USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Sanata Dharma Berbagi: Pengajaran Bahasa dalam Pengembangan Karakter

diupdate: 13 tahun yang lalu


Sebagai wujud implementasi visi sebagai penggali kebenaran yang unggul demi terciptanya masyarakat yang bermartabat, Universitas Sanata Dharma (USD) pada hari Jumat, 30 Mei 2014 menyelenggarakan seminar dengan tema besar SANATA DHARMA BERBAGI. Sebagai langkah awal, seminar yang direncanakan sebulan sekali dengan manampilkan doktor-doktor baru USD ini diawali dengan tiga orang doktor dari Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP, yaitu Ouda Teda Ena. Ed.D, Paulus Kuswandono, Ph.D, dan Pius Nurwidasa Prihatin, Ed.D. Seminar yang diadakan di ruang Driyarkara Kampus II USD, dengan tema “Pengajaran Bahasa dalam Pengembangan Karakter” ini dihadiri oleh seratusan peserta yang sebagian besar berasal dari kalangan luar USD.
Dalam pengantarnya, Johanes Eka Priyatma, M.Sc, Ph.D. sebagai Rektor USD menyampaikan bahwa salah satu sasaran Renstra USD 2013-2017 adalah meningkatnya produktivitas, kualitas, serta cakupan sumbangan ilmiah dan prakarsa pengabdian USD. Strategi untuk mencapai sasaran tersebut adalah pembentukan klaster keilmuan. Doktor-doktor baru yang ada di USD diharapkan menjadi pelopor klaster-klaster di USD. Klaster ini dimaksudkan untuk menyusun dan mengimplementasikan rencana Tri Dharma di USD. Pada tahun 2014, dosen USD yang berpendidikan S3 akan mencapai 30%. Jumlah ini menjadi modal besar bagi USD untuk turut serta dalam pembangunan bangsa, secara khusus dalam bidang pendidikan. Selama ini pendidikan dan karakter selalu dianggap sebagai pihak yang paling bertanggung jawab dalam permasalahan bangsa. “Hal ini menjadi tantangan bagi USD untuk ikut menyelesaikan, dengan menyediakan tempat untuk saling curah gagasan dan membenturkan ide dalam kerangka yang konstruktif bagi semua pihak yang bertanggung jawab dan mengambil peran dalam pembangunan karakter.” ungkap Rektor USD.
Sebagai pembicara pertama, Ouda menyampaikan tentang pedagogi kritis yang menjadi sebuah sarana untuk menelaah timpangnya hubungan kekuasaan dalam ranah pendidikan, selain itu juga sekaligus sebagai sebuah usaha untuk melakukan perubahan sehingga sistem pendidikan semakin berkeadilan. Untuk ini, perlu ditumbuhkan kesadaran kritis bagi para guru yang dapat diinisiasi sejak awal mereka menjadi calon guru (mahasiswa FKIP). “Kesadaran kritis ini penting supaya guru tidak hanya menjadi alat penerap kebijakan (pemerintah dan yayasan) di sekolah tetapi guru dapat menjadi seorang agen pembawa perubahan menuju emansipasi social.” demikian papar Ouda. Lebih lanjut disampaikannya pula tentang penelitian yang menunjukkan bahwa bahan ajar Bahasa Inggris di Asia, khususnya di Indonesia  tidak berkeadilan gender, etnis, sosial-ekonomi, dan agama siswa. Menurut Ouda, mahasiswa calon guru wajib dibekali dengan pengalaman pembelajaran dan penelitian dari pedagogi kritis sehingga pada saat menjadi guru, mereka tidak menjadi naif dan termarjinalkan, tetapi mereka dapat menelaah, menyikapi dan menerima kebijakan-kebijakan pendidikan internasional maupun lokal secara kritis. “Dengan demikian mereka bisa menjadikan pendidikan sebagai usaha emansipatif, usaha pemberdayaan bagi siswa.” demikian pungkasnya.
Sementara itu, Kuswandono sebagai pembicara kedua lebih menyorot bagaimana ia membaca pengalaman profesional praktikan guru bahasa Inggris. Pengalaman pertama yang diungkapkannya adalah suatu keyakinan bahwa guru tidak hanya belajar dari buku, tetapi juga dari para muridnya. Untuk ini perlu pemahaman tentang adanya konsep teman belajar. Kemampuan guru diukur berdasar kemampuan membangun semangat kolegialitas dan kepercayaan. Tantangan dari pertemanan ini adalah dengan membuka diri selebar-lebarnya, guru dapat kehilangan muka di depan muridnya. Hal ini seringkali tidak membuat guru menjadi nyaman. Perlu ada pemahaman bahwa guru juga adalah manusia biasa, yang suatu ketika dapat keliru. Pengalaman yang kedua adalah kultur sekolah dan suasana kerja berpengaruh terhadap karakter, kualitas, dan dampak pada guru di awal-awal tahun bekerja. Hasil belajar di kampus tidak sekaligus dapat diterapkan di sekolah karena kultur yang berbeda.  Hal ini sering menjadi dilema. Meskipun praktikan sudah mencoba fokus pada strategi inovatif yang menjawab kebutuhan siswa, praktikan sadar bahwa guru pembimbing dan kepatuhan pada kultur sekolahlah yang menentukan nilai akhir PPL. Lebih lanjut, Kuswandono mengingatkan betapa perlunya eksplorasi keyakinan pandangan dan pemahaman terhadap identitas diri praktikan dalam refleksi profesionalisme mereka. Pemahaman dan penerimaan guru menjadi syarat paling penting dalam membantu murid memahami diri mereka sendiri, mengembangkan sikap dan penerimaan diri. “Mengajar bagi praktikan adalah kepuasan batin tatkala melihat murid-murid mencintai mereka dengan bertanya: Mas, kapan akan ngajar kita lagi? ” tuturnya mengakhiri pembicaraan.
Pius Nurwidasa sebagai pembicara ketiga menelaah integrasi teknologi dalam dalam pembelajaran dan pendidikan karakter di sekolah. Banyak orang yang meragukan efektivitas penggunaan teknologi dalam pembelajaran. Bahkan tidak sedikit yang mengkhawatirkan pengaruh negatif teknologi pada perkembangan psikologi anak usia sekolah. Tidak sedikit siswa-siswa sekolah menjadi korban pelecehan maupun pemerasan sebagai praktik negatif teknologi. Belum lagi penggunaan internet yang bebas memudahkan siswa untuk mengakses situs-situs yang kurang layak mereka lihat, misalnya pornografi. Karena pengaruh yang sangat kuat tersebut, anak-anak usia sekolah perlu pendampingan dalam menggunakan teknologi. Alangkah baiknya jika penggunaan teknologi diarahkan pada pengembangan intelektualitas dan kepribadian ke arah positif. Guru-guru diharapkan berpartisipasi secara positif dengan cara mengintegrasikan teknologi untuk tujuan pembelajaran. Penggunaan teknologi dalam pembelajaran memotivasi siswa untuk menggunakan teknologi dalam kegiatan sehari-hari. Lebih lanjut diungkapkannya bahwa ada lima fase penggunaan teknologi di dalam kelas, yaitu: pembiasaan, penggunaan, integrasi, re-orientasi dan evolusi. Sebagian besar guru mungkin hanya sampai pada tingkat penggunaan. Integrasi yang benar adalah ketika guru melakukan gebrakan sehingga komputer memegang peranan penting dalam proses pembelajaran. (BST)

  kembali