USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

LEMBAGA PENDIDIKAN JESUIT HARUS BENTUK KARAKTER LULUSANNYA

diupdate: 19 tahun yang lalu

“Tolok ukur keberhasilan pendidikan Jesuit tidak hanya dilihat dan dititiberatkan pada pencapaian hasil kelulusan dan IP peserta didiknya tetapi harus mampu membentuk karakter lulusannya sedemikian rupa sehingga ia menjadi manusia bagi sesama”, demikian pernyataan Rm. Hari Suparwito, S.J. dalam acara Sarasehan “Spiritualitas Ignasian dan Character Building” di Kampus 2 Mrican Sabtu (28/7). Dalam makalahnya yang berjudul “Pembentukan Karakter Manusia melalui Pedagogi Ignasian”, Rm. Hari mengatakan bahwa untuk membantu membentuk karakter lulusannya, pendidikan Jesuit perlu menerapkan prinsip-prinsip Pedagogik Ignasian. Prinsip-prinsip itu antara lain, perhatian kepada pribadi, pengalaman, refleksi, aksi, dan evaluasi. Perhatian pribadi memiliki makna bahwa dosen mengenal peserta didiknya secara pesonal dan mereka memiliki pola hubungan yang dilandasi dengan penghargaan, rasa hormat, dan pelayanan. Dari sisi pengalaman, pengetahuan mahasiswa harus dilengkapi dengan fakta, ide, dan masukan dari dosen. Yang tidak kalah penting adalah bahwa pendidikan harus disertai dengan refleksi, artinya mahasiswa harus mampu menangkap makna yang sebenarnya secara penuh. “Apa yang terjadi di lingkungan dapat ditangkap dan dijadikan bahan terus-menerus sehingga proses pembelajaran tidak tercabut dari konteks dan pengalaman sehari-hari”, tandas Rm. Hari. Dalam hal aksi, beliau menekankan pentingnya kompetensi dan keilmuan yang disertai dengan bela rasa, belas kasih, dan perhatian terhadap sesama. Sementara itu evaluasi hendaknya dimaknai sebagai mutu atau kualitas hasil pekerjaan yang disertai dengan posisi peserta didik terhadap hasil karyanya yang dievaluasi. Sementara itu Rm. Dr. Y.B. Heru Prakosa, SJ dalam makalahnya yang berjudul “Manusia dan Pertumbuhannya dalam Terang Spiritualitas Ignasian” menyatakan keprihatinannya ketika mencermati nilai-nilai yang ditawarkan dunia saat ini yang cenderung membuat manusia menjadi dangkal dalam berpikir dan berperilaku. “Materialisme, konsumerisme, dan budaya instan semakin meraja lela dan tentu berseberangan dengan yan gdiharpkan St. Ignasius. “Di tengah tantangan ini, pendidikan Jesuit harus mampu mengintegrasikan aspek iman-pengetahuan-tindakan dalam dialektika teori-praktek untuk menghadapi sistem nilai yang negatif”, tandasnya. Pembicara-pembicara yang lain yang juga menyemarakkan sarasehan ini adalah Rm. A. Herry Wijayanto SJ, dengan makalahnya yang berjudul “Doa Kepada Kristus Sang Guru Sejati”, Br. Norbert Mujiyana, SJ, dan Br. Andreas Haryanto, SJ. (Tti)

  kembali