Kunci sukses dalam peningkatan daya saing Yogyakarta dari perspektif pariwisata dan ekonomi adalah sikap mental para pemangku kepentingan (stakeholder) industri pariwisata. Mereka adalah warga Jogja, Pemerintah Daerah, Kantor Imigrasi, PT. Angkasa Pura, Maskapai Penerbangan, Travel Agent, Hotel dan Restoran, Transportasi, Pelaku Atraksi dan Obyek Wisata, Sarana Transportasi, Pebisnis, Perguruan Tinggi/Pusat Studi. Demikian pernyataan Dr. James J. Spillane, SJ dalam seminar Dies Natalis Sanata Dharma ke-52 di Kampus III Paingan (15/12). Yang dimaksud sikap mental di sini adalah ethos kerja yang sehat, produktif, dan berprestasi. Spillane mencontohkan ethos kerja yang baik adalah pemerintah melakukan koordinasi pemasaran pariwisata, Kantor Imigrasi membuat peraturan yang tourism friendly, airport bisa digunakan untuk mengekspor barang kerajinan yang tidak terlalu berat, dan maskapai penerbangan memberikan lebih banyak rute internasional. Di samping itu biro wisata sebaiknya menerbitkan directory atau situs khusus tentang kuliner dan paket-paket wisata. "Penyedia atraksi wisatapun harus mampu meningkatkan inovasi atraksi", tegasnya. "Dan jangan lupa, pusat studi dan biro perjalanan harus bekerja sama dalam perencanaan promosi", tambahnya. Sementara itu Prof. Dr. P.J. Suwarno yang melihat dari perspektif sejarah dan ketatanegaraan, Jogja merupakan contoh kota yang mengembangkan semangat nasionalisme dan memajukan pendidikan. Menurut guru besar Ilmu Sejarah USD ini rentannya kesatuan bangsa yang multikultural akan terus menggerogoti bangsa Indonesia. "Jogja dan termasuk USD bisa dijadikan untuk menyuarakan penghargaan terhadap nilai manusia, persaudaraan yang inklusif, serta pengembangan budaya yang multi kultural", tegasnya. Hal ini juga didukung oleh GBPH H. Joyokusumo yang juga menjadi pembicara bahwa hubungan masyarakat pendatang dan asli jarang sekali melahirkan konflik. Gusti Joyo berharap agar dalam "Meningkatkan Daya Saing Yogyakarta" sesuai tema seminar ini masyarakat Jogja dapat ikut mengembalikan nilai-nilai kebersamaan antar agama dan golongan", tambahnya. (Tti)




