USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Sarasehan Spiritualitas Ignatian USD: Gelisah sebagai Penunjuk Arah
#akurapopo

diupdate: 12 tahun yang lalu


"Kegelisahan atau galau sering menjadi pemicu. Ketika rasa atau rasio sedemikian dominan, cobalah untuk menyeimbangkan antara keduanya. Kita sebagai manusia hidup di dalam tiga dunia, yaitu masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang. Jangan sampai kita hidup dalam masa yang telah lalu, karena masa lalu adalah pembelajaran bagi kita. Tetapi juga janganlah kita terlalu memandang ke depan sehingga terlalu khawatir akan hal yang belum tentu terjadi. Kita adalah manusia saat ini yang dinamis dan terus berproses. Maka ikutilah kemana hati membawamu dan kemana cita-cita menuntunmu." demikian kata pengantar yang disampaikan Drs. Johanes Eka Priyatma, M.Sc., Ph.D. selaku Rektor Universitas Sanata Dharma (USD) membuka sarasehan spiritualitas Ignatian pada hari Sabtu, 19 Juli 2014 di ruang Kundjono, kampus dua USD Mrican.
Sarasehan yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Ignasian USD ini dimulai pukul 08.30 - 13.30 WIB. Sarasehan yang rutin diadakan tiap tahun ini menghadirkan tiga pembicara, yaitu Rm. Krispurwono Cahyadi, SJ (dosen Fak. Teologi USD), Rm. Mutiara Andalas, SJ (dosen IRB USD) dan Cornelius Bayu Astana (wakil komunitas pendampingan Yesuit), dan dimoderatori oleh Risang Baskara (dosen prodi Sastra Inggris). Selain dosen dan pegawai USD, nampak hadir dalam sarasehan ini berbagai komunitas mahasiswa katolik di Yogyakarta dan Solo, CLC Jakarta, juga umat paroki St. Antonius Kotabaru, serta mahasiswa non Kristiani dari UIN dan UII Yogyakarta.
"Sebenarnya timbul pertanyaan di dalam benak saya, apakah itu galau dan gelisah? Mengapa gelisah atau galau justru bisa menjadi penunjuk arah? Untuk itu, apa yang harus kita lakukan dan usahakan?", demikian disampaikan oleh Risang Baskara mengantar sesi sarasehan pada para pembicara.
Pada sesi pertama, Cornelius Bayu Astana, sebagai pembicara pertama menyampaikan sharing tentang rasa takut dari dirinya. Diceritakan bahwa pergulatan mengerjakan tugas akhir (skripsi) sungguh menjadi pengalaman yang sangat berkesan seperti kekhawatiran ditolak dan kesadaran bahwa pribadiku adalah pribadi yg penakut. Kehadiran teman-teman dan pacar justru menjadi teman seperjalanan yang menguatkan. Dengan kegalauan atau kegelisahan yang dialami terkadang timbul rasa penasaran dan kemudian bersemangat untuk memulai hari. Hal ini membuat hidup menjadi lebih hidup.
Pada sesi kedua, Mutiara Andalas, SJ menyampaikan bahwa istilah Galau menunjukkan gelisah, mentok, tidak ada jalan. Galau mengungkapkan sesuatu yang lebih dalam, tidak sekedar pilihan mau makan dimana atau mau pakai pakaian apa untuk kuliah, tetapi sungguh exist yang dialami terlebih kehidupan anak muda, seperti pengalaman putus cinta atau ditinggal pacar. Dan dalam situasi galau itu, kita mudah lari ke media sosial untuk update status yang dirasakan daripada memeluk status galau tersebut. Andalas menyebut anak-anak ini dengan Generasi G. Kegelisahan menjadi lampu merah yang perlu diantisipasi dan bukan untuk dihindarkan. Bila kita bisa keluar dari situasi diri yang galau, kita bisa menciptakan hidup baru sebagai oase hidup. Tetapi bila tidak, kita akan terjebak dalam situasi disorientasi. Kehidupan anak muda adalah kehidupan yang dinamis terlebih seiring perkembangan teknologi dan informasi yang sangat cepat. Ungkapan #akurapopo mengungkapkan bahwa kita bisa dan kita kuat karena ada yang menguatkan dan menuntun, yaitu Tuhan. “Galau lebih kita pandang sebagai kompas, bukan GPS yang menunjukkan detil kemana kita melangkah. Kita masih perlu mencari kemana arah kanan-kiri yang dipilih” demikian tutur Andalas.
Krispurwono Cahyadi, SJ sebagai pembicara ketiga menyampaikan bahwa hidup kita adalah pemberian Tuhan yang menghadirkan kisah cerita. Di balik kisah cerita selalu ada pesan. Tugas kita yang berziarah di dunia menemukan apa pesan itu. Cara untuk mengungkapkan pesan itu ada di dalam 3C, yaitu choice (memilih) disposisi diri kita untuk membatasi dan menegaskan arah hidup kita, chances dan changes mengandung pemahaman bahwajangan takut mengambil keputusan (karena perubahan adalah aspek perziarahan), karena kita punya kesempatan dan mau berubah. Growth begins when we start to accept our own weakness. Worrying does not empty tomorrow of its troubles. It empties today of its strenght. Percaya menumbuhkan iman akan Ia yang menuntun dan mendampingi sehingga kita senantiasa mampu bersyukur untuk selalu tersenyum dan bergembira. GALAU dapat dimaknaisebagaiGod Always Listening and Understanding. Sebagai peneguhan, Krispurwono mengungkapkan, “Surge, grandis tibi restat via”, artinya bangkitlah, perjalanan panjang ada di depanmu. (AP-BST)

  kembali