Fenomena berwisata ala backpacker menjadi cara yang sedang menjamur di kalangan muda. Selain irit dalam hal biaya, wisata ala backpacker dapat meninggalkan kesan tersendiri bagi mereka yang hobi berwisata.
Pembicaraan mengenai wisata ala backpacker tersebut dihadirkan dalam sebuah seminar, bertempat di Kampus 2 Universitas Sanata Dharma Yogyakarta,yang diselenggarakan oleh Program Magister Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma” pada hari Jumat (19/9). Tema seminar ini adalah “ASCOLTACI: Backpacker dalam Imajinasi Etnografi”.
Ascoltaci adalah rangkaian seminar bulanan hasil penelitian yang diselenggarakan di Pascasarjana Universitas Sanata Dharma. Ascoltaci yang berarti “dengarkanlah kami” mengajak para peserta seminar untuk mendukung para peneliti muda dengan mendengarkan mereka dan teman-temannya.
Seminar tersebut dihadiri oleh Romo Dr. Gregorius Budi Subanar, S.J., selaku Ketua Program Magister Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma. Turut hadir pula Ir. Heri Lantjono selaku Sekretaris Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta yang pada kesempatan tersebut juga dihadirkan sebagai narasumber.
Dalam sambutannya, Romo Dr. Gregorius Budi Subanar, S.J. menjelaskan bahwa
Ascoltaci ini adalah kegiatan Program Magister Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma yang bersamaan dengan Ascoltate, sebuah festival musik bulanan yang diselenggarakan di Pascasarjana Institus Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Tiga narasumber yang dihadirkan dalam seminar tersebut adalah (1) Lisistrata Lusandiana, (2) Anne Shakka Ariyani, dan (3) Ir. Heri Lantjono dari Dinas Pariwisata DIY. Jalannya seminar dipandu oleh Umi Lestari sebagai moderator.
Lisistrata Lusandiana sebagai pembicara pertama menyampaikan makalah dengan judul “Identitas Backpacker: Berebut Ruang dalam Budaya Keseharian”. Makalah tersebut merupakan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Lisis selama enam bulan. Sepuluh backpacker dijadikan partisipan dalam penelitian tersebut. Dari paparan para backpacker tersebut didapat beberapa cerita dan alasan yang menjadi latar belakang perjalanan serta gaya hidupnya kini.
Pembicara kedua, Anne Shakka Ariyani menyampaikan makalah dengan judul “Imajinasi Etnografi dalam Penelitian Kajian Budaya”. Yang menjadi pokok perbincangan dalam pembahasan tersebut adalah istilah imajinasi etnografi yang digunakan oleh Paul Willis untuk merangkum apa yang dilakukan dalam penelitiannya. Istilah imajinasi digabungkan dengan istilah etnografi karena etnografi menjadi suatu landasan empiris dan konseptual di mana imajinasi akan bermain.
Sebagai pembicara ketiga adalah Ir. Heri Lantjono, selaku Sekretaris Dinas Pariwisata Yogyakarta yang mempresentasikan tentang “Kebijakan Pengembangan Kepariwisataan DIY”. Garis besar isinya adalah tentang situasi pariwisata di Daerah Istimewa Yogyakarta. Pada tahun 2020, sektor pariwisata diramalkan menjadi industri terbesar di dunia.
Acara seminar Ascoltaci ini bertujuan untuk mengenali berbagai persoalan dan isu budaya masyarakat dan mengembangkan gagasan-gagasan terobosan untuk kebaikan bersama berdasarkan hasil penelitian. Acara seminar diakhiri dengan pemberian kenang-kenangan dari panitia kepada para pembicara. Sugi, selaku Ketua Panitia Ascoltaci menyampaikan bahwa acara tersebut menjadi agenda yang sangat membanggakan. Ia juga menyampaikan terimakasih atas dukungan Universitas Sanata Dharma dan kerja keras semua pihak yang telah membantu penyelenggaraan seminar. (DPTH)




