USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Culture Fest 2014: "Bhinneka Warna, Satu Asa"

diupdate: 12 tahun yang lalu


Lembaga Bahasa Universitas Sanata Dharma (LBUSD) pada tanggal 15 November 2014 menghelat acara tahunan Culture Festival, bertempat di Kampus II Universitas Sanata Dharma. Acara ini diadakan pertama-tama untuk memeriahkan Dies Natalis Universitas Sanata Dharma, selain itu acara ini juga menjadi ajang promosi Lembaga Bahasa Universitas Sanata Dharma, Universitas Sanata Dharma sendiri, dan juga merupakan wadah para mahasiswa untuk menampilkan kreasi budayanya.
Rektor USD Drs. Johanes Eka Priyatma, M.Sc., Ph.D. dalam sambutannya mengatakan bahwa manusia tumbuh di dalam kebhinekaan, oleh karena itu kita tidak bisa lagi berpikir secara lokal tetapi kita harus berpikir bahwa kita merupakan bagian dari bangsa Asia bahkan bangsa dunia. Maka, komunikasi akan menjadi sarana dialog dalam keseharian kita. Dan acara ini menjadi penting karena dapat menjadi sarana untuk menggali kebenaran luhur demi semakin bermartabatnya masyarakat lewat bahasa dan budaya, dan lewat hal tersebut kemanusiaan menjadi semakin peka.   
Acara Culture Fest pada tahun ini menampilkan demo masak dan pertunjukan budaya dari dalam dan luar negeri. Demo masak diikuti oleh 9 negara, yaitu Vietnam, Filipina, Jepang, Korea, Ukraina, Polandia, Belanda, Thailand, dan Venezuela. Selain itu juga disuguhkan jajanan makanan tradisional seperti dawet dan angkringan. Semua makanan dijajakan dengan murah meriah sehingga para pengunjung dapat menikmati semua makanan yang disuguhkan.
Mengenai acara budaya, Culture Fest pada tahun ini menampilkan beberapa kekayaan nusantara seperti: murid-murid CEIC (salah satu divisi di LBUSD yang menawarkan kursus Bahasa Inggris) menampilkan medley tarian tradisional, yaitu Poco-Poco, Lancang Kuning, dan Sajojo; teman-teman dari Samanea Saman menampilkan tari Saman; Kopi Pahit menampilkan tarian khas NTT yang disebut Di’ a de molas; Yanuar, seorang mahasiswa PBI menampilkan 2 tarian yaitu tari Gencring Tamborin dan Udan Mas. Selain tarian nusantara, para murid asing yang sedang belajar bahasa Indonesia di LBUSD juga menampilkan tarian tradisional negara mereka, antara lain: tarian dan nyanyian dari Thailand, tari Mann Taung Yait Ko dari Myanmar, tari Hello Vietnam dari Vietnam, teman-teman dari Foccolare bernyanyi dalam 7 bahasa (Indonesia, Jawa, Filipina, Portugis, Inggris, Jerman, dan Itali) dan tampilan-tampilan budaya lainnya.
Akhirnya, puisi berjudul “Pohon Pertiwiku” menjadi puncak acara Culture Fest 2014. Puisi karangan Ibu Henny Herawati ini diterjemahkan dan kemudian dibacakan ke dalam 17 bahasa, yaitu Indonesia, Jawa, Mandarin, Filipino, Ukraina, Rusia, Korea, Polandia, Jepang, Spanyol, Thailand, Myanmar, Vietnam, Belanda, Swahili, Perancis, dan Inggris. Di dalam puisi ini, pengarang ingin menceritakan keindahan dari sebuah pohon yang dinamakannya Pohon Pertiwi. Di pohon itu bergantung daun-daun yang beraneka warna. Setiap daun mempunyai tangkainya sendiri yang memungkinkan mereka untuk menghirup kebebasan dan bertutur cerita. Keberagaman warna itu tidak menghalangi Sang Pohon untuk tumbuh, tetapi malahan membuat Sang Pohon menjadi lebih bernuansa dan indah. Nafas seperti inilah yang ingin disampaikan dalam Culture Fest tahun ini. Dengan mengusung tema “Bhinneka Warna, Satu Asa”, Culture Fest 2014 ingin mengajak kita semua untuk menyadari dan mensyukuri kebhinnekaan yang ada di Indonesia. Demokrasi yang menjadi sistem pemerintahan di Indonesia tentunya tidak akan lepas dari kebhinnekaan, maka kebhinnekaan ini kiranya menjadi kekayaan tersendiri bagi Indonesia. Kebhinnekaan suku, agama, adat-istiadat, budaya, dan sebagainya merupakan modal yang sangat besar untuk kemajuan dan kemakmuran Indonesia. Meski beragam, tetapi tetap demi tujuan yang sama yaitu Indonesia yang adil, makmur, sejahtera, dan beradab. Bhinneka Warna, Satu Asa. (H)

  kembali