Umpama sliramu sekar melati, aku kumbang nyidam sari...
Umpama sliramu margi wong manis, aku kang bakal ngliwati...
Sineksen lintange luku semono, janji prasetyaning ati...
Tansah kumantil ing netro rinoso, kroso rasaning ndriyo...
(nyidam sari - projo nguren)
Lantunan sajak syair lagu itu terasa sejuk didengar di pagi hari menjelang siang. Iramanya menuntun kita pada kerinduan hati terpendam yang tak terluapkan. Apakah lantunan itu akan sampai pada pribadi yang dirindukan? Kita hanya tahu bahwa lantunan kerinduan itu terbawa angin yang berterbangan.
Hari Minggu tanggal 18 Mei 2014, Universitas Sanata Dharma melalui Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Karawitan menggelar Festival Nada dan Irama Gamelan bertajuk Tembang Puji dan Harapan. Pagelaran nada dan irama gamelan ini dibingkai unik dengan bentuk festival yang diikuti oleh 12 kelompok yang terdiri dari berbagai paroki di kevikepan Yogyakarta-Solo, Gereja Kristen Jawa, dan Tim Karawitan Kasultanan Yogyakarta. Dalam festival ini, 12 kelompok menampilkan dua buah lagu yang telah dipersiapkan, berupa lagu wajib dan lagu pilihan. Dan lagu-lagu ini ditampilkan sebagai seni pertunjukkan yang dinilai oleh para juri untuk mendapatkan apresiasi-apresiasi dan sebagai juara utamanya akan mendapatkan trophy bergilir Uskup Keuskupan Agung Semarang. Penghargaan trophy bergilir Uskup ini pun menjadi kekhasan di dalam festival tahun ini karena sebelumnya penghargaan piala bergilir diberikan oleh pihak Kasultanan Yogyakarta.
Rektor Universitas Sanata Dharma Drs. Johannes Eka Priyatma. M.Sc., Ph.D. menyampaikan bahwa festival nada dan irama gamelan ini memiliki peran memelihara dan mengembangkan nilai-nilai yang komprehensif. Nilai-nilai yang sekiranya dapat kita transformasikan dalam kehidupan kita sehari-hari, seperti contoh nilai keharmonisan. Bermain gamelan itu tidak membutuhkan dirigen untuk memanage dan mengkoordinasi jalannya musik yang akan dilantunkan. Keharmonisan akan terwujud di dalam kepekaan dan tenggang rasa memukul alat-alat gamelan yang saling melengkapi sehingga menjadi pemain terpadu yang memainkan rasa. Kiranya hal itulah yang terjadi di dalam bermain gamelan. “Universitas Sanata Dharma sebagai sebuah tempat pendidikan yang mentransformasikan nilai-nilai humanis juga mengemban tugas untuk menguri-nguri kebudayaan Jawa. Dan melalui UKM Karawitan USD ini, segenap civitas academica mempunyai peran di dalam pemeliharaan dan pengembangan budaya Jawa yang diharapkan kegiatan ini menjadi kegiatan rutin yang akan diagendakan setiap tahunnya. Festival ini ada penghargaannya, semata-mata sebagai bentuk apresiasi dan bukan memenangkan lomba-lomba, terlebih partisipasi lomba ini diikuti oleh berbagai lapisan mulai dari anak-anak hingga orang-orang dewasa." demikian tambah Pak Eka.
Dr. Gregorius Budi Subanar, S.J. selaku moderator dan penasehat pelaksanaan festival mengatakan bahwa festival ini pertama-tama untuk menambah wawasan gending-gending Gerejani yang ada di Kevikepan Yogyakarta-Solo. Kedua, festival ini mengapresiasikan, menumbuhkan, dan mengembangkan suasana partisipasi kebudayaan Jawa. Festival ini merupakan festival sekar gending yang memasuki tahun kedua di mana menjadi kelanjutan dari parade anak yang telah berjalan memasuki tahun ketujuh. Maka peserta yang terlibat di dalam festival tersebut tidak hanya kaum dewasa saja, tetapi juga peran serta aktif anak-anak dan remaja sebagai bentuk nguri-nguri kebudayaan Jawa. Festival ini dilatarbelakangi oleh keinginan dan harapan akan diadakannya event bagi paroki-paroki yang punya gamelan bisa unjuk gigi. Walaupun kesannya acara 'gerejani' tetapi tetap nguri-nguri kebudayaan Jawa sebagai peristiwa kebudayaan. Instrumen gamelan bukan menjadi pengertian Jawa saja, tetapi karawitan menjadi seni gending gerejani. UKM Karawitan USD tidak hanya berdiam diri saja sebagai sekedar penonton atau player, tetapi menjadi fasilitator dalam membuat perencanaan, mengorganisir orang, dan mencari donatur. Diharapkan festival ini bisa menjadi ajang seluruh Keuskupan Agung Semarang dengan perebutan trophy Uskup sehingga suasana dibuat lebih baik dan lebih greget.
Pada akhir acara festival, dilanjutkan dengan pemberian penghargaan dari Universitas Sanata Dharma bagi para composer musik-musik Jawa, khususnya musik Jawa yang ada di dalam Gereja, yaitu bapak Paul Widiawan dan beberapa composer dari Kasultanan Yogyakarta. Semoga festival ini menjadi bentuk kesediaan dan kesadaran kita untuk selalu nguri-nguri kebudayaan yang ada di tengah kehidupan kita terlebih kebudayaan jawa di dalam kehidupan keragaman berbangsa dan bernegara. (FXAP & AAW)




