USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Pribadi Tangguh Bersiap Menjadi Relawan

diupdate: 13 tahun yang lalu


“Kenapa kamu mau ikut SLP?” adalah pertanyaan pembuka pada sesi pertama pembekalan peserta Service Learning Program 2014. Pertanyaan itu kembali terulang ketika para peserta diminta untuk menceritakan dirinya, termasuk motivasi mengikuti SLP. Motivasi menjadi hal yang penting, karena itu adalah salah satu hal yang menggerakkan seseorang untuk melakukan sesuatu.
Pembekalan yang dilaksanakan pada hari Sabtu-Minggu, 14-15 Juni 2014 di Wisma Kinasih Kaliurang itu dibuka dengan sharing dari tiga orang pendamping SLP di tahun-tahun sebelumnya. Mereka bercerita banyak hal tentang pengalaman mereka selama mengikuti SLP. Meski banyak hal yang kurang baik yang mereka alami, termasuk rasa sakit hati, namun cintalah yang menguatkan mereka, dan harapannya cinta itu pula yang dapat menguatkan para peserta ketika menghadapi berbagai tantangan selama rangkaian SLP.
Pada sesi berikutnya, peserta diberi pemahaman yang lebih mendalam mengenai tema SLP 2014, yakni “Jesuit Education in the Frontiers of Greater Societal Engagement”. Lima orang peserta dari berbagai prodi di Universitas Sanata Dharma ini diberi suatu kasus untuk didiskusikan, kemudian dipresentasikan dalam bahasa Inggris. Lima orang tersebut adalah Bagas Abiyoga (Farmasi), Indrias Pratama (PBI), Retno Lestari Surya Ningrum (Sastra Inggris), Adhimulya Nugraha Putra (Psikologi), dan Stella Vania Puspitasari (Psikologi).
Kemudian sesi dilanjutkan dengan beberapa permainan yang memfokuskan pada kerjasama sebagai tim. Salah satu permainannya adalah para peserta diikat menjadi satu dan diminta untuk mencari kartu-kartu berhuruf yang kemudian disusun menjadi sebuah kalimat, yakni: pribadi tangguh bersiap menjadi relawan.
Hari selanjutnya, pagi-pagi buta, para peserta sudah harus bangun dan diantar menuju Pasar Pakem. Tugas mereka adalah berusaha untuk survive, artinya bisa mendapat sarapan dan bahan mentah untuk dimasak dan dimakan sebagai makan siang. Tugas berikutnya bagi para peserta adalah berjalan kaki dari Pasar Pakem menuju Wisma Kinasih Kaliurang dengan mengikuti rambu-rambu yang telah disediakan oleh panitia. Para peserta diajak untuk merasakan bagaimana berada di posisi frontiers, artinya bagaimana berada di area tapal batas, di luar zona kenyamanan. Para peserta diajak untuk terlibat dalam kehidupan masyarakat yang sesungguhnya. Berjumpa dengan para pedagang dari sekitar Pakem, dari Muntilan, bahkan ada yang dari Wonosari. Mereka semua berupaya mencari penghasilan untuk memenuhi kebutuhannya sejak pagi-pagi buta, sekitar pukul 03:00 setiap paginya.
“Banyak hal tidak terduga yang kami alami. Kami berefleksi bahwa tidak ada yang tahu bagaimana nasib seseorang. Kami ada yang dapat kerja duluan, tapi selesai belakangan. Ada juga yang dapat kerja terakhir, kerjanya sederhana dan cepat selesai, tapi dapat imbalan yang bagi kami cukup banyak. Ternyata masih banyak sekali orang baik di dunia ini yang kadang bahkan kami pun tidak terpikir tentang hal itu. Ada sebuah pengalaman menarik ketika kami mau menukar bakpia yang kami punya dengan sebotol air mineral, tapi kami justru diberi dua botol air mineral ukuran 1,5 liter dan bakpianya masih untuk kami. Kadang justru kami mendapat lebih banyak dari apa yang kami minta. Hidup itu penuh kejutan.” demikian refleksi yang disampaikan oleh para peserta.
Akan tetapi dalam perjalanan itu para peserta juga menemukan beberapa hal yang kurang menyenangkan, dan menambah poin refleksi yang lain, “Hidup itu bagai jalanan di Kaliurang yang berliku-liku. Namun harus tetap dijalani. Walau sempat tersasar dan salah jalan, kami sadar bahwa hidup itu tidak punya tombol restart atau undo. Jadi ya tetap saja harus dijalani, namanya juga hidup.”
Uniknya, dalam perjalanan tersebut kelima peserta terus melanjutkan perjalanan, meski diliputi rasa lelah. Tidak ada satupun dari para peserta yang tidak mengeluh selama perjalanan itu, tapi toh para peserta tetap saja berjalan dan mengikuti rambu-rambu yang ada. Muncul pertanyaan di antara para peserta sendiri, “Kok bisa kita tetap bertahan, tetap berjalan, meski mengeluh?”. Para peserta pun berefleksi, “Ya, inilah hidup. Dan ini yang kami pilih, maka konsekuensi dari pilihan itu juga harus kami tanggung. Meski awalnya tugas ini tampak sangat berat dan bahkan tampaknya tidak mungkin, tapi akhirnya toh kami bisa juga, karena kami tahu kami tidak sendiri. Kami di sini tim, bahkan kami keluarga. Maka bagi kami, kebersamaan dan cinta lah yang menguatkan kami dalam perjalanan ini. Dan semoga kebersamaan itu pula yang selalu menguatkan kami untuk berproses bersama selama setahun ini. We are SLPers batch seven, yes we can!” (SVP)

  kembali