USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Peran Matematika dan Pendidikan Matematika dalam Pembangunan Nasional

diupdate: 12 tahun yang lalu


Program Studi Matematika dan Pendidikan Matematika Universitas Sanata Dharma (USD) pada hari Sabtu, 13 September 2014 menyelenggarakan Seminar Nasional di Ruang Drost, Kampus III USD Paingan. Seminar ini dihadiri oleh para ahli matematika dan pendidikan matematika, guru, dosen, mahasiswa, dan praktisi. Seminar dengan tema “Peran Matematika dan Pendidikan Matematika dalam Pembangunan Nasional” ini bertujuan untuk menjalin komunikasi di antara para peserta sebagai sebuah forum ilmiah sehingga tercipta forum tukar pendapat atau diskusi, dan lebih lanjut lagi sebagai awal untuk melakukan penelitian. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi bentuk untuk mempromosikan USD yang harapannya tidak hanya di kancah Nasional saja tetapi skala Asean dan bahkan skala Internasional. 
Seminar ini menghadirkan tiga pembicara yaitu Prof. Dr. Stephen Roberts dari Australian National University, Dr. Y.G. Hartono, Ph.D dari Program Studi Matematika USD, dan Prof. Dr. St. Suwarsono dari Program Studi Pendidikan Matematika USD dan selanjutnya diadakan forum dialog di antara peserta dalam tiap kelompok yang telah disiapkan oleh panitia.
“Tentu kita bertanya-tanya di dalam diri kita, apa dan bagaimana peran atau hubungan Matematika dan Pendidikan Matematika dalam pembangunan nasional. Mungkin kita hanya berpikir sempit bahwa matematika hanya pola hitungan. Kiranya kita perlu memperluas paradigma kita terhadap aplikasi atau terapan ilmu agar semakin mampu menjawab persoalan dan tantangan yang ada. Sasarannya dalam sumbangan terhadap pembangunan Nasional  adalah pengembangan kreatif teori dan pembangunan karakter bangsa”, demikian ungkapan Bapak Sudi Mungkasi, Ph.D selaku Ketua Panitia Seminar Nasional sekaligus dosen program studi Matematika USD.
Prof. Dr. Stephen Roberts sebagai pembicara dan keynote speaker di dalam seminar tersebut mengungkapkan bahwa ternyata Matematika dapat diterapkan atau digunakan di dalam kehidupan konkret untuk menjawab persoalan yang terjadi dengan teori matematika yang ditemukan. “Bencana alam memang tidak bisa dihindari, tetapi efek dari bencana itu bisa kita minimalisir. Melalui pemodelan dan simulasi, kita bisa membuat suatu skenario dengan komputer atau logika pemikiran matematika, sehingga bila ada bencana, kita bisa mengantisipasi”, tandasnya.  Temuan teori yang dihasilkan oleh Prof. Dr. Stephen Roberts adalah pencegahan efek bencana alam tsunami yang akhir-akhir ini terjadi.
Sebagai pembicara kedua, Y.G. Hartono, Ph.D membahas perkembangan optimal control yang telah dimulai sekitar abad 17 sampai dengan abad modern. Macam-macam masalah optimal control yang telah diberikan, seperti epidemical model diselesaikan dengan dua pendekatan utama yaitu prinsip-prinsip maksimum Pontryagin yang ditemukan oleh orang Soviet dan Pemprograman Dinamis. “Berkembangnya optimal control dipicu oleh penemuan komputer dan perkembangan teknologi yang pesat. Banyak metode numeris yang kemudian ditemukan untuk menyelesaikan masalah optimal control yang tidak memungkinkan diselesaikan secara manual. Salah satu metode yang banyak digunakan untuk itu adalah dengan mengubah masalah optimal control menjadi masalah pemprograman non-linear. Metode penalti digunakan untuk menyelesaikan masalah optimal control yang berkendala melalui pendekatan prinsip maksimum Pontryagin maupun pemprograman Dinamis di mana perubahan variabel yang sangat dinamis”, demikian tandasnya.
Prof. Dr. St. Suwarsono sebagai pembicara ketiga, mengungkapkan bahwa pendidikan matematika mempunyai potensi yang besar untuk menyumbang pembangunan budaya bangsa terlebih bila kita memperhatikan pendidikan multidisipliner. Sebenarnya Negara kita tidak miskin dan tidak terbelakang. Kita sudah mempunyai pendidikan yang bagus, maka kita perlu membangun budaya bangsa kita dengan pembangunan karakter nilai dalam pragmatis, mental, dan pemikiran. Mengacu pada ungkapan Presiden terpilih, Joko Widodo, kita perlu mengadakan revolusi mental. “Ada banyak korupsi dan kemiskinan. Budaya lahir dari kebiasaan, bahkan hal yang kurang baik pun berkembang dari kebiasaan yang mengakar. Maka kita perlu mentransformasi mental dan paradigma. Contoh, apabila kita hutang sebesar nominal uang yang diberikan oleh saudara kita, maka kita harus membayarkan sesuai dengan jumlah nominal yang kita pinjam walau itu berasal dari saudara sendiri.  Atau apabila kita membuat soal hitungan matematika, maka kiranya kita menuliskan kalimat positif di dalam cerita tersebut. Pendidikan Matematika akan mendukung niat baik dengan cara yang digunakan dengan baik pula, disadari dengan pola nalar pikir yang baik”, demikan tandasnya.
Di akhir sesi seminar Nasional tersebut, Dr. M. Rudhito, S.Pd. memberikan kesimpulan yang salah satunya mengungkapkan bahwa Matematika dan Pendidikan Matematika tidak sekedar memberikan materi ataupun hanya mencetak lulusan-lulusan muda, tetapi juga juga mendidik peserta didik yang cerdas dan punya karakter dengan semboyan 3C (Competence, Conscience, dan Compassion). ini tidak hanya sebagai wacana tetapi sebuah bentuk aplikatif yang perlu diperjuangkan terus menerus. (FXAP)

  kembali