Dalam rangka Dies Natalis Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma (FE USD) yang ke-21, Fakultas Ekonomi menyelengarakan Seminar yang bertempat di Student Hall Universitas Sanata Dharma Kampus I Mrican. Seminar yang diselenggarakan pada hari Sabtu 26 April 2014 ini mengangkat tema “Pendidikan Bisnis yang beretika dalam rangka menyongsong masyarakat ekonomi ASEAN 2015” dengan menghadirkan Dr. Fr. Ninik Yudianti, M.Acc, QIA sebagai Moderador Seminar serta menghadirkan 2 pembicara yaitu Dr. J. Haryatmoko S.J. dan Teguh Tjahyono S.Kom, M.M.
Sambutan pertama dibuka oleh Albertus Fani P, S.E., M.Sc., Akt selaku Ketua Umum Dies yang memaparkan tujuan diselengarakannya seminar Dies Natalis ini adalah memberikan wawasan kepada peserta seminar untuk merefleksikan kembali seberapa penting pendidikan beretika dalam menyongsong masyakat ekonomi ASEAN 2015. Kemudian dilanjutkan sambutan kedua oleh Dekan FE USD Dr. Herry Maridjo, M.Si. yang memaparkan alasan panitia memilih tema tersebut. “Mau tidak mau, siap tidak siap Indonesia harus masuk dalam era masyarakat ekonomi ASEAN. Dengan berlakunya masyarakat ekonomi ASEAN, persaingan di bisnis apa saja akan semakin ketat. Persaingan yang semakin ketat bisa menjadi ancaman mana kala kita tidak memiliki keunggulan kompetitif dan kita akan memiliki peluang apabila kita memiliki keunggulan kompetitif.” demikian ditegaskan oleh Pak Herry.
Sambutan ketiga oleh Rektor USD Drs. Johanes Eka Priyatma, M.Sc., Ph.D., ia membagikan sedikit pengalamannya. Suatu hari ia membeli sebuah alat yang ditempel dipintu, dengan alat itu, pintu bisa ditutup dengan otomatis. Harganya sekitar Rp 196.000,- kemudian ia memberi uang Rp 200.000,- sambil menawar harga agar menjadi Rp 195.000,- tetapi tidak boleh, jadi harus tetap membayar Rp 196.000,-. Sore harinya, di tempat lain ia membeli sapu lidi ke sebuah warung kecil dengan penjual seorang nenek, harga sapu tersebut adalah Rp 6.000,- di dompet hanya ada uang Rp 5.000,- dan Rp 10.000,- ia tidak berani menawar karena hanya sapu lidi seharga Rp 6.000. Kemudian ia memberikan uang Rp 10.000,- kepada nenek, tetapi karena si nenek tidak punya uang kembalian, si nenek memberi harga sebuah sapu lidi Rp 5.000,- Ketika menerima itu ia tercengang membandingkan pengalaman pagi hari dan sorenya, nenek itu dengan rela melepaskan uang Rp 1.000,00. Mungkin itu adalah salah satu sebabnya mengapa para pedagang kecil tidak bisa sukses dan tidak bisa kaya. Ada sebuah prinsip yang dipakai oleh pedagang-pedagang kecil “rugi sedikit tidak apa-apa asal untung dalam persaudaraan”, hal itu merupakan strategi bisnis yang berdampak pada jangka panjang karena bisnis sangat tergantung hubungannya dengan klien ataupun konsumen. Jadi prinsip yang dilakukan tersebut mungkin secara ekonomis merugikan tetapi bisa menjadi strategi jangka panjang.
Pembicara pertama Dr. J. Haryatmoko, S.J. memaparkan kasus-kasus di dalam etika yang terjadi di Indonesia dan kasus yang paling berat adalah dalam pengadaan barang dan jasa karena biasanya digunakan sebagai tempat untuk korupsi. Korupsi yang paling berat meliputi partai politik, birokrat dan penegak hukum. Di Indonesia kasus etika yang paling berat adalah partai politik karena harus menetapkan sekian triliun untuk menang dalam pemilu yang akan datang. Jadi orang yang sudah ditempatkan di posisi penting lalu berusaha untuk melakukan hal seperti itu. Orang yang ahli dalam etika tidak menjamin akan bersikap etis, karena ketika lemah dalam kompetensi untuk menutupi kelemahannya orang cenderung melanggar etika. Pesan yang disampaikan oleh Pastur/Romo lulusan S3 di bidang Etika Politik di Prancis ini adalah “jika masuk ke suatu perusahaan, perlu diperhatikan apakah perusahaan itu sungguh-sungguh memperhatikan kode etik. Kode etik berbeda dengan hukum, kode etik fungsinya untuk mencegah, membimbing, mengoreksi sejauh mana upaya-upaya pencegahan dilakukan. Kode etik perlu ada untuk menghindarkan dari tindakan kesewenang-wenangan di dalam suatu perusahaan.”
Romo Haryatmoko mempunyai sebuah cerita, ada seorang dosen yang terkenal killer mau mengadakan ujian, mahasiswa yang takut belajar hingga jam 3 pagi karena jam 8 pagi sudah ujian. Waktu ujian, dosen tersebut hanya membawa sanggar burung setinggi 50 cm ditutup kain hanya terlihat kaki si burung. Soal ujian hanya satu “Dengan melihat kaki burung itu apakah kamu bisa menebak burung apa itu”. Mahasiswa yang belajar hingga pukul 3 pagi sangat jengkel dan langsung menyobek kertas di depan dosennya. Dosennya langsung marah dan bertanya “Siapa kamu?”, namun mahasiswa itu terus berjalan. Sang Dosen terus bertanya “Siapa kamu”, namun dia terus berjalan. Mahasiswa itu terus berjalan sampai di depan pintu, dosennya memanggil “Siapa kamu?”, mahasiswa itu berhenti, dosennya bertanya lagi “Siapa kamu? Siapa namamu?”, Mahasiswa itu mengangkat celana panjangnya lalu berkata “Lihat kaki saya, tebak siapa saya!.” Romo Haryatmoko menutup pembicaraannya dengan joke yang membuat seluruh peserta dan tamu undangan tertawa.
Teguh Tjahyono S.Kom, M.M sebagai pembicara yang kedua menceritakan kasus bisnis etik yang Multinasional Company dari pengalamannya ketika bekerja di perusahaan-perusahaan multinasional company, ternyata aturan etika itu sudah diterapkan, sehingga ketika melakukan pelanggaran dapat dengan mudah dipecat. Srategi lain yang disampaikan tidak berhubungan langsung dengan pihak-pihak tertentu yang memiliki potensi untuk terjadinya pelanggaran etik seperti misalnya berhubungan dengan pemerintah, perusahan-perusahaan BUMN sehingga ada perantara lain. Strategi yang dilakukan perusahaan HP ketika masa krisis perusahaan tidak semena-mena memecat karyawan tetapi karyawan tersebut dipindahkan ke tempat lain ataupun dengan menurunkan gaji. Meskipun hal itu kurang diminati oleh karyawan, tapi hal itu masih menunjukkan kondisi yang lebih baik daripada dipecat. Kita bisa melakukan dimulai dari pengalaman kita sendiri untuk menerapkan bisnis yang beretika. (MDRS)




