Pusat Studi Individu Berkebutuhan Khusus Universitas Sanata Dharma (PSIBK USD) pada hari Sabtu, 27 September 2014 menyelenggarakan acara seminar dengan tema “Melihat yang Tak Terlihat”, bekerjasama dengan Steering Commite. Seminar diadakan di Ruang Xaverius, Kampus I USD Mrican.
Peserta seminar ini berasal dari berbagai kalangan seperti guru, dosen, dan mahasiswa. Panitia mengundang tiga pembicara dari berbagai bidang dan latar belakang yaitu Dr. Didi Tarsidi, dosen dari Universitas Pendidikan Indonesia yang mengalami kebutaan setelah usia lima tahun, Sr. Magda PMY dari Yayasan Helen Keller Indonesia dan Drs. Bambang Basuki yang mengalami kebutaan sejak SMA dan berhasil menyelesaikan kuliah di Pendidikan Bahasa Inggris di IKIP Jakarta yang saat ini menjabat sebagai Ketua Yayasan Mitra Netra yang bergerak di bidang pendampingan dan pendidikan untuk tunanetra. Ketiga pembicara tersebut mengalami difabilitias (tunanetra). Dengan demikian, pembicara dapat berbagi cerita dan pengalaman mengenai kisahnya maupun saat terjun langsung dalam dunia pendidikan.
Selain memahami sudut pandang orang yang mengalami kebutaan, seminar ini juga mengajak para peserta untuk dapat memahami pergulatan mereka dalam hal penerimaan diri, seperti yang dialami oleh para pembicara. Melalui seminar ini, peserta juga diharapkan mendapat pengetahuan mengenai pentingnya pendidikan bagi tunanetra. Melalui seminar ini pula peserta diharapkan semakin memahami dan peduli akan kebutuhan anak-anak difabel sehingga pada akhirnya peserta tergerak hatinya untuk bertindak secara langsung.
Pembicara tak hanya berbagi pengalaman dalam menangani anak tunanetra, namun juga memberikan materi kepada peserta. Pada awalnya peserta diberikan materi mengenai cara mengidentifikasi tunanetra dan pembelajaran untuk anak tunanetra oleh Dr. Didi Tarsidi. Pak Bambang menjelaskan mengenai perlunya asesmen dan layanan bagi penderita tunanetra. Selanjutnya, peserta mendapatkan gambaran mengenai program pendidikan bagi tunanetra yang disampaikan oleh Sr. Magda dari Yayasan Helen Keller. Peserta juga mendapatkan materi mengenai manajemen pusat sumber, tantangan, dan alternatif solusi bagi peserta didik khusus tunanetra.
Lewat kegiatan ini, peserta mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai sudut pandang seseorang yang mengalami kebutaan dan cara-cara mengajar anak tunanetra. Salah seorang peserta mengungkapkan bahwa bagian yang paling menarik dalam seminar ini adalah pada saat penjabaran proses pembelajaran bagi anak-anak penderita tunanetra mulai dari hal-hal sederhana hingga hal-hal yang lebih kompleks.
Seminar serupa akan diadakan kembali pada tanggal 8 November 2014 mengenai pendidikan inklusi. Rencananya seminar tersebut tetap akan mengusung tema tentang anak berkebutuhan khusus. “Kami memulai dari yang tak melihat, hingga selanjutnya orang-orang mampu mengenal dan memahami lebih jauh mengenai anak-anak berkebutuhan khusus. Pada akhirnya kami menginginkan orang lain memiliki keinginan untuk membantu anak-anak berkebutuhan khusus”. demikian disampaikan oleh Ibu Sylvia Carolina Maria Yuniati Murtisari, M.Si. selaku Ketua PSIBK USD. (adap)




