Sebagai usaha untuk mendalami kehidupan mistik dan penyegaran rohani ala spiritualitas Ignasian, Universitas Sanata Dharma (USD) melalui Pusat Studi Ignasian pada hari Jumat, 5 Desember 2014 menggelar seminar berjudul Ignatian Conversation di Ruang Koendjono Kampus II USD Mrican. Dalam seminar itu, diundang dua pembicara dari luar negeri yaitu Pater Javier Melloni Ribas, SJ (Professor on Spiritual Theology Escuela Ignaciana de Spiritualidad Barcelona) dan Pater Jose Garcia de Castro, SJ (Director of Master Ignatiana Universidad Pontifica Comillas Madrid). Seminar yang berlangsung dari pukul 16.00 WIB hingga pukul 19.30 WIB ini dihadiri oleh para civitas academica USD, para aktivis kerohanian spiritualitas Jesuit, para Frater dan Romo Jesuit. Kegiatan itu mengangkat tema “Ignation Mysticism and Spirituality of St. Peter Faber. Tentu timbul di dalam benak kita, kenapa St. Petrus Faber dikaitkan dengan penghayatan dan pengungkapan hidup spiritualitas Ignatian? Apa sumbangan hidup dan pemikiran St. Petrus Faber di dalam kehidupan mistik spiritualitas Ignasian?
Diungkapkan oleh Romo Alb. Buddy Haryadi, SJ selaku Kepala Pusat Studi Ignasian USD bahwa St. Petrus Faber diangkat sebagai tokoh sentral dalam pembahasan seminar spiritualitas Ignatian karena Ia merupakan salah satu bagian penting di dalam 10 orang yang mendirikan ordo Jesuit. “Menurut Ignasius di dalam catatan hariannya dikatakan bahwa Faber merupakan pribadi yang mempunyai kedalaman rohani dan yang sangat paham tentang latihan rohani. Maka diharapkan dengan mengangkat tokoh St. Petrus Faber, kita semakin mampu mendekatkan diri kepada Tuhan dengan jargon yang tidak asing di dalam latihan rohani adalah menemukan Tuhan di dalam segala hal.” demikian tandasnya. Kehadiran dua pembicara yang berbeda kultur dan tradisi hidup ini kiranya mampu semakin memberikan penyegaran rohani dan meluaskan wawasan sehingga hidup mistik yang kita hayati bisa menjadi inspirasi dalam karya kita. Dan secara khusus dalam model pendidikan kita, kita bisa belajar dari St. Petrus Faber soal model pendekatan personal di dalam pendampingan pendidikan. “Bagaimana meletakkan pendekatan personal dalam situasi sekarang, ketika orang muda sulit mengalami persahabatan personal yang personal?” demikian Romo Buddy menambahkan.
Di dalam sesi pembicara pertama, Pater Javier Melloni Ribas, SJ mengungkapkan bahwa pemahaman dan penghayatan kehidupan mistik terkadang mudah disalah artikan di dalam pelaksanaan kehidupan sehari-hari. Mistik sering dipahami hanya sekedar keheningan atau kesunyian. Atau beliau mengungkapkan kata mistik dengan kata keep silent. Padahal kandungan arti dan makna mistik sendiri sangatlah kaya. Secara umum, mistik diartikan sebagai situasi atau keadaan pemahaman yang berhubungan dengan Tuhan. Dari situ, kita menanggapi keadaan yang tersembunyi atau yang tersingkap di dalam kehidupan dan kita hanya bisa mengamini bahwa itu adalah misteri. Proses pencarian untuk memahami ini adalah melalui tanda dan penglihatan. Beliau mengungkapkan dengan kata “come and see”, datang dan lihatlah yang didasarkan pada peristiwa Pembaptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis. Peristiwa ini ingin mengungkapkan bahwa Kehidupan mistik didasarkan pada pengalaman dasar manusia yang melingkupi perjalanan manusia guna mencapai tujuan hidup. Pengalaman menemukan Allah dicapai dan dimengerti hanya di dalam pengalaman dasar kita, mungkin yang menampakkan atau yang tidak kita pahami tapi nyata ada. Menemukan Tuhan di dalam segala hal dan di dalam segala hal ada Tuhan, kiranya menjadi spiritualitas mistik yang khas Ignasian. Dari situ muncul istilah contemplative in action dan action in contemplative.
“Usaha pencarian aktif di dalam kehidupan mistik sering kali membawa kita pada dua ketegangan tersebut, yang membedakan adalah kalau contemplative in action ini lebih realistik, lebih humality dan obey to right, sedangkan action in contemplative lebih menekankan feeling dalam aktivitas kerohanian, kita digerakkan oleh kehausan akan keinginan atau human desire strong.” demikian tandasnya.
Maka Ignatian mysticism adalah kehidupan mistik yang dinamis atau yang terkenal dengan kata magis (more and more). Magis di sini bukan berarti most, karena kalau menggunakan kata most, kesan yang muncul adalah tindakan yang terlalu perfectionis atau cenderung untuk menguasai. Dengan magis (more and more) kita selalu berusaha melakukan yang lebih dan lebih karena kehidupan mistik itu menyuburkan iman kita.
Selanjutnya pada sesi pembicara kedua, Pater Jose Garcia de Castro, SJ lebih memaparkan pada bahasan sejarah dan spiritualitas dari St. Petrus Faber sendiri. Diungkapkan beliau bahwa Petrus Faber merupakan salah satu founding fathers dalam mendirikan ordo Serikat Yesus ketika sepuluh orang berkumpul di Paris. Petrus Faber mengikuti dan ikut serta dalam karya Yesuit ketika ia berada di Paris. Dia dikenal dengan menyebarkan spiritualitas ignasian melalui personality spiritual. Petrus Faber terkenal dengan pribadi yang devotif. Ia mendirikan lembaga pendidikan yang berkualitas baik dengan model pembelajaran dan pendidikan yang personal. Oleh sebab itu, charisma dari Petrus Faber sangat banyak yang mempengaruhi pedagogi dan spiritualitas. Dilihat dalam situasi kehidupan Petrus Faber ketika itu, ia berada di dalam populasi manusia yang sangat kritis dan berkembang pesat soal ilmu pengetahuan dan informasi. Sorbonne university sebagai tempat ia belajar menjadi pusat penemuan dan mendapatkan banyak informasi, secara khusus menjadi sumber charisma yang penting bagi para pendiri Serikat Yesus termasuk Petrus Faber sendiri.
“Petrus Faber menjadi master in dialog, contoh persoalan di dalam politik tubuh Yesuit sendiri. Dialog dan conversation menjadi spiritualitas exercises. Ketika ia belajar teologi di Paris, Petrus Faber mengalami discernment, banyak pilihan cita-cita yang bisa ia capai dan ia memilih untuk menjadi imam. Persahabatan dengan Ignasius membakar api panggilan Tuhan yang berkobar-kobar. Ketika ia menjadi jenderal, ia menjadi link and affection in companion. Dia suka berjalan-jalan untuk menemui saudara-saudara Yesuitnya.” demikian tandasnya. Di dalam catatan hariannya, dia menulis bahwa Tuhan dapat ditemukan di dalam segala hal yang akhirnya berpuncak di dalam hidup agama yang kita imani, lewat berdoa, adorasi, atau perayaan Ekaristi yang puncak dan pusat hidup iman kita sebagai orang Kristen. (FXAP)




