Bersama dengan “ketjilbergerak” dan para pemuda kampung Juminahan Yogyakarta, Universitas Sanata Dharma (USD) pada hari Rabu, 10 Desember 2014 menggelar kegiatan “Kumpul Kampung” di kampung Juminahan Yogyakarta. Kumpul kampung menjadi karya kolaboratif "kampung-kampus" yang mencoba untuk menghadirkan kembali semangat kebersamaan dalam perbedaan, di tengah semakin maraknya situasi kesenjangan, ketimpangan, ketidaksetaraan, dan upaya saling memperebutkan dalam ruang bersama masyarakat.
Persembahan karya kolaborasi berupa rangkaian aktivitas kampanye ini bertajuk ‘Berbeda Itu Biasa!’. Ketjilbergerak sebagai komunitas kreatif berbasis anak muda yang aktif memberdayakan teman-teman muda di kampung-kampung dalam aktivisme kerja, pendidikan dan seni budaya di Yogyakarta dan USD yang sedang merayakan Dies Natalis ke-59 dengan tema “Peran Perguruan Tinggi dalam Pendidikan Demokrasi”, menyadari benar pentingnya membangun kesadaran bersama tentang nilai-nilai hidup bersama dalam perbedaan.
Kumpul Kampung adalah cara orang muda muda mengalami, mendialogkan, dan memaknai semangat kebhinnekaan. Kumpul Kampung adalah tentang orang muda yang mengusahakan jalinan persahabatan. Dalam persahabatan itu, semangat bergotong-royong dan bekerjasama diremajakan dengan cara khas orang muda. Kumpul Kampung adalah sebuah metode kerja budaya, di mana orang muda menciptakan ruang bersama; antar kampung, antar kampus, antar sekolah, demi menghidupi semangat ke-bhineka-an anak-anak bangsa. Kumpul Kampung lahir dari kegelisahan orang-orang muda akan pemaknaan 'Bhinneka Tunggal Ika' yang semakin hari semakin tidak jelas pijakan dan arahnya. Dalam berbagai level kehidupan, kita prihatin melihat semangat itu tergerus oleh praktik-praktis oportunisme, saling sikut dan mencari keuntungan pribadi maupun kelompoknya saja. Seperti yang dikatakan Mas Greg. Sindana sebagai Koordinator “ketjilbergerak” saat jumpa pers bahwa teman-teman muda mudah diadu-domba dan dipengaruhi karena mereka tidak memiliki kesibukan yang mengakar jiwa hidup mereka. Kampanye ini menjadi kesempatan untuk merehabilitasi pattern budaya "masa lalunya".
Dengan Kumpul Kampung ini, orang muda ingin mengaktualkan kembali semangat kebhinnekaan, bukan hanya dalam kata-kata, namun secara nyata diupayakan melalui pengalaman berjejaring dan bekerja bersama. Rangkaian kegiatan kampanye yang meliputi 5 program ini mengambil fokus pada komunitas orang-orang muda, baik yang bergerak di kampus dan sekolah, maupun mereka yang berdinamika di kampung-kampung. Lewat kerja kolaboratif bersama orang-orang muda ini, diharapkan mulai dari level akar rumput, akademisi hingga pemangku kebijakan, bisa menempatkan realitas perbedaan bukan sebagai penghalang, namun justru sebagai kekayaan dalam membangun tata hidup bersama yang lebih demokratis.
Kiranya tepat apa yang disampaikan oleh Rektor USD Drs. Johannes Eka Priyatma, M.Sc., Ph.D. sebagai sambutan dalam acara ini bahwa kehadiran Kumpul Kampung ini diharapkan kita lebih mencintai tanah air kita dalam budayanya, masyarakatnya, dan situasi kehidupan yang berbeda-beda. Inilah proses pendidikan dan penanaman nilai demokrasi yang coba ditawarkan USD sebagai lembaga pendidikan. Kita tidak takut untuk mencari kita di tengah "aku-aku".
"USD ‘bergelut’ dengan nilai dasar menghargai keberagaman dan kesiapsediaan untuk bekerjasama dengan orang yang berbeda. Ini adalah sifat yang rasanya penting bagi kami. Kita mau belajar dan berkoeksistensi dengan dinamika kehidupan keberbedaan ala khas anak muda. Ini kiranya menjadi impian dan harapan kampus dan teman-teman mahasiswa bahwa perbedaan adalah kodrat kita dan kiranya kita tidak bisa menolak adanya keberbedaan." ungkap Drs. Tarsisius Sarkim, M. Ed., Ph.D. selaku Ketua Dies Natalis USD ke-59 yang juga sebagai Wakil Rektor IV USD, dalam jumpa pers. (FXAP)




