USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Ketoprak Sadhar Budaya Pentaskan Lakon Petruk Dadi Ratu

diupdate: 12 tahun yang lalu


“Petruk”. Sebuah nama yang akrab di telinga setiap orang Indonesia secara khusus orang Jawa. Di dalam diri Petruk terpancar jiwa yang bersahaja, penuh humor, dan hidup bebas. Di dalam diri Petruk pun tersirat makna konsistensi sebagai tokoh punakawan yang begitu setia menjalankan profesinya.
Petruk dadi ratu merupakan sebuah paduan yang cukup kontradiktif. Petruk yang begitu lekat dengan istilah “wong cilik” sedangkan ratu yang identik dengan kekuasaan, hidup mapan, dan berkelimpahan. Judul ini tersirat makna akan adanya sebuah harapan dan cita-cita. Meski hidup sebagai kawula alit, Petruk juga memiliki hak untuk menjadi seorang raja, berhak hidup layak, dan memperoleh hak kesetaraan.
Dalam rangka memperingati Dies Natalis ke-59, pada hari Jumat (28/11) pukul 19.00 WIB, komunitas Ketoprak Sadhar Budhaya Universitas Sanata Dharma pentaskan ketoprak dengan lakon Petruk dadi Ratu. Bertempat di Panggung Terbuka Kampus 2 USD Mrican, komunitas yang berusaha melestarikan budaya bangsa Indonesia ini bekerjasama dengan komunitas tari Sekar Jepun dan Grisadha. Dalam pementasan ketoprak humor ini, seluruh keluarga besar Sanata Dharma turut berperan aktif sebagai pemain ataupun pengrawit. Kerjasama yang begitu kental terasa dari suasana pertunjukan yang begitu indah. Masing-masing elemen berusaha menampilkan yang terbaik dari usaha setelah berlatih sekian lama. Dalam pertunjukan ini, turut hadir pula Dalijo dan Joned Angkringan sebagai bintang tamu yang juga turut menyemarakkan pertunjukan ketoprak humor ini.
Di dalam kata sambutannya, Drs. Johanes Eka Priyatma, M.Sc., Ph.D. selaku Rektor Universitas Sanata Dharma mengungkapkan bahwa lakon Petruk Dadi Ratu ini merupakan sebuah gambaran realitas negara ini. Begitu banyak hal-hal yang tidak dapat diterima secara nalar terjadi di negara ini. Begitu banyak orang yang “keblinger” dengan kekuasaan sampai melupakan jiwa dari apa yang dinamakan kepemimpinan. Kiranya di tengah dunia yang semakin menjadi gila, beberapa hal juga mungkin bisa diselesaikan dengan cara yang gila juga. Melalui pertunjukan ketoprak ini, masyarakat dan secara khusus civitas academika Universitas Sanata Dharma mulai mencintai budaya dan kearifan lokal. (nathan)

  kembali