Tim Eksplorasi Mahasiswa Pencinta Alam Sanata Dharma (Mapasadha) tiba di sekretariat Mapasadha, Jumat pagi, 15 Agustus 2014. Tim yang beranggotakan delapan orang mahasiswa aktif Universitas Sanata Dharma ini baru saja melakukan kegiatan penyusuran gua di Tasikmalaya, tepatnya di Desa Wakap, Kecamatan Bantarkalong. Mereka adalah Riki Riandy (Akuntansi 2010), Dwi Ratnasari Lewi (Sastra Inggris 2010), Yudhi Raharjo (Pend. Sejarah 2010), Filipus Bhakti Wirayuda (PBSI 2014), Ni Putu Rusmitha Cintya Dewi (Akuntansi 2012), Maria Audrey Marjorie (Psikologi 2012), Satrio Widya Tama (Sastra Inggris 2012), dan Fransisca Ressa Utari (Pend. Biologi 2013). Tim meninggalkan Yogyakarta menggunakan bus pukul 18.22 WIB, setelah sebelumnya mengadakan upacara pelepasan di Kampus II Universitas Sanata Dharma.
Selama sepuluh hari, tanggal 4-14 Agustus 2014, tim menyusuri lima gua, yakni Gua Apit, Gua Batu Badak, Gua Cukang Leumah, Gua Curug Awul, dan Gua Lanang. Jenis gua yang dimasuki beragam. Gua Apit dan Gua Curug Awul merupakan gua vertical, Gua Lanang merupakan gua horizontal, Gua Batu Badak dan Gua Cukang Lemah merupakan gua vertikal-horizontal. Gua vertikal adalah gua yang tegak lurus sampai ke dasar. Dibutuhkan tali untuk menuruninya. Sedangkan gua horizontal adalah bentuk gua yang mendatar dan dapat ditelusuri dengan berjalan, merangkak, merayap, dan sebagainya. Ketika memasuki jenis gua ketiga, dengan sendirinya kita mesti melakukan kedua cara memasuki gua, vertikal dan horizontal.
Gua-gua di Jawa Barat, termasuk gua-gua yang dimasuki oleh tim, merupakan jenis gua karst dengan batuan yang masih muda. Sehingga merupakan tantangan tersendiri bagi tim untuk mencari anchor yang kuat saat hendak membuat lintasan SRT (Single Rope Technique) atau teknik turun menggunakan satu tali pada saat menyusuri gua vertikal. Tantangan lain yang dihadapi oleh tim adalah cuaca yang tidak menentu. Ketika menyusuri gua horizontal, tim harus waspada terhadap hujan yang bisa turun kapan saja. Gua horizontal yang dimasuki oleh tim memiliki aliran sungai bawah tanah sehingga jika terjadi hujan, volume air di dalam gua meningkat dan dapat terjadi banjir.
Selain melakukan penyusuran gua, tim juga melakukan pendataan
terhadap biota di dalamnya. “Ada jangkrik gua yang punya sungut panjang, serangga yang mirip laba-laba tapi bercapit, kelelawar-kelelawar yang menggantung di atap gua, sampai kodok yang kakinya panjang,” ungkap Ressa. Ciri hewan di dalam gua berbeda dengan hewan di luar gua. Seperti jangkrik di dalam gua yang memiliki antena atau sungut lebih panjang daripada jangkrik di luar gua. “Antena tersebut berfungsi sebagai pengganti indera penglihatan, bentuk adaptasi terhadap lingkungan gua yang memiliki intensitas cahaya rendah,” lanjutnya.
Banyak pengalaman baru yang dialami tim pada eksplorasi kali ini. Di antaranya pengalaman melewati sump di Gua Cukang Leumah. Sump merupakan bagian gua berupa lorong yang terendam oleh air. Untuk melewatinya, tim harus menyelam selama kurang lebih tiga detik. “Ini bagian paling mendebarkan. Ada perasaan takut, namun harus dibuang jauh-jauh karena sudah sampai di sini,” kata Tuya menceritakan pengalamannya.
Di luar gua, tim juga mencari data mengenai kearifan lokal daerah setempat yang menyertai keberadaan gua. Banyak kisah yang masih diturunkan sejak tahun 60-an sampai sekarang. Kisah tersebut kebanyakan diceritakan untuk menakut-nakuti anak kecil agar tidak bermain-main di sekitar mulut gua karena berbahaya. Salah satunya adalah kisah Apit, seorang pemuda yang terjatuh ke dalam gua ketika sedang mencari rumput. “Saat itu Apit langsung dievakuasi oleh warga.” ujar Uwa Ikah dalam Bahasa Sunda. Uwa Ikah bisa dibilang adalah sesepuh di kampung. Dari beliaulah tim mendapatkan informasi-informasi yang dibutuhkan.
Sebelum meninggalkan Tasikmalaya, tim menyempatkan diri untuk mampir ke sekretariat Khaniwata, Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Negeri Siliwangi. Tim beramah-tamah dan saling bertukar pengalaman dengan teman-teman Khaniwata. “Mereka sangat ramah dan terbuka sehingga kami cepat akrab.” tandas Yudhi. Tim menuju kembali ke Jogja (14/8) malam menumpang kereta dari stasiun Tasikmalaya diantar oleh teman-teman dari Khaniwata. Satu kisah petualangan lagi yang telah terukir. Sampai jumpa di kisah-kisah petualangan berikutnya! (mc-mpsd)




