USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Membatik di Balik Lapas

diupdate: 13 tahun yang lalu


Apa yang anda pikirkan pertama kali ketika mendengar kata Penjara? Takut, biasa-biasa saja, atau justru penasaran dengan kehidupan di dalamnya? Sebagian besar masyarakat beranggapan bahwa penjara merupakan tempat angker. Di mana orang-orang yang mempunyai masalah hukum dikurung di sana dalam kurun waktu tertentu, atau adapula yang  dihukum mati dan dibatasi segala macam kebebasannya. Jangankan bertemu dengan para tahanan, melihat bangunannya dari kejauhan banyak orang sudah ketakutan. Tak heran, penjara serta penghuninya dipojokan oleh banyak orang. Terinspirasi hal tersebut, salah satu Tim Program Kreatifitas Mahasiswa bidang pengabdian Masyarakat (PKM-M) dari USD (yang menyebutkan timnya dengan nama PKM-M Batik) mengajukan proposal PKM untuk berkegiatan bersama para narapidana di Lapas  Wirogunan Yogyakarta  yang akhirnya lolos dan didanai oleh Direktorat Pendidikan Tinggi (Dikti) tahun 2014.
Tim PKM-M  Batik tersebut beranggotakan 5 orang mahasiswa USD yaitu Lorensius Imus Ventora (Farmasi, 2011), Tofan Gustyawan (Pend. Bahasa Indonesia, 2009), Hariyanto (Pend. Ekonomi, 2010), Bagas Abiyoga (Farmasi, 2011), dan Raymond Apriyogi D.P (Teknik Informatika, 2013), serta 1 orang dosen pendamping Y.M.V. Mudayen, SPd, MSc. Program PKM-M ini adalah membatik dengan metode BATIC (Broadcast-Aware-Training-Image-Control). Sebelum memberi pelatihan, tim PKM-M mengikuti kursus membatik yang diadakan kurang lebih 2 bulan di SMP BOPKRI 2 Yogyakarta. Kursus tersebut diberikan langsung oleh Pak Darmadji dan Bu Ning, selaku guru membatik di sekolah tersebut.
Berbagai keterbatasan dan minimnya ragam kegiatan yang disediakan oleh pihak lapas, seringkali menyebabkan tingginya tingkat kebosanan para narapidana. Batik menjadi salah satu alternatif. Batik merupakan media yang kami pilih untuk membangun kebersamaan dengan para NAPI khususnya narapidana wanita. Berdasarkan hasil kuisoner yang diisi dan wawancara langsung kepada peserta, sebagian besar menyebutkan bahwa mereka merasa sangat senang sekali ada kegiatan membatik ini. Mereka dapat belajar bagaimana cara membatik serta mengembangkannya untuk kemudian dijadikan sebagai bekal hidup setelah bebas dari penjara.   
Tahanan dan narapidana yang dibina di lapas Wirogunan pun memiliki latar belakang sosial dan masalah hukum yang beragam. Sebagian besar terlibat kasus penipuan, narkoba, dan korupsi. Tidak hanya warga negara Indonesia saja yang ditahan di sana, bahkan ada salah seorang peserta membatik yang merupakan warga negara Vietnam. Untungnya setelah bertahun-tahun ditahan, kini ia sudah bisa bahasa Indonesia, dan berniat untuk mengembangkan batik setelah keluar dari penjara dan kembali ke negara asalnya lagi nanti. 
Kegiatan PKM-M Batik ini dikuti oleh 30 orang narapidana yang ditentukan langsung oleh pihak lapas. Kegiatan tersebut diadakan di aula balai pengobatan lapas dan didampingi oleh satu petugas, yaitu Bu Asih. Ada beberapa orang di antara mereka sudah pernah mendapat pelatihan membatik sebelumnya. Mereka tampak sangat antusias mengikuti setiap proses yang diberikan oleh tim PKM-M Batik. Program ini direncanakan berlangsung dari bulan April-Juni 2014. Harapannya, peserta sekaligus mahasiswa mendapatkan pengalaman baru yang berharga dan bisa mempraktikkan secara langsung bagaimana cara membuat batik. Selain itu, adanya kegiatan batik ini dapat menambah jenis kegiatan di lapas, serta menambah softskill para narapidana wanita.
Mulanya Tim PKM-M Batik juga merasa takut untuk melaksanakan program di sana, apalagi harus berhadapan dengan orang-orang yang memiliki masalah khusus dan latar belakang yang berbeda. Selain itu, saudara-saudara kita yang ditahan di Wirogunan, menanggung beban psikologis yang sangat berat. Bukan hanya masa tahanannya saja yang lama, tetapi mereka juga menanggung rasa bersalah terhadap keluarga dan harus menghadapi sanksi sosial dari masyarakat, yaitu: penolakan dan pengucilan. Pengalaman bersama para narapidana ini, membuka cakrawala berpikir tim PKM-M Batik. Mereka bukan kelompok yang menakutkan dan harus dijauhi, tetapi mereka adalah orang-orang yang butuh penghargaan dan pendampingan minimal dengan melakukan kegiatan yang sederhana seperti membatik ini. Tim PKM-M dapat diterima dengan sangat baik dan dalam waktu yang singkat bisa akrab, tentunya dengan batasan-batasan tertentu pula.
Tim PKM-M Batik berencana untuk mengenalkan kehidupan lapas ke khalayak umum, dan berencana untuk mengajak mahasiswa lain untuk sesekali terlibat dalam kegiatan PKM-M Batik ini, sehingga semakin banyak orang yang terbuka wawasannya dan mengubah persepsi mereka tentang kehidupan di Lapas. (LIV)

  kembali