USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Membangun Karakter Bangsa: Tonggak Pembaharuan Hidup di Masa Depan

diupdate: 12 tahun yang lalu


Universitas Sanata Dharma (USD) menggelar Seminar Nasional “Membangun Karakter Bangsa: Tonggak Pembaharuan Hidup Masa Depan” pada tanggal 4 Juli 2014 di Ruang Koendjono Gedung Pusat USD. Meski diselenggarakan pada saat liburan, tampak antusiasme dosen serta mahasiswa mengikuti seminar yang diadakan oleh LPPM USD ini. Seminar yang dimoderatori Dr. G. Budi Subanar, SJ ini menampilkan empat pembicara, yaitu  Dr. Hieronymus Purwanta, M.A. sebagai pengkaji bidang sejarah, G. Ari Nugrahanto, S.S., BST, M.A. sebagai pengkaji Bidang pendidikan, Dr. Risa Permana Deli (PKRS-Jakarta) sebagai pengkaji Bidang Psikologi, dan Dr. E. Subangun sebagai pengkaji bidang Budaya.
Dr. Anton Haryono selaku Ketua LPPM menyampaikan bahwa memasuki tahun 2014 ini kita perlu membedah persoalan-persoalan nasional. Hal ini dimaksudkan agar setiap orang tahu bahwa ke depan Indonesia akan dibawa ke mana, apakah akan tetap seperti kondisi saat ini atau akan berubah menjadi lebih baik dan berkarakter. Menurutnya setiap orang Indonesia harus maju bersama, terutama di bidang pendidikan. 
Rektor USD, Johanes Eka Priyatma, M.Sc, Ph.D menyampaikan bahwa sebenarnya Indonesia merupakan sebuah cita-cita. Meski permasalahan karakter bangsa Indonesia merupakan hal yang pelik, sebenarnya bangsa Indonesia memiliki pondasi untuk pengembangan pendidikan karakter yaitu Pancasila. “Namun pada kenyataanya kita lebih memilih mengadobsi pemikiran-pemikiran dari luar, yang diterapkan dalam pendidikan kita. Padahal banyak hal yang tidak sesuai dengan masyarakat Indonesia” demikian disampaikannya dalam sambutan.
Sebagai pembicara pertama, Dr. Hieronymus Purwanta, M.A. menyampaikan permasalahan tentang rendahnya rasa nasionalis pemuda Indonesia. Pemuda Indonesia saat ini kurang mencintai budaya sendiri. Hal ini dapat dilihat melalui bahasa sehari-hari yang cenderung memilih bahasa asing untuk cap cip cus atau bahasa percakapan sehari-hari, padahal mereka tidak memahami bahasa Indonesia dengan baik. Di sisi lain hal ini juga nampak pada bidang musik. Pemuda menganggap bahwa musik dangdut dan campursari adalah musik yang katrok serta kuno. Mereka lebih memilih mendengarakan musik pop, rock, dll, yang dipandang lebih modern. Permasalahan tersebut tidak lepas dari arus yang menguasai pengetahuan sejarah nasional yaitu “Modern dan Militer”. Dalam pandangan modern, Indonesia akan maju bila meniru bangsa barat (Eropa & Amerika). Dalam pandangan Militer, isi sejarah nasional adalah perang dan perang. Dapat dikatakan solusi kehidupan yang lebih baik adalah perang dan perang. Dengan kata lain, bila tidak dengan perang itu tidak keren. Penyelesaian masalah secara Diplomatis dianggap hal yang lemah. Maka buku-buku sejarah untuk pendidikan isinya hanya tanggal perang dan juga peristiwa sekitar peperangan.
Selanjutnya G. Ari Nugrahanto, S.S., BST, M.A. sebagai pembicara kedua, menyampaikan bahwa setiap perubahan sistematis dalam pendidikan seharusnya mampu berfokus pada penemuan dari suatu akar permasalahan. Dalam hal ini, pendidikan diarahkan pada humanisasi dan reifikasi, yaitu mewujudnyatakan sesuatu hal yang abstrak ke konkret.
Dr. Risa Permana Deli sebagai pembicara ketiga menyampaikan sharing pengalamannya saat mengikuti pendidikan di luar negeri. Risa mengambil contoh pembagian peran perguruan tinggi di Perancis. Di Perancis, pendidikan tinggi dibagi tiga sesuai pengelompokannya yaitu Universitas, Sekolah Tinggi dan Politeknik. Perguruan tinggi tersebut berjalan sesusai fungsinya, karena pembagian tugasnya sudah jelas, sesuai dengan fungsinya masing-masing. “Jadi tidak ada istilah kemaruk seperti perguruan tinggi di Indonesia” ungkapnya mengomentari sistem di Indonesia yang hampir tidak ada perbedaan di antara Universitas, Politeknik, dan juga Sekolah Tinggi kecuali namanya saja. Dia menyampaikan juga bahwa sistem pendidikan di Indonesia masih merupakan representasi dari sebuah perjalanan sejarah sehingga hal ini mempengaruhi mentalitas dari masyarakat Indonesia. Selain itu, sistem pendidikan yang menganut pada pencapaian sumber kebenaran dan sumber pengetahuan, tidak lain merupakan pemikiran yang lahir dan cenderung diterapkan oleh bangsa Eropa. Seharusnya masyarakat Indonesia mampu melihat proses pengembangan pengetahuan dari lingkungan dan pemikiran sendiri sehingga akhirnya mampu menyelesaikan masalah di Indonesia.
Dr. E. Subangun sebagai pembicara pamungkas lebih menyampaikan kritik-kritik dan wejangan  tentang permasalahan di Indonesia. Dikatakannya bahwa bangsa Indonesia seperti tinggal di kubangan kerbau. Ungkapan kubangan kerbau digunakan untuk mengistilahkan tempat yang nyaman atau zona nyaman. “Tidak ada perkembangan di Indonesia. Hanya mengulang hal-hal yang terjadi di masa lampau. Jadi kita sebenarnya tidak mengalami kemajuan” demikian jelasnya. Hal ini disebabkan orang Indonesia lebih suka melakukan adobsi dari dunia luar dan langsung menerapkannya. Kita tidak pernah mampu melihat dunia luar melalui perspektif mereka. Di sisi lain, menurutnya Rektor perlu menciptakan suasana yang membuat civitas akademika melakukan aktivitas dengan baik, sehingga bukan hanya transfer ilmu saja yang terjadi, tetapi juga pembelajaran tentang  bagaimana berfikir yang benar. (AAW & FBP)

  kembali