Dalam sebuah institusi keberadaan Humas (Public Relations) sering dianggap tidak penting, bahkan tidak perlu. Seandainya pun ada, humas dikenal tidak lebih sebagai unit yang pekerjaaannya mengurusi wartawan. Maka tidak heran jika posisi humas terkadang disembunyikan sampai pada struktur bawah. Inilah paradigma lama dalam memandang humas. Demikian pernyataan Dra. Henny S. Widyaningsih, M.Si. Kepala Humas Universitas Indonesia dalam seminar kehumasan yang diselenggarakan oleh Humas USD dengan tema “Everyday is Promotion, Everybody is Public Relation” di kampus 2 USD Mrican Sabtu (21/6). Pada hal berbagai dinamika dalam sebuah institusi pasti terjadi, dan hal ini mutlak perlu dikomunikasikan kepada publik, baik publik internal maupun eksternal. “Bagaimana institusi mengkomunikasikannya? Dan Siapakah yang mengkomunikasikannya?”. Apakah CEO atau Rektor dan Wakil Rektor perlu turun tangan sendiri?”. Tentu saja tidak. “Di sinilah peran Humas sebagai unit yang mengkomunikasikan segala sesuatu tentang institusi kepada publik agar publik mengenal, tahu, menerima, dan memberikan respon”, tegas Henny. Menurut Henny institusi pendidikan memiliki bermacam-macam publik, baik pemerintah, alumni, masyarakat sekitar, media massa, mahasiswa, calon mahasiswa, orang tua mahasiswa, pengguna lulusan, dan lain sebagainya. Publik ini perlu terus disapa, diajak komunikasi, dan didengar responnya. Selain itu humas bertanggung jawab membangun citra positif institusi sekaligus bertanggung jawab atas fakta-fakta sehingga citra yang dibangun tidak berdasarkan atas fondasi khayal. “Jika terjadi sesuatu yang bertentangan dengan citra yang dibangun, nilai-nilai yang dihidupi institusi, atau respon negative masyarakat, humas bertanggung jawab memberikan masukan kepada top management”, kata dosen Ilmu Komunikasi UI ini. Untuk itu saat ini tidak bisa ditawar-tawar lagi bahwa peran dan fungsi humas perlu diberdayakan. Selain itu, perlu perhatian khusus terhadap posisi ini agar senantiasa dekat dengan top management. Seminar yang dipandu oleh moderator Drs. P. Ari Subagyo, M.Hum. ini juga menghadirkan pembicara Kepala Humas Universitas Gadjah Mada Drs. B.R. Suryo Baskoro, M.S. dan Drs. Ronny Sugiantoro, S.E., M.M., wartawan Kedaulatan Rakyat. Dalam kesempatan ini Suryo mengemukakan bahwa dalam bidang pengelolaan informasi dan komunikasi dengan publik untuk membangun reputasi institusi humas berfungsi sebagai juru masak, sementara bumbu dan bahannya adalah informasi dari segenap civitas akademika. “Untuk membangun reputasi melalui pengelolaan komunikasi ini, informasi yang dibutuhkan bukan sekedar informasi biasa, namun yang mengandung unsure prestasi”, kata Suryo. “Tetapi perlu diingat bahwa humas perlu proaktif dalam mencari informasi dan pandai mengemas sehingga informasi itu bernilai di mata publik”, tambahnya. Menurut Suryo kunci reputasi adalah kinerja seluruh civitas academica yang optimal sesuai dengan nilai dan karakter yang dihidupi. Secara spesifik Suryo menjelaskan bahwa perguruan tinggi yang memiliki reputasi kuat adalah menjadi perguruan tinggi idaman bagi lulusan SMA yang unggul, menjadi idaman dosen yang berkualitas, mampu mendatangkan kerja sama/bantuan/dari lembaga, perusahaan di bidang tri dharma, dan menjadi perguruan tinggi target rekrutmen perusahaan. Sementara itu dalam membangun reputasi menurut Ronny selaku wartawan, perguruan tinggi perlu menyediakan informasi yang memiliki news value atau nilai berita. Jika perguruan tinggi mengirim press release jangan sekedar informasi tentang wisuda atau sertijab, tetapi informasi yang bermutu misalnya penelitian dan inovasi. Humas perguruan tinggi perlu mengerti kinerja wartawan dalam mebangun hubungan. Sonny mengatakan bahwa media relation dapat dilakukan oleh humas antara lain dengan press release, press conference, press tour, pelatihan media, atau iklan/advertorial. (Tti)




