Unit Kegiatan Mahasiswa Pengabdian Masyarakat (UKM PM) adalah salah satu unit kegiatan yang ada di Universitas Sanata Dharma. UKM ini berdiri sejak 20 Oktober 2000. Pengabdian Masyarakat dibentuk untuk menjembatani visi Humanisme. Sebagai sebuah organisasi sosial, bentuk kegiatan yang dilakukan bersifat menolong dan sukarela. Bekerja untuk masyarakat dengan keikhlasan hati adalah hal terpenting yang harus ditanamkan untuk para anggota UKM PM ini. UKM PM bekerja secara realitas sesuai dengan sumber daya anggota yang ada dengan program-program yang selalu menjadi target.
Salah satu program dari UKM PM adalah Sosial Activity, yang dikemas dalam acara Live In. Untuk mendukung acara ini, UKM PM bekerjasama dengan warga Desa Bendo, Trimurti, Srandakan, Bantul, Yogyakarta. “Kami, para panitia Live In memilih desa Bendo karena selain letaknya yang terpencil, masyarakat di desa ini sangat welcome dan antusias untuk menerima kedatangan kami” kata Dennis, selaku Ketua Panitia. Acara yang berlangsung selama 3 hari (tanggal 16-18 Mei 2014) ini diikuti oleh 36 mahasiswa Universitas Sanata Dharma, baik yang menjadi anggota UKM PM, maupun yang tidak. Untuk mempersiapkan acara ini, panitia memulainya selama 3 bulan sebelumnya, mulai dari seleksi pemilihan panitia, rapat perdana, survai tempat, hingga sampai pada rapat akhir persiapan.
Acara Live In tersebut diberi tema “Unity In Simplicity”, yang artinya kebersamaan dalam kesederhanaan. “Harapan dari acara ini peserta benar-benar bisa merasakan arti kesederhanaan. Tidak hanya berfoya-foya, tapi juga bisa merasakan sulitnya mencari uang, agar lebih menghargai uang dan juga bisa berbagi dengan masyarakat sekitar” kata Thomas selaku Ketua Umum UKM PM yang saat itu juga ada di tempat acara. Selama 3 hari 2 malam, peserta Live In menempati 31 rumah warga di desa Bendo. Warga yang ditempati
merupakan warga yang bekerja sebagai penambang pasir, pembuat jajanan pasar, pembuat tahu, peternak ayam potong, pembuat tempe, pembuat jajanan untuk anak sekolahan, petani, penganyam bambu, pembuat mie lethek, dan yang hanya bekerja mengurus ternak mereka. Selama hampir 3 hari para peserta mengikuti kegiatan keluarga barunya. Hal tersebut wajib mereka lakukan. Tidak ada peserta yang hanya berleha-leha di rumah barunya itu. Tidak ada yang hanya bermainan HP, tidak ada yang hanya bersantai-santai.
Untuk mengontrol kinerja peserta, setiap saat panitia dijadwal untuk keliling ke rumah warga yang ditempati oleh para peserta. Dari jadwal keliling ini dijumpai
bahwa semua peserta bisa membantu pekerjaan orangtua angkatnya masing masing. Ada yang membantu memproduksi tahu, mulai dari perendaman kedelai, penggilingan, pencetakan, hingga pemasarannya. Ada juga peserta yang seharian ikut bapak angkatnya menambang pasir disungai progo. Ada yang membantu memproduksi siomay dan setelah itu juga ikut keliling desa untuk memasarkan hasil produksinya tersebut. Ada yang ikut mencari rumput untuk sapi peliharaan orangtua angkatnya. Ada yang belajar cara menganyam bambu agar menjadi kerajinan yang nantinya akan dijual. Ada yang membantu memproduksi tempe, mulai dari tempe kedelai, tempe kacang koro, dan tempe benguk. Bahkan ada juga peserta yang sudah bangun jam 1 pagi untuk membantu orangtua angkatnya berjualan ayam potong ke pasar. Pada hari minggu pagi, di desa Bendo sedang ada acara nikahan, dan ada juga beberapa peserta yang diajak orangtua angkatnya untuk ikut membantu persiapan acara nikahan itu, dan juga datang sebagai tamu untuk memeriahkan acara nikahan tersebut. Ada juga saat itu warga yang sedang berbahagia, karena baru saja dikaruniai seorang anak, dan warga itu juga mengundang peserta dan panitia untuk datang diacara syukurannya. Semua kegiatan itu mereka lakukan dan nikmati dengan senang hati. Berbeda sekali dengan kebiasaan mereka dijogja yang umumnya hidup dengan kemewahan dan kenikmatan yang sudah tersedia.
Hingga akhirnya dihari Minggu sore, panitia mengadakan acara perpisahan. Panitia mengumpulkan para peserta dan para orang tua angkat mereka untuk berkumpul bersama di salah satu gedung TK yang ada di desa Bendo. Dalam acara ini, para peserta wajib menampilkan sebuah karya, baik berupa nyanyian, puisi, menari, drama, dll, secara berkelompok, yang sebelumnya telah dibagi oleh panitia. Untuk menampilkan karya tersebut, mereka juga telah difasilitasi satu pendamping kelompok dari panitia dan telah diberi waktu untuk berlatih. Semua karya mereka tersebut harus sesuai dengan refleksi mereka pribadi, selama berada di desa Bendo, yang telah disatukan dalam kelompok.
Acara perpisahan tersebut didahului oleh sambutan-sambutan. Yang pertama, sambutan dari Dennis Meilky La’lang selaku Ketua Panitia Live In, dilanjutkan sambutan dari Thomas Wahyu Prabowo Mukti, selaku SC dan Ketua UKM PM USD, dan yang terakhir adalah sambutan dari Bapak Partono, yang menjabat sebagai Dukuh di desa Bendo. Setelah itu acara dilanjutkan oleh penampilan tiap-tiap kelompok. Hingga akhirnya pada akhir acara, penyerahan secara simbolis sembako dari Fira (peserta) kepada Ibu Ngatio (warga desa Bendo yang menjadi ibu angkat Fira), dan selanjutnya diikuti oleh semua peserta yang memberikan sembako dari panitia untuk orangtua angkatnya masing masing. Tangis haru seketika itu pecah, baik dari para peserta, panitia, maupun para orangtua angkat. Ucapan terimakasih dan permohonan maaf tak henti hentinya diucapkan para peserta kepada orangtua angkatnya. “Waktu yang hanya 3 hari sudah dapat mempersatukan kami dengan keluarga angkat kami, benar-benar kebersamaan dalam kesederhanaan. Dan sekarang kebersamaan itu sudah diakhiri.” kata salah satu peserta saat acara perpisahan. (MILP)




