Dalam jangka waktu yang lama, cukup sulit bagi banyak orang Indonesia untuk mampu secara piawai mengurus kepentingan bersama sebagai bangsa. Yang sering terjadi adalah sebaliknya, yakni orang lebih suka menyibukkan diri dengan urusan dan kepentingan-kepentingan yang sifatnya sempit, entah itu kepentingan pribadi atau kepentingan kelompok. Akibatnya kepentingan bersama sebagai bangsa menjadi terabaikan. Fenomena seperti ini perlu dipelajari untuk kemudian dicari jalan keluarnya. Salah satu upaya untuk menemukan jalan keluarnya adalah mempelajari sejarah bangsa Indonesia dengan segala aspeknya.
Pokok-pokok pikiran di atas mengemuka dalam acara diskusi terbatas yang diselenggarakan oleh Pusdema (Pusat Studi Demokrasi dan Masyarakat) LPPM-USD di Kampus 2 USD, Senin (17/11). Tampil sebagai narasumber adalah Dr. Hilmar Farid, pendiri dan pembina ISSI (Institut Sejarah Sosial Indonesia), Jakarta. Menurut sejarawan yang sekaligus editor jurnal Inter-Asia Cultural Studies Society itu sebelum datangnya kolonialisme Eropa bangsa-bangsa di Kepulauan Nusantara banyak yang berorientasi maritim. Sebut saja misalnya Kerajaan Makassar, Banten atau Aceh. Namun demikian, pada suatu titik kerajaan-kerajaan tersebut berubah arah dan memunggungi laut. Selanjutnya mereka menyibukkan diri dengan berbagai urusan di darat, seperti misalnya mempertahankan sistem feodalistik atau terlibat dalam berbagai bentuk perebutan kekuasaan. Sejak itu mereka sibuk dengan hal-hal kecil yang sifatnya internal dan kehilangan perspektif untuk melihat hal-hal yang lebih luas cakupannya.
Sekarang ini kecenderungan semacam itu menurut Hilmar Farid perlu dihindari. Jika tidak, katanya, bisa-bisa kita menjadi sebuah bangsa yang lebih tertarik untuk mengurusi hal-hal kecil atau a nation of small things dan lupa akan cita-cita luhur bersama. Salah satu cara untuk menghindarinya adalah dengan mencari akar-akar masalahnya dalam sejarah Indonesia. Dengan mempelajari sejarah, misalnya, kita akan mampu melihat bagaimana merosotnya kemampuan maritim bangsa Indonesia berjalan seiring dengan meluasnya penguasaan laut oleh armada-armada Eropa. Berhadapan dengan kekuatan Eropa itu banyak penduduk Nusantara lalu memilih untuk berkonsentrasi di darat, misalnya menjadi petani. Akan tetapi sistem pertanianpun akhirnya semakin merosot seiring dengan berkembangnya sistem perkebunan kolonial.
Dengan mempelajari sejarah kita bisa melihat tahap-tahap perkembangan bangsa Indonesia dengan lebih jelas. Namun demikian, sayang sekali bahwa selama ini upaya untuk bisa mempelajari sejarah dengan baik sering dihambat. Selain oleh dominasi pemikiran kolonial Eropa dan politisasi sejarah oleh pemerintah Orde Baru, pelajaran sejarah juga dihambat oleh pihak-pihak yang ingin mengarahkan penulisan sejarah agar sesuai dengan pandangan kaum Hadrami atau orang-orang yang dulunya berasal dari Hadramaut, Yaman.
Hadir dalam diskusi terbatas ini sejumlah dosen, mahasiswa, dan alumni Universitas Sanata Dharma. Diskusi ditutup dengan pembahasan mengenai hal-hal yang mutakhir, seperti pemerintahan Presiden Jokowi berikut para menterinya. Dibahas pula kemungkinan-kemungkinan untuk menggalakkan kembali minat sejarah di masyarakat, khususnya kaum muda. (rmb)




