“Annelies, jangan bawa kopor coklat tua itu ke Netherland. Kopor itu adalah simbol kegagalan, kekalahan, dan kebodohanku. Itulah kopor yang kugunakan saat meninggalkan rumah kakek dan nenekmu selama-lamanya untuk menjadi perempuan simpanan. Jangan bawa kopor itu, Nak!” Demikian kutipan pementasan monolog spektakuler yang ditampilkan Dhenok Kristianti, salah satu guru SMA Sekolah Pelita Harapan-Lippo Village, Tangerang. Dhenok sendiri merupakan salah satu alumni Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (JPBSI) IKIP Sanata Dharma, angkatan 1982.
Pementasan monolog itu merupakan bagian dari rangkaian Kunjungan SMA Sekolah Pelita harapan (SPH) bertajuk “Bahasa Trip: Wisata Sastra dan Budaya SPH.” Kunjungan ke Universitas Sanata Dharma dilaksanakan tanggal 24 Januari 2015, disambut Kepala Humas USD, Aquelina Yunaeni Mariati, di Ruang Driyarkara, Kampus II, Mrican. Selain pementasan sastra, acara itu diisi pula dengan pembacaan dan musikalisasi puisi oleh mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia yang tergabung di dalam kelompok Bengkel Sastra.
Monolog berjudul “Misteri Kopor Coklat Tua” itu merupakan petikan cerita novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Selain pementasan monolog, hadir pula pembaca puisi terkemuka di tanah air, Ni Putu Putri Suastini. Ia tampil memukau membacakan sebuah puisi berjudul “Puisi untuk Drupadi” karya Dhenok Kristianti. Seusai seminar, Landung Suimatupang mengajarkan seni peran bagi siswa-siswi ini.
Sastra Hati Nurani
Kunjungan siswa-siswi SMA SPH itu pun diisi dengan sessi seminar yang khusus membahas novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer dan Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Tampil sebagai pembicara, Dr. Yoseph Yapi Taum, M.Hum, yang membawakan makalah berjudul “Bumi Manusia dan Ronggeng Dukuh Paruk:
Dua Novel Indonesia yang Mencerdaskan”.
Menurut Yoseph Yapi Taum, karya sastra yang mencerdaskan adalah karya sastra yang memberi informasi, mengayakan pengalaman, memberikan pemahaman-pemahaman baru, memperbaiki kesadaran yang tidak benar (kesadaran palsu), dan secara keseluruhan adalah karya sastra yang mampu mengeksplorasi persoalan kemanusiaan. Karya sastra yang mencerdaskan adalah bacaan atau cerita yang bisa memberi inspirasi bagaimana mengatasi persoalan hidup, memberi inspirasi terhadap praktik dan cita-cita hidup mulia, baik dalam skala individu, masyarakat, atau kebangsaan.
“Terus terang, banyak karya sastra kita yang tidak mencerdaskan. Misalnya kisah tentang tiga atau empat orang wanita memperebutkan cinta seorang laki-laki, hubungan gelap antara ibu kos dan anak kos, bersiasat buruk memperebutkan harta, pamer pakaian dan kekayaan orang tua, mencelakai atau ngerjain teman atau guru,naik turun mobil mewah, hingga persoalan model rambut,” tegas Yoseph Yapi Taum. Pramoedya Ananta Toer dan Ahmad Tohari adalah sastrawan besar Indonesia yang mengubah Sastra Hati Nurani, yaitu sastra yang mengajarkan manusia untuk berani bersikap, bertindak, dan hidup sesuai dengan panggilan hati nuraninya. Karena itu, pembahasan mengenai karya-karya mereka penting untuk mengasah kecerdasan sekaligus hati nurani kita, demikian papar Yoseph Yapi Taum. (y2t)




