Bertempat di Aula Kampus I USD Mrican, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Ballet Tutu Club Universitas Sanata Dharma mementaskan pagelaran perdana yang berjudul Red Curse, Living Dream pada 27 September 2014. Tutu club merupakan UKM Ballet pertama di USD dan pertama di universitas se-Yogyakarta.
UKM Tutu Club diikuti oleh mahasiswa Universitas Sanata Dharma (USD) dan Politeknik Mekatronika Sanata Dharma (PMSD). Selain itu, dalam lakon perdananya ini, Tutu Club juga bekerja sama dengan beberapa penari dari Bailamos Dance Studio serta mendapatkan bantuan dari teman-teman Institut Seni Indonesia (ISI). Pentas Red Curse, Living Dream dimulai pada pukul 19.00, acara dibuka oleh sambutan dari Rm. Patrisius Mutiara Andalas, S.J., S.S., S.T.D., selaku Wakil Rektor III USD bidang kemahasiswaan. Tan Michael Chandra sebagai pimpinan produksi juga turut serta memberikan kata sambutan. Tan menyatakan bahwa pementasan perdana oleh satu-satunya UKM Ballet di Yogyakarta telah melewati proses persiapan dan latihan selama lima bulan. Sebelum memasuki inti dari pagelaran ballet, acara dibuka dengan tarian tradisional Jawa yang ditarikan oleh anak-anak SD Kanisius Muntilan.
Red Curse Living Red menceritakan tentang sebuah dongeng di suatu kerajaan yang sedang berbahagia atas kelahiran sang putri. Pesta pun digelar dan para peri diundang, akan tetapi, seorang peri jahat yang murka karena tak diundang, memberikan kutukan kepada sang putri. Kutukan dari Maleficent baru akan terwujud ketika putri Aurora berumur 16 tahun dan akan sirna ketika seorang pangeran mencium sang putri. Cerita tersebut dikemas ke dalam sebuah tarian ballet secara anggun dan sangat indah, diiringi oleh alunan musik dramatis serta kostum yang bagus. Para penari menarikannya dengan gemulai dan disertai oleh ekspresi muka yang dramatis. Para penonton yang hadir sangat menikmati dan terpukau akan keindahan tarian dalam pagelaran tersebut.
Terdapat beberapa tujuan atas berlangsungnya pagelaran Red Curse Living Red ini. Beberapa tujuannya adalah untuk mempromosikan UKM Ballet Tutu Club, serta dijadikan sebagai wadah ekspresi anggota, dan pagelaran ini bertujuan untuk membantu pembangunan SD Kanisius Muntilan yang pernah terkena letusan Gunung Merapi.
Berproses selama lima bulan tentunya bukanlah hal yang mudah. Ketika ditanya akan suka dan duka dalam berproses, Tan Michael mengatakan bahwa yang dirinya rasakan hanyalah suka. “Sukanya melihat semua panitia dan penari benar-benar bekerja keras untuk mempersiapkan pagelaran ini. Dukanya tidak ada karena selama kita menjalaninya dengan enak, semua masalah pasti bisa terselesaikan dengan baik.” demikian ungkapnya. Sebagai pimpinan produksi, Tan Michael mengungkapkan, “pementasan tahun ini terhitung sukses, semoga pementasan tahun depan bisa lebih baik lagi.” Pagelaran yang sukses ini ditutup oleh perkenalan para penari serta para panitia dan ucapan syukur serta terima kasih yang disampaikan oleh Brigitta Yulielza C. selaku koreografer.
Mengutip sambutan dari Dewi Widyastuti, S.Pd., M.Hum., selaku pendamping UKM Tutu Club, “Kesempurnaan sebuah pagelaran ballet tidak terletak pada seberapa mulus jeté dilakukan atau seberapa indah pirouette diselesaikan. Kesempurnaan terletak pada persiapannya.” Melihat dari perjuangan para panitia serta penari yang telah melakukan persiapan yang cukup lama, konsistensi, ketekunan, komitmen, dan solidaritas merupakan titik penting atas kesuksesan pagelaran ini. Bravo Tutu Club Universitas Sanata Dharma. Semoga kesuksesan pagelaran perdana UKM ballet pertama di USD ini dapat menjadi pioneer untuk mahasiswa USD membentuk UKM bermanfaat lainnya. (J)




