USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Dari Workshop Penerbit USD:
MENGEMBANGKAN UNIVERSITY PRESS SEBAGAI "NOBLE INDUSTRY"

diupdate: 13 tahun yang lalu


“Penerbit Perguruan Tinggi (University Press) kini memasuki era ekonomi kreatif yang perlu mengembangkan model “noble industry,” yaitu sebuah model industri yang bertujuan memuliakan manusia. Sebagai “noble industry”, Penerbit Perguruan Tinggi perlu memenuhi tiga kriteria, yaitu: (1) meningkatkan kualitas hidup manusia (the quality of life); (2) hadir secara kontinu (just in time); dan (3) berpenampilan indah (artistic in touch). Hal ini perlu dilaksanakan oleh para pekerja pengetahuan (knowledge worker) dengan menjalankan manajemen partisipatif,” demikian antara lain kesimpulan yang diperoleh dari Workshop Pelatihan Pengembangan Penerbitan untuk Perguruan Tinggi. Kerjasama Penerbit Universitas Sanata Dharma, Asosiasi Penerbit Perguruan Tinggi Indonesia (APPTI), dan Politeknik Negeri Media Kreatif, Jakarta. Worshop tingkat nasional yang dibuka secara resmi oleh Rektor USD, Johannes Eka Priyatma, MSc. PhD itu berlangsung di Ruang Kadarman, Gedung Pusat Kampus 2 USD selama dua hari, 23-24 Mei 2014.
Workshop yang ditutup oleh Ketua LPPM USD, Dr. Anton Haryono, M.Hum itu menghadirkan tiga narasumber, yaitu:  Drs. Frans M. Parera (Poiteknik Negeri Media Kreatif Jakarta); Dr. Elang Ilik Martawijaya (IPB Bogor dan Ketua I Asosiasi Penerbit Perguruan Tinggi Indonesia (APPTI), dan Drs. B. Rahmanto, M.Hum (Universitas Sanata Dharma).
Penerbit Perguruan Tinggi sebagai “noble industry” tentu tidak saja menerbitkan buku-buku untuk kepentingan komersial semata-mata. Terkadang, penting juga menerbitkan buku-buku untuk menaikkan martabat atau untuk pencitraan (Vanity Publishing).
“Dalam bidang pemasaran, perlu diperhatikan tiga tipe buku, yaitu (1) very slow moving (buku yang tidak laku, hanya ada di gudang); (2) moderate moving (lumayan laku); dan (3) very fast moving (sangat laris). Manajemen penerbit perguruan tinggi perlu mengkombinasikan ketiga model ini untuk melakukan subsidi silang,” demikian disampaikan Drs. Frans M. Parera.
Selain itu, ditegaskan bahwa ada dua model profit penerbit perguruan tinggi, yaitu tangible profit (keuntungan berupa uang yang dapat dilihat dan dihitung) dan intangible profit (dampak sebuah buku, yang tidak terlihat).  “Penerbit perguruan tinggi tentu tidak hnay mengejar uang tetapi juga dampak dan pencitraan kampus,” tegas Frans M. Parera. 
Pedagang dan Campus Corner
Salah satu langkah strategis pengembangan Penerbit Perguruan Tinggi adalah dengan membuka toko buku (bookstore, campus corner). Campus corner merupakan tempat menjajaki siapa pembaca atau pelanggannya. Secara logis, tidak bisa kita menerbitkan buku tanpa mengetahui siapa pembacanya. Jadi penerbitan tidak dimulai dengan penelitian/penulisan tanpa mengenal pembacanya. “Sell then made! Trade then Develop,” demikian ditegaskan Drs. Frans M. Parera, mantan pimpinan teras penerbit Gramedia Pustaka Utama. Bookstore atau Campus Corner ini perlu dilengkapi dengan tempat diskusi dan café shop.
“Jangan takut mendudukkan University Press sebagai pedagang. Pedagang tidak lebih rendah dari professor. Inggris dan Amerika adalah kaum pedagang yang tetap mengembangkan etika dan penghormatan terhadap martabat manusia (noblege oblige),” lanjut Frans Parera. 
Dalam  workshop itu terungkap dua strategi pengembangan University Press. Pertama,  Model Inggris, seperti yang dikembangkan oleh Oxford Univesity Press. University Press tetap menjadi bagian dari universitas tetapi pada saat yang sama berkembang menjadi kapitalis dunia. Kedua, model membangun jaringan kerjasama seperti yang dikembangkan university press di Amerika Serikat. Model ini lebih sesuai dengan semangat gotong royong di Indonesia. University Press dari Sabang sampai Merauke bisa bekerjasama dalam sebuah sistem manajemen partisipatif.
Reposisi University Press dan Manajemen Kontrol
Dari sudut kelembagaan, perlu dilakukan reposisi kedudukan dan peran University Press. University Press tidak boleh hanya menjadi sebuah unit apalagi sub-unit yang kecil. Sebaliknya, University Press justru harus menjadi center of excellence perguruan tinggi, yang mampu memberikan tangible profit (finansial) dan intangible profit (dampak). 
Untuk meningkatkan kualitas penerbitan perguruan tinggi, diperlukan strategi manajemen censorship (control quality) dengan pendekatan memberikan motivasi (bukan menghukum). Penerbit perguruan tinggi perlu memiliki pedoman penerbitan buku, bahkan jika perlu, secara selektif menerbitkan buku yang dapat meraih hadiah nobel. Untuk itu, diperlukan para pembaca ahli (professor) yang dapat memberikan censorship yang memotivasi.  “Managemen censorship tak bisa ditawar,” tegas Drs. Frans M. Parera.
Penerbit Perguruan Tinggi perlu membedakan dua segmen penulis, yaitu: established writer (penulis yang sudah mapan dan sudah punya nama) dan promoted writer (penulis pemula yang masih perlu mendapat dukungan. Karena itu, diperlukan kebijakan yang ‘diskriminatif’ (yang tidak menyamaratakan) terhadap dua segmen tersebut.
Pendapat bahwa mengelola penerbit perguruan tinggi di Indonesia tidak dapat dilakukan dengan professional, tidak prospektif, “mati segan hidup tak mau” adalah keliru. Dosen dapat menulis buku yang bersifat ‘ilmiah populer’ yang bisa diwajibkan pada mahasiswanya dan diminati orang-orang di luar kampusnya.
Ada lima unsur dalam bisnis buku: (1) penerbit, (2) penulis, (3) percetakan, (4) distributor,  dan (5) pengecer. Kelima unsur bisnis buku ini perlu menjalin hubungan kerjasama yang erat.
Ukuran penerbitan sebuah buku sukses atau tidak adalah dengan meninjau tangible profit (keuntungan uang) dan intangible profit (dampak). Dosen dapat memanfaatkan berbagai peluang yang ditawarkan, juga oleh pemerintah, untuk menerbitkan karya-karyanya.
Dalam worshop itu, terungkap pula bahwa e-book dan e-journal bukan ancaman bagi industri penerbitan buku berbasis kertas. Sampai satu abad ke depan, Indonesia masih merupakan paper society. “E-book memang kini menjadi trend untuk mereka yang menguasai IT. Kelompok yang menguasai IT di Indonesia masih sangat kecil,” demikian salah satu keseimpulan yang mengemuka dalam workshop tingkat nasional tersebut. (y2t)

  kembali