USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Seminar dan Peluncuran Buku IRB USD: "Mencari yang Belum Ketemu"

diupdate: 13 tahun yang lalu


Program Pasca Sarjana Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma pada hari Jumat, 30 Mei 2014 menggelar seminar sehari dan peluncuran buku dalam rangka peringatan seabad Ismail Marzuki dan 57 tahun Suka Hardjana di ruang Koendjono Gedung Pusat Kampus 2 USD Mrican. Kegiatan ini bertajuk "Musik dan Humaniora" dengan narasumber Suka Harjana (Budayawan) dan Prof. Dr. Endang Caturwati (Direktur Pembinaan Kesenian dan Perfilm-an KeMenDikBud RI).
Dalam pembukaan acara seminar ini, dilakukan peluncuran buku biografi Suka Harjana yang berjudul "Manusia Anomali Tanpa Kompromi" karangan St. Sunardi, A. Supratiknya, dkk dan pemberian penghargaan kepada Suka Harjana atas pengabdian sebagai budayawan selama 57 tahun. Acara ini dimoderatori oleh Romo Budi Subanar, SJ dan sebelum penyampaian materi oleh dua narasumber, terdapat pertunjukan musik cello dan flute dari Institut Seni Indonesia. 
"Mengulas Suka Hardjana berarti membuka kembali sejarah musik dan apresiasinya di Tanah Air. Sosok ini dikenal oleh (khususnya) para musikus (musik seni), akademisi, pendidik, dan pedagog musik sebagai seorang musikolog yang sampai hari ini masih belum berhenti memikirkan musik. Setelah beliau menyelesaikan studi di Jerman yang mengubah seluruh hidupnya akibat pengaruh dari obyek studi, dosen, dan lingkungannya, beliau dipanggil oleh Bapak Alisadikin yang ketika itu menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI untuk babad alas halaman Ismail Marzuki dan menjadi Dewan Kesenian Jakarta. Maka tidak heran apabila, Bapak Suka Harjana ini akrab dan mengenal secara mendalam kehidupan dan kiprah dari Ismail Marzuki sebagai composer dan pencipta lagu-lagu Nasional." demikian dikatakan oleh Romo Budi Subanar, SJ di tengah pembuka seminar.
Di awal pembicaraan Suka Harjana, ia mengungkapkan bahwa bertepatan dengan seabad sesudah Ismail Marzuki, diperingati juga 100 tahun musik Indonesia. Peringatan 100 tahun musik Indonesia ataukah peringatan 100 tahun musik di Indonesia? Kelahiran Ismail Marzuki menjadi pralambang dari kehadiran banyak lagu yang tentunya dipengaruhi oleh situasi jaman dan kondisi kehidupan saat itu. Mungkinkah kita menyebut dirinya sebagai maestro atau composer? Bermula dari gerakan awal sekitar abad akhir 19 dan awal 20, dikatakan bahwa orang-orang yang lahir di dalam masa itu disebut sebagai para tokoh perubahan yang mewarnai bangsa ini seperti munculnya organisasi atau perkumpulan Taman Siswa, Budi Utomo, Muhammadiyah, Pakempalan Katolik Jawi, dll. Lalu catatan kritis yang perlu kita berikan adalah apa yang hendak dicapai oleh mereka? Agitasi yang muncul adalah sepertinya dipandang sebagai usaha untuk merintis kemerdekaan dan menyadarkan kebangsaan. Sepertinya, ada ketakutan di dalam alam kemerdekaan dan perjuangan pencapaian kebangsaan maka usaha perjuangan tersebut hanya sekedar diskursus. Untuk mempelajari semangat kesadaran martabat kebangsaan, menurut beliau, isi atau esensi dari spirit itu sesuai dgn kehidupan kita sekarang. Hal ini menarik dihubungkan dengan soal kebudayaan dan musik, banyak tokoh yang berpengaruh lahir pada masa itu, WR Supratman, Ismail Marzuki, Cornel Simandjoentak, dll, mereka hanya pencipta lagu dan bukan componis yang terinspirasi oleh suasana alam dan situasi saat itu, lagu yang terbuat sederhana (tanpa bentuk pattitur yang sesuai ketentuan atau memakai alat musik yang harmoni dalam cord-cord), maka disebut song form.
Prof. Dr. Endang Caturwati sebagai pembicara kedua mengatakan bahwa musik itu memainkan humaniora manusia, memainkan ekspresi manusia terhadap situasi dan kondisi kehidupan saat ini yang diinspirasikan oleh semangat dan cita-cita kehidupan yang lalu. Musik tidak bisa lepas dari kehidupan, contoh, di tiap daerah ada lagu untuk menimang-nimang anak, untuk tidur, dan untuk pengantar di saat kematian. Mendendangkan musik daerah berarti menanamkan nilai-nilai norma daerah yang ditampilkan dengan ekspresi gesture. Kesadaran musik lokal melestarikan budaya Indonesia dan mengembangkan karakter. Hubungan musik dan humaniora adalah kita bisa merasakan dan mengalami diri kita dibawa ke alam mana. Musik lahir di antara masyarakat syarat dengan pendidikan karakter.
Kegiatan ini tidak hanya untuk para civitas akademica dari program pasca sarjana Ilmu Religi dan Budaya USD saja, partisipasi peserta yang hadir pun juga datang dari para civitas academica Institut Seni Indonesia Yogyakarta dan beberapa nama tamu undangan seperti Djaduk Ferryanto (musisi), dan beberapa seniman, dengan jumlah peserta yang hadir sekitar 200 orang. Semoga kegiatan ini semakin menyadarkan kita untuk menggali kekayaan bangsa dan menginternalisasi kebangsaan Indonesia sebagai jati diri melalui musik dan pendidikan humaniora. (FXAP)

  kembali