Salah satu Tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian Masyarakat (PKM-M) Universitas Sanata Dharma (USD) pada hari Sabtu, 24 Mei 2014 menggelar kegiatan Serangkaian Seni (Sekarni) di Hall Selatan, Kampus 3 USD Paingan. Kegiatan ini merupakan salah satu metode dalam rencana program kegiatan kelompok PKM-M Sekarni untuk menyediakan media komunikasi dan penyaluran emosi anak-anak penyandang autis dari SLB Citra Mulya Mandiri.
Tim PKM-M yang beranggotakan Lidwigna Florentina Sindoro (psikologi 2012), Anis Okta Cahyaningrum (Manajemen 2011), Angelica Christela Familia (Sastra Inggris 2012), Angga Dwiputra (psikologi, 2013), dan Matias Riomelano (TI, 2013) ini mempersiapkan modul pendampingan teman-teman yang menderita autis sejak bulan November 2013, mulai dari assesmen, rating skill, pengumpulan data, pencarian tempat untuk penyaluran emosi dan komunikasi, lalu pencarian daftar pustaka hingga menghasilkan kerjasama dengan SLB Citra Mulya Mandiri. Modul pendampingan yang telah berhasil disusun, terus-menerus dievaluasi tiap minggunya dalam grafik peningkatan atau penurunan melalui emoticon. Modul pendampingan ini berupa telansis gerak dan lagu, menggambar, musik, serta puisi.
Kegiatan Sekarni ini dihadiri oleh berbagai kongregasi atau komunitas religius seperti FCJ, OMI, CSsR, CB, ABK, beberapa Romo Yesuit, dan keluarga peserta serta beberapa umat dari paroki Kotabaru, paroki Banteng, dan paroki Kalasan. Kegiatan ini dikoordinatori oleh anggota Tim PKM-M dan dibantu oleh beberapa volunteer yang berperan dalam persiapan dan pelaksanaan Sekarni tersebut. Tim PKM-M ini dibimbing oleh Sylvia Carolina Maria Yuniati Murtisari, S.Psi.,M.Si. dosen Psikologi USD.
"Kegiatan ini kami beri tema "Unconditional Love", karena kami ingin mengapresiasi dan menunjukkan kepada teman-teman kita yang menderita
autis bahwa mereka pantas untuk dihargai dan dihormati sebagai seorang pribadi manusia yang memiliki harkat dan martabat. Mereka adalah pribadi yang berbeda dan bukan kurang, disebut berbeda itu karena mereka itu unik, sedangkan kurang berarti kita menganggap bahwa mereka itu tidak memiliki apa yang kita miliki padahal mereka itu bukannya tidak memiliki. Tema ini didasarkan pada teori seorang psikolog bernama Carl Rogers, yang menyebutkankan bahwa manusia di dalam pengalaman hidupnya mengalami dua sisi yaitu unconditional positive regard dan conditional positif regard. Dalam Sekarni ini, kami meneliti dan membantu anak-anak penyandang autis untuk mampu beraktualisasi. Bagaimana kita mengkondisikan diri sebagai mereka atau orang di sekitar mereka atau mungkin orang tuanya? Bagaimana kita mencintai orang yang kurang dalam kondisi tanpa syarat, contohnya aku mencintai kamu tapi kamu harus seperti ini. Jika ada kata tapi berarti orang itu tidak mencintai apa adanya. Dua kata itu kiranya tepat untuk mengarahkan kita bagaimana harus bersikap kepada mereka." demikian dikatakan oleh salah satu anggota kelompok PKM-M, Lidwigna Florentina Sindoro.
Program ini diusahakan dengan swadaya, karena dana bantuan dari Kopertis belum turun sepenuhnya. Maka dari Tim PKM-M mengusahakan bantuan dari Universitas Sanata Dharma dan dari orang tua masing-masing anggota. Dalam pelaksanaan Sekarni tersebut, tampilan dari teman-teman SLB, mulai dari menyanyi, bermain alat musik, dan menari sesuai keinginan dan kemauan mereka. Bahkan dalam pertunjukan diadakan lelang enam buah lukisan buatan teman-teman SLB beberapa hari lalu dan lelang lukisan itu laku dengan total harga 1,4 juta rupiah. "Uang sebanyak 1, 4 juta ini akan kami kembalikan dengan bentuk perpustakaan mini. Sekarni ini kami beri motto dengan "authism is not for jokes". Terkadang kita memandang mereka sebagai sebuah ejekan. Sebenarnya kita menghadapi mereka menggunakan kacamata out of the box. Maksimal mereka berbeda dengan kita. Proses pendampingan mereka adalah proses cerdas dan humanis, kalau penderita autis dihadapi berbeda, tegas bukan keras, proses mendengarkan dan didengarkan. Proses ini membuahkan sesuatu ketika anak dipuji dan mendapatkan perhatian." demikian dikatakan oleh salah seorang anggota kelompok PKM-M, Anis Okta Cahyaningrum.
Ini bukan suatu akhir, tapi sebuah awal tetap berjalan. Dengan diadakan program ini, semoga mampu menggugah komunitas peduli autis yang akan membantu para penderita autis. The authism is not for jokes, because it is a word expression describes a person who needed attention and greeting these enviroment. (FXAP)




