Sebagai puncak dari serangkaian perayaan Dies Natalis Universitas Sanata Dharma (USD) ke-59, USD menggelar Puncak Syukur kegiatan Dies Natalis ke-59 di Ruang Drost Kampus 3 USD Paingan pada hari Jumat 12 Desember 2014. Puncak Dies Natalis ke-59 ini mengangkat tema “Peran Universitas dalam Pendidikan Demokrasi”. Tema ini menjadi perwujudan Rencana Strategis USD 2013-2017 yang dikontekskan dengan kesadaran eksistensi dan orientasi karya Universitas untuk Indonesia yang sedang berjuang membangun sistem demokrasi dan ekonomi di tengah arus perubahan cepat menuju tata masyarakat global berbasis pengetahuan dan teknologi informasi. Secara spesifik memang di tahun 2014, Universitas di tengah perjuangan bangsa menegakkan sistem demokrasi yang bersendikan kebebasan, kesetaraan dan keadilan, bangsa kita Indonesia menyelenggarakan pemilu sebagai cara demokratis untuk memilih pemimpin bangsa dan pengambil keputusan di tingkat nasional.
Dikatakan oleh Rektor USD Drs. Johannes Eka Priyatma, M.Sc., Ph.D. bahwa sebagai Universitas Yesuit dengan visi menggali kebenaran yang unggul demi meningkatnya martabat masyarakat, USD tidak mungkin hanya menjadi penonton pasif dari pergulatan bangsa tersebut. Ada tiga kegiatan besar yang kita kelola sejak awal tahun ini sebagai wujud kepedulian dan niat kita untuk menyumbang gagasan dalam pergulatan bangsa yang penting ini. Kepedulian dan keterlibatan kita tersebut telah kita wujudkan dalam program Sanata Dharma Peduli Pemilu, Sanata Dharma Berbagi, dan Pembentukan Forum Studi Kebangsaan.
Kegiatan yang diikuti oleh seluruh Dosen Tetap USD dan para civitas academica USD yang berprestasi ini berisi (1) Laporan Pertanggungjawaban Rektor tahun 2014, (2) Pidato Ilmiah yang disampaikan oleh Dr. Anton Haryono, M. Hum. dosen dari Program Studi Sejarah USD, (3) Sambutan Ketua Yayasan Sanata Dharma oleh Rm. A. Dr. Budi Susanto, S.J., (4) Pemberian penghargaan kepada pegawai yang telah bekerja selama 25 tahun di Sanata Dharma, dan (5) Pemberian penghargaan kepada Dosen dan Mahasiswa berprestasi.
Dalam laporan pertanggungjawaban Rektor tahun 2014, Drs. Johannes Eka Priyatma, M.Sc., Ph.D. menyampaikan rasa syukurnya karena USD telah memperingati usia berdirinya ke-59 ini. Diungkapkan oleh beliau bahwa yang utama kita mengucap syukur karena Sanata Dharma mendapat kepercayaan yang tinggi dari masyarakat yang ditandai oleh naiknya jumlah mahasiswa baru. “Ada kenaikan 1,24 % jumlah mahasiswa baru tahun ini dibandingkan tahun 2013. Sementara itu jumlah pendaftar pilihan pertama hanya selisih sebanyak 52 calon disbanding tahun 2013.”, demikian tandasnya. Ucapan syukur juga harus kita lambungkan karena beberapa prestasi yang telah diraih oleh dose maupun mahasiswa kita. Tahun ini kita mendapatkan 8 doktor baru sehingga jumlah doktor USD menjadi 103 dari keseluruhan dosen dan calon dosen sebanyak 349 orang. Hal ini menjadikan USD sebagai PTS yang memiliki jumlah doktor terbanyak di DIY. Selain itu kita berhasil meluluskan 1486 sarjana, 52 magister, dan 176 profesi. Sementara itu beberapa mahasiswa mencapai prestasi terhormat sebagai Juara I dalam beberapa kompetisi akademik di tingkat regional, nasional, dan internasional.
Selanjutnya dalam Pidato Ilmiah yang disampaikan oleh Dr. Anton Haryono, M.Hum. menyampaikan makalah demokrasi dan pendidikan demokrasi tentang “Peliknya Realisasi Kedaulatan Rakyat”. Diungkapkan oleh beliau bahwa demokrasi merupakan sistem atau pranata yang senantiasa didambakan penegakannya oleh bangsa-bangsa modern dalam rangka memanusiakan manusia. Melalui demokrasi manusia ingin terbebas dari segala bentuk penindasan, kesewenang-wenangan, dan ketidakadilan. Hal ini tampak dari kriteria-kriteria yang ditetapkan antara lain empirisme rasional, pengutamaan kepentingan individu, Negara sebagai Instrumen, prinsip volunterisme, kesepakatan rakyat, pementingan prosedur, musyawarah mufakat, persamaan asasi. “Demokrasi yang esensinya adalah kedaulatan rakyat dengan kriteria-kriteria idealnya, bukanlah suatu sistem yang sekali ditetapkan langsung bisa terlaksana dengan sendirinya. Demokrasi bukanlah sistem politik instan.” demikian tandasnya. Demi demokrasi terlaksana seperti yang diharapkan, maka perlu adanya pendidikan demokrasi yang berkualitas sebagai kebutuhan yang tidak bisa ditawar-tawar. Artinya, kebutuhan mengenainya makin mendesak bukan saja karena masih banyak orang yang belum memiliki pengetahuan dan kesadaran politik yang memadai, tetapi juga berkaitan dengan makin merebaknya anggapan negatif, sikap skeptic, dan sinis terhadap politik sebagai akibat dari penyalahgunaan kekuasaan di masa lalu dan praktik politik tidak senonoh masa kini, khususnya money politics serta perilaku-perilaku negatif ikutannya. Pendidikan demokrasi bertujuan agar warga negara dapat secara efektif mempengaruhi kebijakan publik. (FXAP)




