"Indonesia sebagai sebuah bangsa, kaya akan keanekaragaman. Begitu juga Universitas Sanata Dharma (USD), sebagai Indonesia mini pun kaya akan keanekaragaman yang melahirkan banyak perbedaan. Perbedaan itu bukanlah pembedaan yang memunculkan persoalan atau masalah di dalam kehidupan. Tetapi perbedaan hendaknya menumbuhkan kesadaran untuk saling menghargai dan menghormati satu sama lain sebagai saudara." demikianlah kata sambutan yang disampaikan oleh Rektor USD Drs. Johanes Eka Priyatma, M.Sc., Ph.D dalam membuka acara Syawalan Dosen dan Karyawan USD pada hari Jumat, 8 Agustus 2014 di Ruang Drost, Kampus 3 USD Paingan.
Acara peringatan Syawalan ini diselenggarakan oleh Campus Ministri USD dan diikuti oleh Dosen, Karyawan, dan para pejabat struktural USD. Peringatan Syawalan yang baru pertama kali diadakan ini dimulai pukul 17.00 WIB sampai dengan pukul 19.30 WIB. Pokok acara peringatan Syawalan diisi dengan tauziah oleh Haji Muhammad Damawi, Kelompok Hadroh Alhusna Pomahan pimpinan Bpk. Busro, dan ramah tamah dalam jamuan makan malam.
Tentu timbul di dalam benak kita, mengapa Campus Ministry mengadakan acara peringatan Syawalan bagi para dosen dan karyawan USD ? Dan harapan apa yang ingin dicapai dan diperjuangkan di dalam penyelenggaraan kegiatan peringatan Syawalan yang baru diadakan pertama kali di USD ini.
Ibu Margareta Siswiyantiningtyas selaku Ketua Panitia Syawalan dalam sambutannya mengungkapkan bahwa peringatan Syawalan berarti kemajuan atau peningkatan kualitas kehidupan adalah momentum yang tepat untuk semakin bertumbuh dalam karya dan semangat kekeluargaan di USD. Campus Ministry berinisiatif untuk mengajak komunitas Karyawan, Dosen, dan pimpinan USD yang beragama muslim di lingkup USD untuk merefleksikan momentum Syawalan. Maka tema yang diambil dalam peringatan Syawalan ini adalah "Meningkatkan Ketakwaan dan Mempererat Tali Persaudaraan dalam Semangat Menghargai Keberagaman". Tema ini selaras dengan apa yang menjadi nilai dasar yang diperjuangkan oleh Universitas Sanata Dharma yaitu menghargai keberagaman. Nilai dasar ini menyatakan kualitas hubungan antar manusia demi terwujudnya masyarakat yang inklusif dan demokratis. Kiranya dari momentum itu patutlah kita bersyukur dengan keberagaman yang kita miliki, karena keberagaman menjadi kekayaan dan sumber inspirasi untuk bertumbuh dan maju bersama.
Hal senada diungkapkan oleh Bapak Antonius Febri Harsanto, S.Sos. selaku Kepala Campus Ministry USD, bahwa peringatan Syawalan yang ingin disasar oleh Campus Ministry adalah konteks peningkatan relasi, semangat kerja, dan nilai-nilai kehidupan. Peningkatan relasi ini muncul di dalam rekonsisaliasi akan kesadaran keberagaman sehingga dari situ timbul sikap menghargai satu sama lain. Dari rekonsiliasi diri ini menumbuhkan perasaan damai dan semangat hidup yang lebih baik. Semangat kerja adalah bentuk konsekuensi karena perasaan damai yang dirasakan tersebut. Nilai atau keutamaan hidup yang diperjuangkan adalah mencintai kebenaran. Ini adalah proses perziarahan hidup yang kita jalani bersama untuk mencapai kebenaran sejati atau cinta sejati. Ziarah berarti berjalan dan berjuang bersama dengan orang lain. Maka justru bukan berlomba-lomba atau bersaing, tetapi saling mendukung sehingga berjalan bersama. Harapannya, persaudaraan semakin erat, USD adalah komunitas akademik, bukan organisasi, maka ikatan satu dengan yang lain menjadi penting tanpa memandang pembedaan. Mulai dari karyawan yang paling rendah sampai dengan pimpinan yang paling tinggi, merupakan sinergis yang saling berhubungan.
Di akhir sesi acara peringatan Syawalan ini diadakan tauziah oleh Haji Muhammad Damawi yang menekankan soal peningkatan ketakwaan kepada Tuhan di dalam perziarahan hidup. Beliau mengungkapkan bahwa kita sering kali sulit membedakan mana tujuan dan mana sarana. Hal yang sering dikatakan oleh beliau adalah manusia mudah jatuh di dalam kemusyrikan-kemusyrikkan kita, sebagai contoh dengan memakai keris kita menjadi kuat dan tidak akan mati atau pakaian membuat kita menjadi kebal. Maka kita akhirnya jatuh di dalam ketergantungan pada alat itu dan mengagungkan barang-barang yang kita miliki. Padahal apa yang ada di dunia ini adalah sarana untuk mencapai pemahaman kita akan kemahakuasaan yang Esa, sebagai contoh berobat ke dokter satu dan ke dokter kedua tidak bisa sembuh, tetapi melalui dokter ketiga dapat sembuh. Itu berkat karya Tuhan melalui tiga dokter itu. Hidup itu berziarah di dunia, bagaimana kita mengarahkan diri kepada segala kehendak dan perintahNya. Bukankah yang membuat semua itu untuk kita adalah Gusti Allah? (FXAP)




