“Sebagai komunitas akademik, saat ini kita merayakan kegembiraan bersama dalam salah satu dari serangkaian kegiatan perayaan Dies Natalis Universitas Sanata Dharma (USD) yang ke-59. Tahun 2014 ini kita pahami sebagai tahun politik dan tahun demokrasi, oleh karena itu sejak awal tahun Universitas Sanata Dharma telah berusaha menghubungkan segala macam aktivitas akademik kita dengan pergulatan masyarakat dan bangsa kita yaitu pergulatan membangun sistem demokrasi. Seminar dengan tema ‘Pendidikan Demokrasi di Indonesia’ ini diadakan sebagai wujud konkret dari program rencana strategis universitas khususnya program untuk semakin menjadikan universitas terlibat dalam pergulatan masyarakat terutama pergulatan yang terkait langsung dengan kesejahteraan dan keadilan.” demikian kata sambutan yang disampaikan oleh Rektor USD Drs. Johanes Eka Priyatma, M.Sc., Ph.D. saat membuka acara seminar di Kampus USD Mrican pada hari Kamis (11/12).
Lebih lanjut Rektor USD menyampaikan bahwa demokrasi bagi kita bagaikan sebuah jalan menuju ke kesejahteraan masyarakat, namun kita juga menyadari demokrasi yang berangkat dari nilai-nilai kebebasan, kesetaraan, dan keadilan tidak begitu saja dapat berujung pada kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu sebagai universitas khususnya universitas Jesuit sebaiknya kita bersikap dengan terus membicarakan hal ini dan menghubungkannya dengan pergulatan keakademikan kita di kampus, dengan membangun pemahaman yang lebih baik tentang sistem demokrasi yang seperti apakah yang paling cocok dan dapat kita gagas, dan akhirnya kita harapkan bermuara pada kesejahteraan rakyat.
Seminar Nasional dengan tema “Pendidikan Demokrasi di Indonesia” tersebut menghadirkan 3 pembicara yaitu (1) Prof. Dr. R. Siti Zuhro, M.A - Peneliti Senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia/LIPI; (2) Arie Sudjito, M.Si. - Dosen Sosiologi UGM; dan (3) Dra. Novita Dewi, M.S., M.A (Hons.), Ph.D. – Dosen Kajian Bahasa Inggris USD. Dan dimoderatori oleh R. In Nugroho Budisantoso, S.J., M.Hum, MPP.
Prof. Dr. R. Siti Zuhro, M.A sebagai pembicara pertama memaparkan materinya yang berjudul “Demokrasi Ala Indonesia”. Dalam paparannya Siti Zuhro mengatakan bahwa pendidikan demokrasi harus dilakukan, tantangan Indonesia tidak hanya menyangkut nilai-nilai budaya politik tetapi juga peran para elite politik. Elite dan aktor politik cenderung kurang mendukung demokrasi baik melalui pilkada maupun dalam proses pembuatan kebijakan publik. Sebenarnya partai politik menjadi media pendidikan politik dan demokrasi tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Siti Zuhro memberikan contoh kasus kekerasan yang menimpa sejumlah partai politik seperti PPP dan Golkar yang para elitenya bertikai. Harapannya, peran para elite yang konstruktif akan menjadikannya sebagai agen perubahan bagi pembangunan dan perkembangan masyarakat termasuk demokrasi.
Arie Sudjito, M.Si. sebagai pembicara kedua memaparkan materinya yang berjudul “Demokrasi untuk Pembangunan dan Kesejahteraan”. Ia menuturkan para elite partai politik maupun wakil rakyat gagal menjadi agen demokrasi, mereka sibuk dengan kepentingan partai, kekuasaan, dan berkonflik antar partai. Akibat perilaku para elite politik, pihak-pihak yang antidemokrasi berupaya menyudutkan demokrasi dan menggantikannya dengan neo otoriterisme. Arie berharap, para elite politik lebih dewasa dalam berpolitik. Konflik yang terjadi di tubuh partai politik jangan sampai diserahkan ke pengadilan. Bila setiap konflik partai selalu diserahkan ke pengadilan, membuktikan bahwa pendidikan politik di Indonesia tidak jalan.
Sebagai pembicara yang ketiga atau yang terakhir, Dra. Novita Dewi, M.S., M.A (Hons.), Ph.D. menyoroti pendidikan demokrasi dari sisi pendidikan politik ala Driyarkara sang pendiri Universitas Sanata Dharma. Novita menyampaikan bahwa hal yang sangat ditekankan oleh Driyarkara adalah tentang tugas universitas yang harus melakukan pendidikan politik dengan cara membuat pilihan-pilihan sesuai bidang masing-masing. Universitas menjadi tempat untuk sosialisasi pemanfaatan ilmu pengetahuan dan internalisasi ideologi sesuai dengan martabat manusia. (AYM)




