Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma pada hari Sabtu, 8 November 2014 mengadakan Seminar Sanata Dharma Berbagi di Ruang Multimedia Lantai 3, Kampus III Universitas Sanata Dharma, Paingan. Seminar yang bertema “Penemuan dan Pengembangan Terapi Kanker Payudara” ini dibuka oleh Wakil Rektor I USD Dr. Rita Suhadi, M.Si., Apt. Peserta yang hadir terdiri dari Kalangan Industri, Akademisi, Apotek, Mahasiswa USD, Mahasiswa luar USD, Alumni, dan Umum (seperti: Ibu Rumah Tangga).
Dalam sambutannya, Dr. Rita Suhadi, M.Si., Apt., menuturkan bahwa jumlah doktor khususnya di Universitas Sanata Dharma semakin banyak. Para doktor ini mestinya memberikan kontribusi nyata untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Salah satunya di bidang kesehatan, terutama bagi penemuan dan pengembangan terapi kanker payudara. “Jumlah doktor sekarang semakin banyak. Para doktor ini perlu membagikan sesuatu kepada masyarakat. Kalau abad ke-20 dulu, orang punya semboyan “Aku adalah apa yang aku miliki”. Tetapi di abad ke-21 ini semboyan itu berubah, “Aku adalah apa yang aku bagikan”,ungkapnya di sela-sela sambutan. Beliau juga mengungkapkan keprihatinan terhadap tren kanker payudara yang terus meningkat. “Sebenarnya kanker payudara merupakan penyakit di negara maju. Ironinya, angka kematian tertinggi akibat kanker payudara ini justru terjadi di negara berkembang, seperti: Indonesia.” tuturnya. Dalam menyongsong 60 tahun Univeristas Sanata Dharma, dosen Fakultas Farmasi ini mengajak semua pihak untuk semakin banyak berbagi.
Tiga orang doktor sekaligus dosen Fakultas Farmasi USD mempresentasikan judul penelitian mereka masing-masing, yaitu: Enade Perdana Istyastono, Ph.D., Apt (Virtual Screening in Indonesia in April 2013 “Free” and Open Source), Dr. Sri Hartati Yuliani, M.Si.,Apt (Sediaan Transdermal sebagai Strategi Pengobatan Tertarget Kanker Payudara), dan Dr. Erna Tri wulandari, M.Si., Apt (Isolasi Senyawa Sitotoksik terhadap Sel Kanker Payudara). Ada dua hal pokok yang dipaparkan oleh Enade Perdana Istyastono, Ph.D., Apt., dalam presentasinya, yaitu: 1) Virtual screening dapat digunakan untuk mengembangkan obat baru, dan 2) Beliau bersama grup penelitiannya telah berhasil mengembangkan PyPLIF, sebagai sebuah software unfavorable dan favorable yang gratis. Dr. Sri Hartati Yuliani, M.Si.,Apt., memaparkan tentang pengembangan sediaan transdermal yang memiliki beberapa keuntungan dibandingkan pemberian obat antikanker oral dan injeksi, antara lain: Meningkatkan selektivitas terapi kanker payudara. Sedangkan Dr. Erna Tri wulandari, M.Si., Apt., berhasil menemukan β-Sitosterol pada tanaman Sisik Naga (Pyrrosia piloselloides (L.) C. Price) yang berpotensi sebagai terapi kanker payudara selektif.
Para peserta seminar diberi kesempatan untuk bertanya. Mereka tampak cukup antusias untuk mengetahui lebih jauh tentang hasil penelitian yang dipaparkan oleh narasumber. Seiring berjalannya diskusi, para peserta tidak hanya bertanya, melainkan juga berbagi pengalaman kepada peserta lain. Bahkan salah satu peserta mengaku bahwa ibunya menderita kanker payudara stadium akhir. Kondisi ini membuat jalannya diskusi penuh suasana keakraban.
“Kami sangat tertarik dengan topik kanker ini. Sebentar lagi kami akan ditempatkan untuk mengajar di salah satu daerah terpencil di NTT. Di sana guru dianggap sebagai raja oleh masyarakat yang tahu banyak hal, termasuk tentang kesehatan. Jadi, kami terlibat dalam seminar ini untuk menambah wawasan, agar ketika masyarakat bertanya tentang kanker payudara dan pengobatannya, kami bisa menjawab,” Ungkap Isda dan Mawan setelah acara selesai. Mereka adalah peserta awam yang berasal dari Bantul. (LIV)




