USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Kita Pernah Menjadi Bangsa Terhormat

diupdate: 19 tahun yang lalu

"Ada suatu masa dalam sejarah kita bahwa melalui pemimpin kita Indonesia pernah menjadi bangsa yang terhormat dan sejajar dengan bangsa lain yang besar seperti Amerika Serikat", demikian pernyataan Dr. Baskara T. Wardaya, SJ dalam acara bedah buku "Indonesia Melawan Amerika" yang diadakan oleh Pusat Sejarah dan Etika Politik (PUSdEP) di aula LPPM Kampus 2 USD Mrican Sabtu (31/5). "Selain menjadi bangsa yang terhormat, bangsa Indonesia pernah memiliki pemimpin yang berkomitmen pada rakyat yang menempatkan bangsa ini berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah ketika berhadapan dengan bangsa lain", tambah Kepala PUSdEP yang juga Direktur Pascasarjana USD ini. Yang dimaksud dengan pemimpin itu tidak lain adalah Bung Karno. Bung Karnolah yang dalam pergolakan politik dalam bayang-bayang perang dingin antara AS dan Uni Sovyet mampu menangani berbagai dinamika politik dan ekonomi akibat pengaruh pertikaian Kapitalis vs Komunis. Demikian disebutkan dalam buku yang dibedah terbitan Galang Press April 2008. Buku ini merupakan terjemahan dari versi Bahasa Inggris "Cold War Shadow" yang memaparkan bagaimana ketegangan internasional saat kepemimpinan Eisenhower dan JF Kennedy berimbas pada negara-negara lain termasuk Indonesia. "Dampak nyata yang kita lihat bukan perang dingin melainkan perang nyata, yaitu pemberontakan PRRI dan Permesta di Sulawesi Utara", tegas Baskara. Selain itu CIA turut membantu operasi dalam menekan Bung Karno supaya tidak mengikuti arus komunisme Rusia. Dalam pembacaan kritis oleh Geroge Junus Aditjondro, buku ini menarik namun perlu dipertegas lagi bahwa perang dingin sebenarnya bukan perang mempertahankan ideologi komunis atau kapitalis tetapi mempertahankan hegemoni penguasaan wilayah sumber alam, terutama tambang oleh Amerika Serikat. Aditjondro juga memberi catatan kritis bahwa Baskara justru terjebak pada jargon-jargon yang diberikan oleh Amerika dalam membuat istilah, misalnya Cina Komunis, Vietkong, dan Korea Komunis. "Baskara terjebak dalam jargon berpikir dikotomis", tambahnya. (Tti)

  kembali