“Ketangguhan saya belum apa-apa, teman-teman yang memiliki 5 indera jika disyukuri jauh lebih bisa”. Begitulah kira-kira pesan yang disampaikan oleh Mimi Mariani Lusli kepada para mahasiswa prodi Bimbingan Konseling Universitas Sanata Dharma dalam acara Vision Day 2014: Menjadi Konselor Tangguh “Melihat Dengan Mata Hati” bersama Mimi Mariani. Kegiatan yang diadakan di ruang Drost pada tanggal 16 April 2014 ini bertujuan untuk menyegarkan kembali pikiran serta memberi inspirasi kepada para mahasiswa prodi Bimbingan Konseling.
Siapakah Mimi Mariani Lusli? Apa keterkaitannya dengan dunia konseling? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu mungkin akan terbesit dalam benak seseorang yang belum mengenal Mimi Mariani Lusli. Dr. Gendon Barus, M.Si. selaku Ketua Program Studi Bimbingan dan Konseling USD menyatakan bahwa kehadiran Mimi untuk memberi inspirasi adalah wujud rindu civitas Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma terhadap Mimi.
Mimi Mariani Lusli adalah seorang penyandang disabilitas yang pernah menempuh pendidikan S1 di Fakultas Ilmu Pendidikan, jurusan Kurikulum dan Teknologi endidikan di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Sanata Dharma pada tahun 1985 hingga 1989. Keterbatasannya dalam melihat tidak melemahkan asanya mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi. Pada tahun 1995 hingga 1997, Mimi menempuh pendidikan S2 di Fakultas Ilmu Administrasi, Universitas Indonesia. Ia kemudian menempuh pendidikan S2 kembali di jurusan Komunikasi Internasional, University of Leeds, Inggris.
Ragam pendidikan yang ia tempuh, diiringi dengan berbagai pengalamannya di dunia konseling. Mimi tercatat pernah menjadi konselor pendidikan di beberapa SMA di Jakarta, dosen program Magister Konseling di Sekolah Tinggi Teologi Iman, Wakil Ketua Bidang Pengembangan Jaringan dan Kemitraan di Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia, Dewan Pakar di Pusat Kajian Disabilitas di Universitas Indonesia dan menjadi Direktur Mimi Institute; lembaga yang befokus pada disabilitas untuk kehidupan yang lebih baik. Bagi Mimi, pilihan untuk terjun ke dunia konseling yakni karena menjadi seorang guru lebih berfokus pada kemampuan oral. Selain itu Mimi juga memberikan wejangan kepada para mahasiswa Bimbingan Konseling Universitas Sanata Dharma, ”Biarlah klien menemukan solusi permasalahan dengan cara mereka sendiri. Tugas konselor bukan memutuskan suatu solusi ketika mendampingi klien karena tanggungjawab tetap pada diri klien”. Kepiawaian dalam dunia konseling merupakan buah dari rasa syukurnya. ”Tuhan hanya pinjam mata, tetapi saya masih bisa dengar, masih bisa berpikir, masih bisa berbicara”, ungkap Mimi yang sekarang menjadi kandidat S3, Faculty of Earth and Life Sciences, University of Amsterdam, Belanda.
Drs. R.H.Dj. Sinurat, M.A. yang merupakan dosen senior di prodi Bimbingan dan Konseling USD memberi kesan tentang Mimi. Pada awal ketika Mimi diterima di Sanata Dharma, Pak Sinurat bingung menerima Mimi karena terkendala dengan media pembelajaran untuk Mimi. Berkat inisiatif Mimi dan bantuan para staf akademik, Mimi mampu mengikuti kegiatan perkuliahan di Sanata Dharma. Pada waktu itu, menemukan buku dengan huruf braille adalah hal yang sangat susah. Mimi dapat memperoleh ilmu dengan cara meminta tolong temannya ataupun staf akademik untuk membacakan buku kemudian Mimi merekamnya. Di situlah kemampuan Mimi untuk mendengar serta berpikir semakin terasah. Hal lain yang membuat Mimi bisa menjadi dirinya yang sekarang adalah karena dukungan yang sangat besar dari keluarga. Bapak Sinurat yakin bahwa modal pendidikan utama seseorang adalah di keluarga. Dra. M.J. Retno Priyani, M.Si yang dulu juga pernah membimbing Mimi ketika kuliah memberi kesan bahwa Mimi adalah pribadi yang pantang menyerah, tidak mengeluh dan selalu ceria. Kesan-kesan yang dilontarkan oleh dosen senior di prodi Bimbingan dan Konseling ini sempat membuat Mimi meneteskan air matanya.
Setelah Mimi Mariani Lusli memberikan ceramah kepada mahasiswa Bimbingan dan Konseling, giliran Frans Liem alumni Bimbingan dan Konseling USD tahun 1991. Frans Liem merupakan adik kelas dari Mimi Mariani Lusli, Frans Liem menyampaikan tahu betul perjuangan Mimi ketika kuliah di Sanata Dharma. Saat ini Frans Liem menjadi seorang motivator dan mendirikan Wisma Lentera; wisma sebagai tempat untuk mengembangkan diri di daerah Kalibawang. Ia menambahkan beberapa wejangan yang menguatkan inspirasi dari Mimi bagi para mahasiswa Bimbingan dan Konseling, “ambil semangat dari para motivator dan jadilah diri anda, jangan menghindari forum motivasi dengan tujuan untuk menyamakan konsep pikiran, lebih bersyukurlah dengan potensi yang dimiliki dan jemputlah kesuksesan anda”. (lsw)




