USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Workshop PSIBK: Pendidikan Inklusi dan Terapi Release Point bagi Anak Berkebutuhan Khusus

diupdate: 12 tahun yang lalu


Pusat Studi Individu Berkebutuhan Khusus Universitas Sanata Dharma (PSIBK USD) kembali mengadakan sebuah workshop setelah mengadakan seminar bertajuk “Melihat yang Tak Terlihat” pada bulan September lalu. Workshop yang diadakan pada hari Sabtu, 8 November 2014 di Ruang Drost Gedung Utama Kampus III USD ini berjudul “Workshop Pendidikan Inklusi dan Terapi Release point”.
Workshop tersebut diadakan dengan tujuan memfasilitasi guru dan mahasiswa untuk mengetahui konsep pendidikan inklusi dan terapi relaksasi (release point). “PSIBK dasarnya memberi layanan kepada individu berkebutuhan khusus. Pendidikan adalah suatu sarana untuk memberi layanan tersebut. Inklusi sebenarnya merupakan isu yang sudah cukup lama dalam pendidikan di mana anak berkebutuhan khusus (ABK) diberi hak yang sama untuk bisa masuk ke sekolah reguler. PSIBK ingin menyuarakan itu lagi supaya banyak orang mengetahui tentang itu, terutama pemerhati pendidikan atau calon pendidik,” tutur Ibu Sylvia Carolina M. Y. M., M.Si. selaku Ketua PSIBK USD.
Acara dibuka dengan doa yang dimulai pada pukul 08.30 WIB. Setelah doa selesai dilakukan, acara dilanjutkan dengan pengenalan PSIBK melalui visi dan misi serta latar belakang berdirinya PSIBK. Kemudian, Ketua p\Panitia workshop dan Ketua PSIBK menyampaikan sambutan yang intinya bahwa semua orang berhak mendapat pendidikan termasuk individu berkebutuhan khusus.
Acara dilanjutkan dengan pemaparan materi di sesi 1 oleh Bapak Didik Wardaya, SE, M.Pd. MM selaku Kepala Bidang PLB dan Dikdas Dinas Dikpora Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Bapak Didik memaparkan materi berisi definisi pendidikan inklusi, regulasi mengenai pendidikan inklusi dalam undang-undang, dan penerapan pendidikan inklusi di DIY. Pendidikan inklusi merupakan falsafah tentang pendidikan yang memandang bahwa penyelenggaraan pendidikan merupakan hak untuk semua orang tanpa diskriminasi. Di DIY, bentuk layanan pendidikan inklusi yang sudah ada adalah kelas inklusi (ABK bergabung dengan anak-anak non-ABK), kelas khusus (kelas khusus ABK), dan Sekolah Luar Biasa (SLB). Namun, adanya layanan tersebut tak lantas membuat semua orang bersuka cita. Menurut Bapak Didik, masih banyak orang tua dari anak-anak non-ABK yang menolak adanya ABK di sekolah anak-anak mereka dengan dalih takut tertular dan sebagainya.
Bapak Siebrig Hindrik Schreuder, M. Ed. menjadi pembicara di sesi 2. Bapak Hindrik mengatakan bahwa ABK yang mendapatkan pendidikan baik formal maupun non-formal di DIY hanya sekitar 20% dari ABK yang ada di seluruh DIY. Selain itu, Bapak Hindrik juga mengatakan bahwa sekolah inklusi dan SLB di Indonesia masih jauh dari cukup. Oleh karena itu, aturan mengenai sekolah inklusi dirasa sangat membantu dalam menempatkan ABK di tempat yang tepat.
Selain Bapak Hindrik, Bapak Efisien Dakhi, S.Pd. juga menjadi pembicara dalam sesi 2. Bapak Efisien memaparkan penerapan Individual Learning Plan (ILP) di tempat beliau mengajar. Menurut Bapak Efisien, seorang pendidik tidak bisa hanya menyamaratakan kemampuan seluruh siswanya. Tidak ada yang salah dengan memperhatikan kemampuan masing-masing siswa dan berusaha membantu mereka untuk berkembang. Setelah itu, Bapak Efisien memaparkan sumber-sumber yang bisa digunakan dalam pembuatan ILP dan tahap-tahap pembuatan ILP pada para peserta workshop. Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dan istirahat.
Sesi 3 diisi oleh Bapak Drs. Y. B. Adimassana, M. A. yang memaparkan hasil magang Tim Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) di jurusan Pendidikan Luar Biasa (PLB) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Magang yang dilakukan pada tanggal 19-23 Mei 2014 lalu dilatarbelakangi oleh adanya rencana untuk membuka program studi PLB di USD. Namun, rencana tersebut tentu tidak akan langsung terealisasi. Bapak Adi mengatakan bahwa rencana jangka pendek yang akan ditempuh adalah membuka mata kuliah pilihan PLB di program studi PGSD USD. Bapak Adi kemudian memaparkan mata kuliah yang mungkin akan dibuka setelah berkonsultasi dengan lembaga yang berfokus pada PLB dan jurusan PLB UPI Bandung. Menurut Bapak Adi, latar belakang dari adanya rencana membuka program studi PLB di USD adalah kesulitan yang dialami sekolah inklusi maupun SLB dalam mencari guru PLB.
Sesi terakhir diisi oleh Ibu Theresia Arum W., M. Psi., Psikolog. yang memaparkan materi mengenai terapi relaksasi (release point). Menurut Ibu Arum, ada kalanya anak merasa stres dengan segala hal yang terjadi di sekelilingnya. Berbeda dengan orang dewasa, anak belum mengetahui secara pasti apa yang menyebabkan stres tersebut. Oleh karena itu, terapi release point dirasa dapat digunakan sebagai salah satu alternatif untuk meredakan stres yang dialami anak. Pada sesi ini, Ibu Arum mengajarkan teknik-teknik yang dapat dipraktikkan langsung oleh para peserta workshop yang kemudian diakhiri dengan sesi tanya jawab.
Pendidikan memang merupakan hak semua orang. Adanya upaya PSIBK untuk menyuarakan hak para ABK menandakan bahwa masih banyak ABK yang tidak mendapatkan apa yang seharusnya mereka dapatkan. Oleh karena itu, mari kita sadari bahwa hak para ABK bisa kita berikan dengan mendukung realisasi pendidikan inklusi baik dalam pendidikan formal maupun formal. (Rz)

  kembali