"Coming here was to my house at all times, when you are in a messy problem. Don't be shy, I do not mind, think of your own home. Devote all your tears in every story, so you’re satisfied. So you can come back to life again, was caught by problems. Vent all your emotions in every speech. it’s all you’ll feel relieved and happy." demikianlah sepenggal puisi yang berjudul "Home" membuka “Seminar Dosen Sanata Dharma Berbagi” yang dibacakan oleh Dr. Yoseph Yapi Taum, M.Hum. dosen Program Studi Sastra Indonesia USD sebagai moderator seminar.
Seminar Dosen Sanata Dharma Berbagi terselenggara pada tanggal 14 Agustus 2014, berkat kerjasama dari para dosen Fakultas Sastra USD beserta dengan pihak Rektorat USD, dihadiri oleh berbagai dosen perwakilan USD dan beberapa tamu undangan dari berbagai Universitas luar USD. Seminar dosen ini menjadi upaya meningkatkan peran serta USD dalam menanggapi permasalahan identitas dalam percaturan peradaban manusia di era post modern dengan mengusung tema "Migran, Identitas, dan Bahasa". Hadir sebagai pembicara adalah tiga doktor baru dari Fakultas Sastra USD yaitu Dr. B. Ria Lestari, M.S.; Dr. Lucia Juningsih, M.Hum.; dan Dr. Gabriel Fajar Sasmita, M.Hum.
Dalam seminar dosen tersebut, Rektor USD Drs. Johanes Eka Priyatma, M.Sc,;
Ph.D mengatakan bahwa berbicara soal identitas akhir-akhir ini marak terjadinya perebutan klaim daerah dan budaya antara bangsa yang satu dengan yang lain. Contoh konkret persengketaan antara Indonesia dan Malaysia tahun 2000 tentang klaim pulau ligitan atau kesenian Reog Ponorogo. "Indonesia sudah menentukan sikap untuk event before tentang kesatuan sejak tahun 1928 melalui sumpah pemuda. Berbeda dengan Malaysia yang baru menentukan sikap kesatuan pada tahun 2008-2009", tandasnya. Dihubungkan dengan migran dan bahasa, ciri orang Indonesia sangat adaptif. Hal ini ditunjukkan lewat peran para kaum migran yang berjuang untuk bertahan hidup. Yang berasimilasi bukan sekedar bahasa dan cara hidup tetapi juga budaya. Lewat majunya informasi dan teknologi semakin mampu membuatnya lebih nyaman, masih tetap berkomunikasi. Mereka (kaum migran) tetap mampu mempertahankan identitas, walau hanya sekedar kewarganegaraan. Kita menyadari bahwa semakin intensifnya perkembangan teknologi komunikasi, kita kehilangan sekat atau terjadinya jenjang antara digital apahet (mereka yang tidak tahu teknologi) dan mereka yang berdaya soal teknologi.
Dr. B. Ria Lestari, M.S sebagai penyaji pertama menyampaikan bahasa mengenai Wacana Rapat Dinas: Kajian Sosiopragmatik dan Kewacanaan Studi Kasus Rapat Dinas di USD dan DPRD DIY. "Di dalam rapat formal DPRD masih sering digunakan kata 'monggoh' atau beberapa frasa di dalam bahasa Arab untuk membuka acara dan menutup acara. Juga menjumpai rapat dosen program studi pendidikan sejarah menggunakan bahasa jawa ngoko oleh para peserta yang masih sebaya pautan usianya", tandasnya. Beliau mengungkapkan bahwa dengan mengkaji dua lembaga yang berbeda diharapkan dapat dijumpai penggunaan tuturan yang berbeda-beda pula sehingga dapat ditemukan pula bentuk-bentuk dan fungsi-fungsi tuturan yang berbeda. Selain itu, pragmatik juga mengkaji tutur yang berhubungan sangat erat dengan fungsi tuturan. Jika dihubungkan dengan tuturan dan struktur wacana menggambarkan identitas variasi tuturan. Variasi bentuk tuturan bukan hanya tampak pada susunan kata, tetapi dapat juga pada pilihan kata. Variasi-variasi tersebut ditentukan oleh tempat pembicaraan, peserta pembicaraan dan latar belakang peserta pembicaraan. Untuk menghormati orang lain, menggunakan kata 'monggoh'. Penggunaan simbol juga menggambarkan identitas, seperti identitas nasionalisme yang digambarkan dengan 'ketok palu' atau pemukulan gong. Identitas dihubungkan dengan bahasa menggambarkan kesopan-santunan dalam berbahasa.
Dr. Lucia Juningsih, M. Hum sebagai penyaji yang kedua menyampaikan presentasi tentang transformasi dan adaptasi pada masyarakat Jawa di pantai barat semenanjung Malaya tahun 1900-1957 antara orang Jawa migran dan Jawa Melayu. "Dulunya banyak orang jawa yang melakukan transmigrasi. Alasannya bermacam- macam seperti lari karena tidak ingin dijodohkan, atau ekenomi yang rendah atau mencari hidup yang lebih baik", tandasnya. Maka mereka disebut orang jawa Migran menjadi orang jawa melayu. Hal ini terjadi karena transformasi di perkebunan karet lewat proses asimilasi budaya dengan orang lain yang mayoritas orang-orang melayu. Bertransformasi menjadi jawa melayu karena kebun karet dikuasai orang melayu karena budaya melayu dan jawa hampir mirip. Terjadinya budaya hibrid. Orang jawa migran yang bekerja di kebun karet adalah pekerja kontrak, mereka yang tidak memperpanjang kontrak akan berpindah tempat, mereka dibedakan dalam dua hal yaitu orang jawa migran fanatik dan tidak fanatik (jawa melayu). Orang jawa mencari teman biar tetap eksis sebagai proses adaptasi. Orang jawa melayu hidup dalam dua budaya, baik simbol dan kehidupan sehari-hari, seperti pakaian jawa, musik jawa, kesenian jawa. "Bisa jadi kesenian Reog Ponorogo yang diklaim oleh Malaysia akibat budaya kaum jawa migran yang dibawa ke semenanjung malaya", tandasnya selanjutnya.
Dr. Gabriel Fajar Sasmita, M.Hum sebagai penyaji ketiga menyampaikan mengenai asimilasi kebudayaan yang terjadi di kepulauan Karibia. "Masuk dalam poskolonialitas, bagaimana membangun culture yang berbeda dalam rangka mengkontruksi dunia baru, dan lebih jauh lagi, mereka telah lepas dari budaya asal mereka. Bagaimana ideologi baru beranjak dalam dua teks tersebut?" tandasnya. Identitas di dalam 'karibia' itu terus berproses, bukan gabungan identitas a dan b kemudian menjadi identitas baru. Tetapi identitas terus berproses dari gabungan identitas ax menjadi identitas by sehingga menjadi identitas hibrid yang dinamis. "Omeros dan the enigma of arrival menjadi kajian tekstual masyarakat poskolonial migran di Karibia. Kajian itu terdiri dari relasi masa lalu dan masa depan, aspek-aspek baru (perubahan, perbedaan, masa depan) memiliki makna otonom (new eden), ada keberagaman dan makna masa depan. Poskolononialitas adalah kebebasan diri yang terbuka untuk pencarian identitas (mimikri atau hibriditas), kerinduan orang-orang modern untuk kembali ke rumah.", tandasnya selanjutnya.
Di akhir seminar, Dr. Yoseph Yapi Taum, M.Hum sebagai moderator menyimpulkan bahwa dalam pencarian identitas, kita dipengaruhi oleh hasrat diri untuk kembali ke akarnya go to roof. Pencarian identitas selalu dikaitkan dengan eksistensi diri untuk selalu ada dan berada. Untuk itu, kehadiran diri yang dihormati dan dihargai menjadi hal yang diperjuangkan. "Mungkin saja, banyak kesenian dan budaya kita yang diklaim oleh negara lain bukan tanpa dasar, sebab ini menjadi konsekuensi logis akibat asimilasi bangsa atau negara strategis.", tandasnya menutup seminar. (FXAP)




