USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

SEMINAR NASIONAL PERPUSTAKAAN USD
Tantangan Perpustakaan di Era Digital (Digital Natives Go to the Libraries: a Challenge)

diupdate: 13 tahun yang lalu


Perpustakaan Universitas Sanata Dharma (USD) pada hari Kamis, 6 Maret 2014 di Ruang Koendjono Gedung Pusat Kampus II USD menggelar seminar nasional dengan tema “Tantangan Perpustakaan di Era Digital (Digital Natives Go to the Libraries: a Challenge). Hadir sebagai narasumber seminar ialah Dian Wulandari, S.IIP. (Kepala Perpustakaan UK Petra Surabaya), Dra. Labibah Zain, M.LIS (Dosen Ilmu Perpustakaan dan Informasi UIN Sunan Kalijaga), J. Eka Priyatma, Ph.D (Pakar Teknologi Informasi dan Dosen Teknik Informatika USD). Acara ini dimoderatori oleh YP. Supriyanto, S.Sos.
Kepala Perpustakaan USD, Drs. Paulus Suparmo, S.S., M.Hum. dalam pengantarnya mengatakan perpustakaan saat ini sedang dihadapkan pada situasi tertentu atau semacam kegalauan yang erat hubungannya dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi yang merambah perpustakaan dan hadirnya generasi digital (digital native) sebagai pemustaka. Digital native terlahir dalam gencarnya perkembangan teknologi semacam komputer, internet, gadget, dan media visual lainnya, sementara secara umum saat ini pengelola perpustakaan notabene adalah digital immigrant, generasi sebelumnya. Tantangan perpustakaan terhadap kegalauan ini akan terjawab apabila perpustakaan mampu mengakomodasi kebutuhan digital natives dengan membuka lebar kran akses informasi yang lebih sesuai.
Pembukaan seminar dilakukan oleh Wakil Rektor I, Dr. Fransisca Ninik Yudianti, M.Acc. mewakili Rektor USD. Dalam sambutan pembukaan beliau menyampaikan bahwa perkembangan teknologi informasi saat ini sangat memungkinkan para generasi muda mencari dan mendapatkan informasi kapanpun dan di manapun, tidak melulu didapat dari perpustakaan. Ketersediaan dan kemudahan akses berbagai koleksi digital bisa jadi bukan lagi sebuah alternatif melainkan pilihan. Perkembangan dan perubahan gaya hidup juga mempengaruhi gaya belajar para generasi muda. Garis besar yang dapat ditarik dari sambutannya ialah perpustakaan sebagai center for intellectual life memerlukan action plan yang mendukung dan membantu para siswa dalam mengakses informasi.
“Perpustakaan 3.0: Perpustakaan Masa Depan dan Masa Depan Perpustakaan,” demikian judul makalah olah J. Eka Priyatma sebagai pembicara pertama. Beliau mengatakan bahwa generasi muda sebagai pemilik masa depan, mempunyai cara yang sangat berbeda khususnya dalam hal memperoleh, mengelola, memproduksi dan menyebarkan informasi dengan generasi sebelumnya. Sebagai contoh, Google, pemanfaatan search engine ini dapat melebihi katalog perpustakaan. Perpustakaan sedang menghadapi tantangan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Gadget hadir sebagai alat multifungsi yang cerdas dan memberi banyak kemudahan, ini menandai adanya konverjensi, sebuah kecenderungan kemajuan TIK. Kecenderungan lain yang harus diakui adalah disintermediasi yaitu berkurangnya kebutuhan hadirnya perantara sebuah komunikasi atau transaksi. Sebagai contoh, melalui pemanfaatan gadget yang digenggamnya mahasiswa dapat melihat katalog, berinteraksi secara praktis, dan melakukan transaksi berbagai layanan. Dalam menghadapi kemajuan TIK, dalam paparannya beliau menyampaikan saran-saran agar perpustakaan mulai berfikir untuk menyediakan fasilitas akses konten multimedia lewat jaringan internet, mengimplementasikan konsep ruang cybernetika, mengembangkan koleksi tematik yang sesuai dengan lokalitas pengguna, serta mempunyai gaya yang informal /kasual seperti di jejaring sosial.
Pembicara kedua, Dian Wulandari memaparkan makalah berjudul “Tantangan Perpustakaan di Era Digital Native”. Digital native mempunyai cara dan gaya belajar yang berbeda dari pendahulunya. Kebiasaan dan karakteristiknya sangat dipengaruhi oleh dominasi perkembangan TIK. Berjejaring melalui berbagai penyedia social media adalah dunia yang banyak dimanfaatkan. Jadi tidak ada salahnya apabila perpustakaan juga dapat menghadirkan layanan-layanannya melalui media-media social. Beliau menekankan perlunya perpustakaan  mengembangkan dan me-redesign perpustakaan dari berbagai aspek dalam menghadapi kemajuan TIK dan memberikan layanan terhadap digital natives. Misalnya, akses informasi pada web dan sistem informasi yang user friendly dengan disertai efek visual, pengembangan koleksi digital, layanan one stop searching, serta kemudahan akun untuk masuk ke banyak database elektronik.
Sementara pembicara terakhir, Labibah Zain dengan makalah Digital Natives and The Libraries What  To do? menekankan perlunya perubahan persepsi dalam pengelolaan perpustakaan dari kacamata pustakawan ke persepsi pengguna sehingga berimbas pada jenis-jenis layanan yang sesuai kebutuhan. Beliau memaparkan pentingnya akses informasi yang terbuka lebar di perpustakaan, misalnya melalui layanan mobile, koleksi digital, delivery order, learning space sesuai pilihan kebutuhan, ketersediaan sumber-sumber terbuka, kemudahan berjejaring, literasi informasi, dsb. Untuk itu perpustakaan perlu merancang sistem yang sesuai dengan karakteristik generasi yang dilayani.
Seminar diikuti hampir 70 peserta ini berlangsung cukup menarik. Asal instansi peserta sebagian besar dari perguruan tinggi, sebagian lain dari SD hingga SMA dan lembaga pemerintah. Dari beberapa peserta yang ditemui menyampaikan bahwa materi sangat bagus dan membuka wawasan yang luas bagi para pengelola perpustakaan. Antusias peserta cukup tinggi untuk mengajukan pertanyaan seputar pengelolaan pelayanan terhadap digital natives. (dz)

  kembali