Program Magister Ilmu Religi dan Budaya (IRB) Universitas Sanata Dharma (USD) mengadakan seminar Ascoltaci pada Jumat, 21 November 2014 bertempat di Ruang Driyarkara, Gedung Pusat Kampus 2 USD Mrican. Seminar Ascoltaci merupakan forum thesis mahasiswa program magister IRB USD yang diadakan setiap bulan. Seminar Ascoltaci kali ini adalah seminar ketiga, dengan mengambil tema “Cerita Tentang Cina, Cerita Tentang Indonesia”.
Dr. Katrin Bandel selaku perwakilan dari Program Magister IRB dalam sambutannya menyatakan bahwa Ascoltaci bermakna ‘dengarkanlah kami’. Ascoltaci sendiri merupakan forum untuk akademisi muda yang menyuarakan hasil penelitian dalam pendidikannya untuk didengarkan masyarakat umum. Dr. Bandel menyampaikan bahwa seminar Ascoltaci adalah wujud spirit, semangat yang kritis dan sadar akan relasi kekuasaan dan cenderung memihak yang lemah, tidak hanya di dunia akademis tapi di organisasi maupun lembaga-lembaga masyarakat. Ilmu Religi dan Budaya USD juga memberikan semangat yang beda, semangat kritis di dunia akademis berdasarkan pembelajaran dan penelitian teoritis baru. Hasil-hasil penelitian tersebut dan wacana kritis yang ditemukan kemudian disuarakan, seperti tema yang diangkat dalam Ascoltaci ketiga yang melihat posisi masyarakat Cina di Indonesia.
Tema yang ditampilkan setiap bulannya selalu berbeda tergantung dengan judul-judul penelitian thesis para mahasiswa. Seminar pada November ini memilih ‘Cerita Tentang Cina, Cerita Tentang Indonesia’ sebagai tema dikarenakan hal tersebut berkaitan dengan tema besar yang diambil, ideologi. Demikian pula dengan makalah-makalah yang dipresentasikan oleh para pembicara. Menurut ketua acara seminar Ascoltaci ketiga, Zuhdisang dari IRB, tema dalam forum thesis bulan ini juga merupakan kesinambungan dari tema Ascoltaci yang sebelumnya. Ascoltaci juga dimaksudkan untuk mengenali berbagai persoalan sosial dan budaya masyarakat kita dan mengembangkan gagasan-gagasan terobosan untuk kebaikan kita bersama berdasarkan hasil penelitian.
Terdapat tiga orang pembicara sebagai pemberi materi seminar dalam acara ini, mereka adalah Alwi Atma Ardhana, alumnus S2 IRB USD; Umar, mahasiswa S2 IRB USD; serta Halim H.D., pembicara tamu. Sebelum pembicara pertama memberikan materi dalam Seminar Ascoltaci, sesi selanjutnya diawali dengan pembacaan cuplikan karya Clara Ng yang berjudul Dimsum Teralhir oleh Padmo, mahasiswa S2 IRB USD. Alwi Atma sebagai pembicara pertama memberikan materi makalahnya yang berjudul Masyarakat Cina dan Usaha Mencari Keadilan dalam Sastra. Alwi membahas tentang identitas masyarakat Cina di hadapan Pribumi yang selalu berubah-ubah seiring pergantian kekuasaan pemerintahan negara Indonesia. Penggunaan beberapa istilah untuk menentukan identitas masyarakat Cina selalu berganti, seperti pemakaian istilah ‘bangsa’ atau ‘etnis’ yang didasarkan oleh ideologis dan logika dari sebuah sudut pandang tertentu. Kemudian, dalam pembahasan di makalahnya, Alwi menerangkan tentang sejarah masyarakat Cina yang tidak tunggal dikarenakan ideologi-ideologi yang memiliki versi sejarah tersendiri serta karya sastra tidak dapat dipandang murni sebagai sebuah produk ideologi dominan meskipun ia merupakan sebuah praktek ideologis.
Pembicara berikutnya adalah Umar, mahasiswa S2 IRB USD yang mengangkat makalah yang berjudul Ingatan tentang Cina dalam Sastra dan Sejarah. Dalam seminar Ascoltaci, Umar menjelaskan karya sastra memiliki kebebasan serta kekuatan imajinasi membentuk kekuatan ingatan sejarah. Seperti yang tertulis dalam makalahnya, “Sastra memiliki imajinasi yang dapat membentuk ingatan sejarah tersebut melalui kekuatan narasinya, tergantung ingatan sejarah semacam apa yang ingin dibentuk terkait dengan Cina di Indonesia”. Setelah Umar memberikan materi makalahnya dalam seminar, sesi berikutnya menghadirkan Halim H.D. sebagai pembicara. Halim merupakan apresian dan penikmat seni yang dalam kesempatan kali ini memberikan pandangan serta pengalaman dalam konteks Cina di Indonesia yang berhubungan dengan karya sastra. Halim menyampaikan bahwa dalam masyarakat Cina di Indonesia terdapat kanibalisme, yaitu pembedaan ke-Cina-an yang disasarkan oleh sesama masyarakat Cina berdasarkan letak geografis maupun status sosialnya. Kemudian, Halim juga memberikan pandangannya mengenai bentukan sejarah masyarakat Cina dalam karya sastra. Menurut beliau, kaum Tionghoa dalam sejarah di dalam karya sastra memiliki kemungkinan untuk mewujudkan dirinya karena ada jejak yang jelas di dalam kontribusi kehidupan di nusantara.
Sesi berikutnya diisi oleh resital musik bulanan yang diselenggerakan di Pascasarjana ISI Yogyakarta yang bertajuk Ascoltate. Para penampil menamakan dirinya sebagai Beringin Soekarno. Selepas penampilan dari Beringin Soekarno, dibukalah sesi diskusi tanya jawab antar pembicara dan para peserta yang hadir. Acara yang berlangsung sekitar empat jam tersebut ditutup dengan ramah tamah serta makan bersama oleh segenap hadirin. Diharapkan hasil pemikiran, penelitian, dan diskusi yang telah disalurkan oleh para peneliti muda mampu memberikan wawasan serta ilmu baru kepada khalayak ramai. (J)




