The International Association for Cross-Cultural Psychology adalah asosiasi psikologi yang memfasilitasi komunikasi antar individu yang berminat pada area yang berkaitan dengan persinggungan antara budaya dan psikologi. IACCP didirikan pada tahun 1972, setelah suburnya pembahasan budaya di dunia psikologi selama satu dekade dan dua publikasi penting yaitu Cross-Cultural Social Psychology Newsletter karangan Harry Triandis (1967) dan Journal of Cross-Cultural Psychology oleh Walt Lonner (1970).
Ada berbagai upaya yang dilakukan oleh IACCP dalam memfasilitasi komunikasi dan penelitian, yaitu menyediakan sumber-sumber online, menerbitkan jurnal yang bereputasi, memberikan award penelitian/disertasi, menyelenggarakan lokakarya, summer school untuk mahasiswa S3, dan konferensi. Konferensi ke-22 kali ini bertema Diversity, Equality, and Culture, diselenggarakan di Universitte De Reims, Champagne-Ardenne, Reims, Perancis, dari tanggal 15 – 19 Juli 2014. Pada konferensi ini sekitar 248 abstrak individual dan 58 abstrak simposium yang lolos seleksi dari kurang lebih 1000 pendaftar abstrak paper individual dan simposium. Pada kesempatan kali ini, dosen Fakultas Psikologi, Tjipto Susana mempresentasikan penelitian yang dilakukan bersama Daniel Gatyo Probo (angkatan 2009) yang berjudul Dynamics of Needs in Individuals who Suffer from Latah. Ini adalah partisipasi Tjipto Susana di konferensi IACCP yang kedua kali, setelah konferensi IACCP di Melbourne, Australia pada tahun 2010, dengan abstrak berjudul The Effects of one’s individual cultural orientation, the society’s cultural orientation, and one’s sex on the emergence of either pure depression or somatization symptoms.
Pada saat presentasi, cukup banyak peserta yang hadir. Mereka sangat antusias dengan topik penelitian yang disajikan, karena fenomena latah ini memang tipikal dijumpai di budaya Melayu, terutama Indonesia. Dari semua peserta yang berasal dari negara-negara di luar Indonesia, yang hadir saat presentasi, menyatakan belum pernah melihat fenomena latah. Keingintahuan peserta memunculkan banyak pertanyaan yang diajukan dan juga masukan untuk menyempurnakan penelitian ini, yang menjadikan sesi presentasi ini sangat hidup dan interaktif. Bahkan topik latah ini, masih menjadi perbincangan di luar sesi presentasi.
Selain pengalaman presentasi, ada banyak hal yang diperoleh ketika mengikuti kongres IACCP, antara lain: mengetahui trend penelitian di bidang psikologi lintas-budaya, penelitian-penelitian yang berkualitas, issue penelitian yang menjadi perhatian komunitas psikologi di berbagai budaya dan negara, disertasi yang berkualitas, dan membentuk jejaring dengan peneliti, praktisi, maupun akademisi dari negara-negara lain. Amat disayangkan bahwa Daniel Gatyo Probo tidak bisa hadir di kongres (tidak seperti saat konferensi di Melbourne, sayangnya untuk keterlibatan kali ini, Tjipto Susana dan Daniel Gatyo Probo tidak mendapatkan sponsor dari Dikti maupun dari IACCP, sehingga dengan segala keterbatasan dana, hanya Tjipto Susana yang bisa berangkat ke Reims). Sebenarnya forum ini sangat bermanfaat bagi para mahasiswa dan peneliti muda. Ada banyak informasi, pengetahuan, dan ketrampilan dari kongres ini yang bisa digunakan untuk mengembangkan penelitian yang berkualitas dan bekal studi lanjut.
Kongres Regional IACCP pada tahun 2015 akan diselenggarakan di Chiapas, Mexico, dan Kongres IACCP ke-23 akan diselenggarakan di Nagoya, Japan, pada tahun 2016. Semoga ada teman-teman dosen dan mahasiswa yang bisa berpartisipasi dalam kongres IACCP mendatang. Selain topik penelitian yang relevan, saya kira dukungan fasilitas dan dana juga akan sangat membantu partisipasi dalam kongres ini.
Terima kasih kepada Fakultas Psikologi dan Universitas Sanata Dharma, atas segala dukungan yang diberikan.




