"Mendalam lembah curam, di sela gunung yang meninggi. Suatu pemandangan Tanah airku Indonesia, elok adil. Indah tanah airku, Indonesia Raya pujaan bangsaku. Tanah airku yang kaya raya, dengan pemandangan alamnya." Demikianlah alunan keroncong lagu berjudul "Cinta Tanah Airku" membuka acara Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksemida) XII yang dinyanyikan oleh salah satu peserta dengan sangat syahdunya.
Universitas Sanata Dharma mendapatkan kehormatan menjadi tuan rumah dalam pagelaran Peksemida XII kategori Keroncong pada tanggal 13 Juni 2014 di Aula Kampus I USD Mrican. Acara ini diikuti oleh 35 peserta yang terdiri dari 15 Perguruan Tinggi yang ada di Yogyakarta. Peksemida XII menjadi lomba seni dalam kategori musik keroncong yang meng-audisi berbagai peserta untuk kemudian mewakili Yogyakarta menuju kegiatan Pekseminas di Palangkaraya.
Dewan juri lomba tersebut terdiri dari tiga orang yang berpengalaman dan kompeten dalam bidang keroncong, antara lain Ibu Sri Hartati, penyanyi keroncong terbaik nasional dan pop tahun 70-an, staf RRI; Bapak Herry, penggiat dan provokator keroncong di Yogyakarta, menjadi Ketua Rumah Keroncong; Bapak Imoeng, Cr, dosen ISI Yogyakarta. USD sendiri mengirimkan 8 wakilnya dalam Peksemida ini.
Diungkapkan oleh Alexander Roy Kurniawan, Ketua Pelaksana Peksemida XII, mahasiswa Bimbingan Konseling 2012 USD bahwa Universitas Sanata Dharma secara khusus melalui Wakil Rektor III terpilih menjadi tuan rumah lomba keroncong dalam Peksemida XII ini. Acara tersebut menjadi kegiatan yang positif untuk kita karena acara ini mengekspos kita sebagai tuan rumah, maka persiapan dan pelaksanaan yang optimal itulah yang harus kami usahakan. Secara intern, panitia mencoba memfokuskan pembentukan panitia sebagai tim persiapan dan pelaksanaan diambil dari berbagai Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) USD seperti PSM "Cantus Firmus", SeXen, Teater Seribu Jendela (TSD), Menwa, Karawitan, Pengabdian Masyarakat, Grisadha, Masdha (media partner publikasi).
Sebagai sebuah perlombaan, peserta diwajibkan untuk menyanyikan lagu wajib antara lain untuk peserta putri berjudul "Cinta Tanah Airku" dan untuk peserta putra berjudul "Bahana Pancasilaku". Dan pemenang untuk perlombaan kategori keroncong ini diborong oleh wakil dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) baik untuk kategori putra maupun untuk kategori putri. Universitas Sanata Dharma mendapatkan Juara Harapan I dan II peserta putra dan Juara III untuk peserta putri.
"Lomba ini bukan pertama-tama mencari siapa pemenangnya tetapi lebih pada bagaimana kita menghargai karya seni bangsa Indonesia melalui musik keroncong. Walaupun USD belum mendapatkan jatah mewakili provinsi Yogyakarta menuju ke
Pekseminas di Palangkaraya, tetapi saya secara pribadi sangat bangga karena peserta cukup banyak dan antusiasme para mahasiswa cukup tinggi. Maka perlu ada pembinaan dan seleksi selama satu minggu persiapan sebelum hari pelaksanaan untuk dipilih 8 wakil dari USD. Hal ini kiranya menjadi pembelajaran bagi kita bahwa walaupun musik keroncong belum mendapatkan tempat di UKM USD, tetapi para mahasiswai mampu berkreativitas dan berkarya di luar Universitas. Tentu tidak sedemikian mudah, kita akan mendirikan UKM baru dalam kategori musik keroncong, karena kami menginginkan adanya pertumbuhan di dalam kreativitas dari kalangan mahasiswa sendiri itu organik.", demikian diungkapkan Rm. Mutiara Andalas, SJ, Wakil Rektor III USD.
"Pekan Seni Mahasiswa Daerah XII ini dibuat secara padat selama satu minggu. Dan secara khusus pelaksanaan Peksemida kategori keroncong ini telah dipersiapkan dengan begitu meriah, saya sangat bangga dengan apa yang telah dipersiapkan oleh panitia dari USD ini karena berbagai persiapan yang telah dilakukan ini tidak seperti di tempat lainnya. Terlebih, Peksemida XII kategori keroncong ini diikuti oleh lebih dari tiga puluhan peserta. Kegiatan ini telah berjalan 24 tahun, setiap dua tahun sekali, kemudian dipilih juara pertama yang akan mewakili provinsi untuk tingkat nasional di Pekseminas. Keikutsertaan dari tiap perguruan tinggi tidak diwajibkan. Saya pribadi merasakan bahwa musik keroncong ini lebih elegan dan tidak norak karena diminati oleh teman-teman muda dari segi kuantitas dan kualitasnya. Saya menyadari bahwa tingkat kesulitan bernyanyi musik keroncong itu tinggi, tapi para teman muda ini mampu menyajikan dengan interaktif dan menarik perhatian penonton. Kesan bahwa musik keroncong hanya milik konsumsi orang tua, kiranya tidak berlaku lagi.", demikian diungkapkan oleh Bapak Syafruddin, M. Hum, dosen dan Wakil Rektor III ISI Yogyakarta, yang menjadi ex-officio dalam Badan Pembina Seni Mahasiswa Indonesia (BPSMI).
Dihubungkan dengan semangat dan nilai-nilai Driyarkara bahwa seni itu olah vocal, olah gerak. Musik keroncong lebih dikenal sebagai force pleasure, yaitu musik pelepas lelah sesudah berkegiatan. Kiranya dengan adanya kegiatan ini musik keroncong bukan sekedar musik pelepas lelah, tetapi menjadi jalan kemanusiaan untuk lebih humanis dengan berkreasi diri secara optimal sebagai bahasa universal. Dengan begitu, musik itu mendapat tempat tinggi karena musik menjadi jembatan dalam menjalin persaudaraan dengan banyak orang di dunia musik. Kita exist di dunia eksisten dan USD memberi ruang, melihat pembinaan itu punya efek atau tidak. (FXAP)




