Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma (USD) kembali menyelenggarakan konferensi internasional yang bertajuk The 2nd Literary Studies Conference (LSC). Menyusul kesuksesan konferensi tahun sebelumnya, tahun ini LSC mengangkat tema De/Reconstructing Southeast Asian History Through Literature. Konferensi tersebut diselenggerakan selama dua hari pada tanggal 16-17 Oktober 2014 di Ruang Multimedia lantai 3 Gedung Utama Kampus III USD Paingan.
LSC merupakan konferensi yang dilaksanakan setiap tahun oleh prodi Sastra Inggris USD dengan mengundang para akademisi dari ranah sastra untuk saling berkontribusi mengembangkan dan meningkatkan wawasan akademis. LSC dibentuk sebagai wadah bagi para civitas akademis untuk berdiskusi bersama dan memiliki kesempatan untuk saling bertemu dan berbagi ilmu. Tema yang disinggung tahun ini merupakan bentuk kepedulian atas hubungan antara sastra dan sejarah. Anna Fitriati, S.Pd., M.Hum. selaku Ketua Panitia menjelaskan bahwa sastra dan sejarah sering kali diperbandingkan. “Ada yang mengatakan bahwa sastra adalah cerminan sejarah, ada yang mengatakan bahwa sastra itu bisa merekontruksi sejarah. Nah, sekarang kita menyatukannya untuk dibahas bersama-sama. Tidak untuk dibeda-bedakan tapi untuk melihat bagaimana sejarah dan sastra bisa berkolaborasi.” begitu tegas Anna Fitriati.
Konferensi yang diadakan selama dua hari ini terbagi ke dalam tiga sesi pleno dan tiga sesi paralel. Pleno pertama diisi oleh Prof. Pam Allen dari University of Tasmania sebagai pembicara dan dimoderatori oleh Paulus Sarwoto, M.A., Ph.D. dari USD. Prof. Pam Allen yang berhalangan untuk datang ke Indonesia menyampaikan presentasinya melalui teleconference. Setelah pleno pertama dan sesi coffee break, para peserta mengikuti presentasi yang disajikan oleh para presenter dalam dua sesi paralel yang dibagi dalam tiga ruangan. Konferensi di hari pertama ditutup dengan pleno kedua yang disampaikan oleh Dra. A.B. Sri Mulyani, M.A., Ph.D. dari USD sebagai pembicara yang membahas karya ilmiah beliau yang berjudul Negotiating Borders, Re-writing the Past in the Novel by Southeast Asian Ethnic Chinese Women Writers in English. 



