USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

STUDI BERSAMA MENGGALI CIRI KHAS PENDIDIKAN JESUIT

diupdate: 19 tahun yang lalu

Universitas Sanata Dharma (USD) dan Akademi Teknik Mesin Industri (ATMI) Solo mengadakan studi bersama dengan tema “Menggali Ciri Khas Lembaga Pendidikan Jesuit” di Panti Semedi Sangkal Putung Klaten 18-20 Oktober 2007. Kegiatan yang diikuti oleh pejabat struktural selevel rektorat, dekanat, dan biro ini dikoordinir sekretariat Mission and Identity USD dengan tujuan untuk memperluas dan memperdalam wawasan mengenai pendidikan ala Jesuit agar nantinya dapat diaplikasikan di lembaga pendidikan masing-masing. Studi bersama ini dibuka dengan sesi “Konteks Sejarah Perkembangan Lembaga Pendidikan Yesuit” oleh Rm. Agustinus Setyodarmono, SJ. Dalam paparannya Rm. Nano, panggilan akrab pamong Seminari Menengah Metroyudan ini menjelaskan bahwa pada zaman awal berdirinya sekolah-sekolah Yesuit sangat maju karena sekolah ini didukung oleh gereja Katolik Roma dan raja untuk menangkal reformasi protestan. Kegigihan ini didorong oleh adanya semangat untuk “memerangi“ reformasi. Ditilik dari sejarah ciri khas pendidikan Yesuit adalah bahwa pendidikan itu mampu memformat lulusannya menjadi seorang yang memiliki karakter dan militan terhadap pengangkatan martabat manusia. Di samping itu keunggulan lembaga pendidikan Yesuit terletak pada pendampingan yang dilakukan oleh pamongnya terhadap peserta didiknya serta kekuatan refleksi dari pengalaman. Sementara itu dalam sesi “Praktek Lembaga Pendidikan Yesuit Jenjang Perguruan Tinggi di Asia Oceania”, Rm. R.B. Riyo Mursanto, SJ memaparkan bahwa praktek lembaga pendidikan Yesuit di Asia Oceania menghadapi banyak pergulatan dari budaya setempat, antara lain tradisi non-kristiani yang kuat, mayoritas muslim, kurangnya dana pendidikan, kemiskinan, serta adat yang kuat. Namun dalam keadaan seperti itu justru lembaga pendidikan Yesuit menampakkan keterlibatannya pada masyarakat sekitar, misalnya pemugaran Angkor Watt di Kamboja, pengenalan suku-suku minoritas di Cina, keterlibatan dalam politik di Filipina dll. Pergulatan lain yang tidak kalah beratnya adalah justru pada SDM dan manajemen lembaga itu sendiri. Lembaga ini harus mampu mengembangkan suasana kerja sama, kekeluargaan, dan komunikasi yang sehat. Kurikulum yang disusun juga harus mengintegrasikan pedagogik Ignatian. Seiring dengan pesatnya perkembangan zaman dan persaingan antar lembaga pendidikan, muncullah pertanyaan, “Apa yang khas dan unik dalam lembaga pendidikan Yesuit dibandingkan dengan lembaga pendidikan yang lain?”. “Apakah keunggulan teknologinya? Stafnya? Jaringan global internasionalnya? Atau kurikulumnya?” Demikian lontaran pertanyaan pada sesi “Visi Penerapan Ciri Khas Lembaga Pendidikan Yesuit” yang dibawakan oleh Rm. B. Herry Priyono, SJ. Beliau menekankan bahwa ciri khas pendidikan Yesuit justru terletak pada kreativitas dan seni dalam menghidupi tegangan dan ambivalensi dalam globalisasi. Nilai kunci yang harus dipegang justru nilai keutamaan seperti keberanian, keadilan, kemuarahan hati, persahabatan, kejujuran dan tanggungjawab. Sementara itu dalam sharing tentang “Pendidikan Kristiani dan Paradigma Pedagogi Reflektif” Rm. Joannes Subagyo, SJ mengatakan bahwa pendorong karya pendidikan adalah iman, mediasinya adalah proses pendidikan, dan tujuannya adalah perubahan sosial. Pendidikan Yesuit harus mampu mangadakan perubahan sosial, yaitu perubahan dari kerusakan keadaban, kekerasan, korupsi, kerusakan lingkungan menuju ke kesejahteraan umum, solidaritas, pluralisme, dan penalaran serta kreativitas. (Tti)

  kembali