Dalam rangka memberikan sumbangsih pemikiran dan ide dalam mengevaluasi Kurikulum 2013 yang telah satu tahun terlaksana, Unit Pelaksanaan Teknis (UPT) Matakuliah Pengembangan Kepribadian (MPK) Universitas Sanata Dharma (USD) pada hari Sabtu, 29 November 2014 menggelar seminar di Kampus 2 USD Mrican. Acara ini terselenggara berkat kerjasama antara pihak Rektorat USD, LPPM USD, dan para mahasiswa yang terlibat menjadi panitia dalam seminar ini. Acara ini dihadiri oleh guru dari berbagai SMP dan SMU sekitar Yogyakarta, para civitas academica USD, dan praktisi pendidikan.
Seminar UPT MPK yang terlaksana pukul 08.00 - 13.00 WIB ini mengusung tema tentang "Pendidikan Karakter dalam Kurikulum 2013". Wakil Rektor II USD Drs. Aufridius Atmadi, M.Si. saat membuka seminar menyampaikan bahwa karakter itu melekat. Karakter akan terbentuk sempurna bila ada tekanan, misalnya supaya anak membuang sampah di tempat sampah, si anak harus dimarahi. Oleh sebab itu, sebelum kita sebagai guru (digugu dan ditiru) mendidik karakter, kiranya kita menyadari apa maksud dari adanya pendidikan karakter. Karakter tidak hanya berguna bagi diri sendiri saja tetapi mampu juga dirasakan oleh orang lain.
Sebagai tanggapan atas evaluasi kurikulum 2013, dihadirkan dua pembicara yaitu Br. Alb. Suwarto, FIC, M.Pd. (Kepala Sekolah PL Dominico Savio Semarang) dan Ibu Dina Listiorini, M.Si (dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Atma Jaya). Sebagai pembicara pertama di dalam seminar, Br. Alb. Suwarto, FIC, M.Pd. menyampaikan makalah seputar implementasi pendidikan karakter dalam kurikulum 2013. Diungkapkan bahwa implementasi kurikulum 2013 yang ternyata tidak sesuai di lapangan adalah guru tidak profesional dalam pengajaran seperti guru fisika juga mengajar biologi atau guru geografi juga mengajar sejarah. Dari realita tersebut, sekolah mengeluarkan kebijakan supaya para guru secara kreatif dan inovatif membuat, mengedit, dan mengambil berbagai materi pembelajaran dari berbagai sumber sejauh tidak keluar dari jalur ketentuan dari kurikulum 2013. "Dari sinilah sekolah berusaha menekankan aspek pendidikan karakter dari setiap materi ajar pembelajaran, misalnya guru tidak sekedar menyuruh para murid untuk berdiskusi tetapi juga bisa mengalami dan menyimpulkan bahwa api itu panas, benda yang jatuh dari ketinggian dipengaruhi oleh gravitasi bumi." demikian tandasnya. Kesulitan yang dialami dalam pendidikan karakter adalah harus memberi nilai. Sosialisasi Kurikulum 2013 tidak ada persiapan yang matang. Kurikulum 2013 membuat sekolah terkesan birokratis karena segala kebijakan dan aturan harus mengikuti apa yang dibuat oleh Pemerintah. Terkhusus lagi, aturan dan kebijakan itu tidak ada pembakuan karena selalu terjadi pergantian.
Ibu Dina Listiorini, M.Si sebagai pembicara kedua menyampaikan makalah seputar literasi aplikasi digital bagi remaja dan anak muda, terkhusus bagi penggunaan jejaring sosial. Diungkapkan bahwa generasi jaman sekarang masuk dalam pola gambar (visualisasi). Kominfo mencatat bahwa pengguna internet di Indonesia mencapai 82 juta pengguna. Dari situ timbul pola komunikasi yang berubah yaitu menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh. "Perilaku ‘komunikasi’ remaja adalah multitasking, misalnya melihat TV dengan ayah dan ibu sambil asyik membuka jejaring sosial lewat smartphone. Teknologi kerap diibaratkan sebagai pisau bermata dua. Demikian teknologi informasi melalui internet, di satu sisi internet sebagai jendela dunia dan di sisi lain bisa menjadi media yang menyesatkan orang yang mendapatkan informasi." demikian tandasnya. Pendidikan karakter dalam Kurikulum 2013 dimaksudkan bagaimana membangun pendidikan bagi anak remaja di tengah era budaya digital. Literasi media digital melalui internet adalah kemampuan untuk mehamai perkembangan digital yang didapatkan secara komprehensif. Membangun pendidikan literasi harus dilakukan secara kompherensif untuk mencegah terjadinya net addict, cyber bullying, dan sexting. Kecenderungan dari literasi media digital adalah hiper internet. Maka perlu ada digital parentist, di mana orang tua ikut terlibat aktif mengontrol atau memahami dan menyadari perkembangan dan pertumbuhan anak agar tidak keluar jalur. Orang tua dituntut untuk tahu dan bisa menggunakan literasi media digital. Tidak saja orang tua tetapi seluruh elemen masyarakat termasuk sekolah.
Di akhir seminar tersebut, Dr. C. Teguh Dalyono, M.S. memberikan kesimpulan dari gagasan dan tanggapan bahwa guru terkadang seolah-olah menjadi lupa bagaimana menanamkan nilai-nilai sikap siswa yang sesuai dengan kepribadian, tetapi sekarang cenderung sibuk menilai. "Apakah mungkin di setiap mata pelajaran ada aspek karakter atau sikap? Ini perlu digali lebih lanjut antara integrasi kognitif dan karakter atau sikap. Hal ini diilustrasikan dengan sebuah cerita anak yang dinilai sangat baik pendidikan karakter di sekolah tetapi di rumah suka marah-marah dengan orang tua dan tidak patuh. (FXAP)




