk menampilkan diri bahwa para korban PKI bukanlah orang jahat. Lagi-lagi usaha ini bukanlah usaha balas dendam karena masa lalu, tetapi atas pengakuan eksitensi
Romo Baskara Tri Wardaya, SJ selaku Ketua Pusdema - LPPM USD mengungkapkan bahwa dengan adanya kuliah umum ini, orang melek sejarah, tahu sejarah bangsanya sesuai dengan pemahaman sejarah bangsa itu. Keprihatinan yang dialami terkait dengan persoalan ini adalah orang tidak melek sejarah (historical illiterisiasi). “Tentu yang namanya sejarah ada yang positif dan yang kurang positif, dan dari situ tugas kita mencari bagaimana pelanggaran HAM itu terjadi dan ditemukan solusi dan akhirnya membuat narasi baru yang sesuai dengan fakta sebagai proses kelanjutan hidup akan apa yang kita jangkau ke depan”, demikian ungkapnya. Tentu dalam hal ini adalah mereka yang bisa bekerjasama dengan masyarakat secara umum. (FXAP)

  kembali