USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Hari Ilmiah Mahasiswa USD: Kaum Muda Dituntut Suguhkan Alternatif Kepemimpinan

diupdate: 19 tahun yang lalu

Di era krisis kepemimpinan yang saat ini sedang berlangsung, kaum muda dituntut untuk bekerja lebih keras agar mampu menyuguhkan alternatif kepemimpinan yang lebih demokratis, plural, inklusif, jujur, dan adil. Tidak hanya berhenti di situ, di tengah ganasnya globalisasi yang eksploitatif dan represif ini, kaum muda diundang untuk berani tampil dan menegakkan kembali martabat manusia. Itulah ajakan Dr. Baskara T. Wardaya, SJ kepada para mahasiswa USD dalam acara seminar Hari Ilmiah Mahasiswa dalam Rangka Dies Sanata Dharma ke-52 di Kampus 2 Mrican Sabtu (17/11). Dalam memenuhi panggilan di atas kaum muda harus memperhatikan dua hal, pertama kesediaaan untuk belajar dari sejarah, kedua, kesediaan belajar dari dan bersama masyarakat, dan ketiga kesediaan untuk berpikir humanis-universal. Menurut Baskara, gerak cepat zaman modern yang berorientasi pada individualisme dan masa depan sering membuat orang enggan untuk berhenti sejenak untuk menengok ke belakang dan berguru kepada sejarah. Pada hal kita membutuhkan sejarah untuk memahami diri dan membangun masa depan. Baskara prihatin dengan bangsa ini yang gemar menutup-nutupi bagian-bagian tertentu dari sejarah kita, misalnya pembunuhan massal 1965, Supersemar, penyerbuan di Timor Leste, 27 Juli, Ambon, Poso, Lapindo, Alas Tlogo dll. "Belajar dari sejarah berarti memperkaya wawasan dalam upaya membangun masa depan", tegasnya. Mahasiswa saat ini hendaknya juga dituntut membuka diri dan belajar dari masyarakat dalam berjuang bersama untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik. Program-program pengabdian masyarakat hendaknya dilakukan bukan demi formalitas tetapi sungguh merupakan bagian dari upaya untuk belajar dari dan bersama masyarakat. Masih menurut Baskara, saat ini kaum muda harus mulai berpikir multi dimensional dan membuka diri terhadap sikap ralatif dari realita dalam arti tidak bisa main mutlak-mutlakan demi memenangkan kepentingan pribadi. Dengan demikian kamu muda harus memiliki paradigma pasca-Indonesia dalam arti tidak hanya melulu berpikir dalam batas nasionalisme, tetapi berwawasan humanis universal berdasarkan kesadaran akan Indonesia sebagai bagian sejarah dan dinamika seluruh komunitas manusia di planet bumi ini. (Tti/Tjh)

  kembali